Membaca Keteguhan Hidup Sri Ningsih dalam Novel Tentang Kamu.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Naila Aulia Rahmani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita sering kali merasa sudah cukup mengenal seseorang hanya karena pernah bertemu, berbincang, atau mengetahui sedikit tentang kehidupannya. Kita mungkin tahu namanya, pekerjaannya, bahkan pencapaian yang berhasil diraihnya. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa semua yang terlihat itu hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang?
Kita tidak benar-benar tahu apa yang pernah ia alami, berapa banyak kesulitan yang harus dilewati, atau hal-hal apa saja yang terpaksa ia pendam sendirian. Bisa jadi, seseorang yang terlihat baik-baik saja sebenarnya telah melewati perjalanan panjang yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Pemikiran seperti inilah yang muncul ketika saya membaca novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Novel ini membuat saya menyadari bahwa mengenal seseorang bukan hanya tentang mengetahui siapa dirinya sekarang, tetapi juga mencoba memahami perjalanan yang membawanya sampai ke titik tersebut.
Novel Tentang Kamu bercerita tentang seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnain yang mendapat tugas untuk mengurus persoalan warisan milik Sri Ningsih. Pada awalnya, tugas tersebut mungkin terlihat seperti urusan hukum biasa, terlebih karena Sri meninggalkan harta dalam jumlah besar. Namun, semakin jauh Zaman menelusuri kehidupan perempuan itu, semakin banyak hal yang ternyata perlu ia pahami. Ia mendatangi berbagai tempat dan menemui orang-orang yang pernah mengenal Sri untuk mengumpulkan potongan cerita tentang masa lalunya. Dari penelusuran tersebut, kehidupan Sri yang sebelumnya terasa jauh dan misterius perlahan mulai terbuka. Pembaca pun diajak mengikuti perjalanan seorang perempuan yang ternyata menyimpan begitu banyak pengalaman, mulai dari masa-masa sulit hingga berbagai perubahan yang membentuk kehidupannya.
Hal yang paling menarik dari kisah Sri Ningsih bukanlah jumlah harta yang ia tinggalkan atau keberhasilan yang akhirnya ia capai. Justru, bagian yang membuat kisahnya terasa berarti adalah proses panjang yang harus ia lalui sebelum sampai pada titik tersebut. Sejak kecil, Sri telah berhadapan dengan berbagai keadaan yang tidak mudah. Ia mengalami kehilangan dan harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu sesuai dengan harapannya. Meski begitu, kisahnya tidak berhenti pada apa yang membuatnya terluka. Sri tetap menjalani hidup, berusaha memenuhi kebutuhannya, bekerja, dan menghadapi perubahan yang datang silih berganti. Dari perjalanan itu, terlihat bahwa hidup tidak selalu memberi seseorang kesempatan untuk memulai dari keadaan yang baik. Ada orang-orang yang harus berusaha lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan menjalani hidup dengan layak.
Keteguhan Sri Ningsih, menurut saya, terlihat dari caranya menjalani proses tersebut. Ia bukan seseorang yang tiba-tiba berhasil tanpa melewati kesulitan. Ada masa ketika ia harus menerima keadaan yang tidak diinginkan, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan berusaha membangun kehidupannya dari apa yang ia miliki. Perjalanannya dari Pulau Bungin hingga ke berbagai tempat lain memperlihatkan bahwa hidup bisa membawa seseorang ke arah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dalam perjalanan itu, keberhasilan bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari berbagai usaha dan keputusan yang diambil sepanjang hidupnya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa kita terkadang terlalu mudah melihat keberhasilan seseorang sebagai sesuatu yang sederhana, padahal kita tidak pernah tahu seberapa panjang jalan yang harus ia tempuh untuk mencapainya.
Keteguhan Sri tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai sikap pantang menyerah. Kita sering memuji seseorang karena mampu melewati banyak kesulitan, seolah-olah orang yang kuat harus selalu bisa menghadapi semuanya tanpa merasa lelah. Padahal, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah sedih, kecewa, atau merasa kehilangan arah. Seseorang tetap bisa merasa terluka meskipun ia memilih untuk melanjutkan hidupnya. Karena itu, bagi saya, Sri Ningsih bukan sosok yang menarik hanya karena ia mampu bertahan dalam berbagai keadaan sulit. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kisahnya memperlihatkan bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan, tetapi keterbatasan tersebut tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan hidupnya. Ada kalanya seseorang harus menerima keadaan terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan cara untuk melangkah kembali.
Melalui kisah Sri, novel Tentang Kamu juga membuat saya memikirkan bagaimana manusia menghadapi hal-hal yang tidak bisa dikendalikannya. Dalam hidup, kita memang bisa merencanakan banyak hal, tetapi tidak semuanya akan berjalan sesuai keinginan. Kehilangan, perpisahan, dan perubahan bisa datang ketika seseorang belum siap menghadapinya. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memilih keadaan seperti apa yang ingin mereka jalani. Meski demikian, masih ada ruang bagi seseorang untuk menentukan langkah yang akan diambil setelah menghadapi kenyataan tersebut. Menurut saya, di situlah keteguhan Sri menemukan maknanya. Keteguhan bukan berarti mampu mengatur semua hal agar berjalan sesuai keinginan, melainkan berusaha melanjutkan hidup meskipun ada banyak hal yang tidak bisa diperbaiki atau diubah. Sikap seperti ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, sebab setiap orang tentu memiliki persoalan yang harus dihadapi dengan caranya masing-masing.
Selain perjalanan hidup Sri, cara Tere Liye menyampaikan kisahnya juga menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan. Pembaca tidak langsung mengetahui seluruh kehidupan Sri sejak awal. Sebaliknya, kita mengenalnya sedikit demi sedikit melalui penelusuran Zaman dan cerita orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Setiap pertemuan memberikan gambaran baru, seolah-olah satu potongan cerita melengkapi potongan lainnya. Cara penceritaan seperti ini membuat saya ikut merasakan bahwa memahami seseorang memang membutuhkan waktu. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan siapa dirinya hanya berdasarkan satu kejadian atau informasi yang kita dengar. Ada banyak hal yang mungkin belum kita ketahui, termasuk pengalaman masa lalu yang turut memengaruhi cara seseorang berpikir dan menjalani kehidupannya sekarang.
Perjalanan Zaman dalam mengungkap kehidupan Sri juga mengingatkan saya pada kebiasaan kita dalam menilai orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali lebih mudah memperhatikan apa yang tampak daripada mencoba memahami hal-hal yang berada di baliknya. Ketika melihat seseorang berhasil, kita mungkin langsung menganggap bahwa hidupnya berjalan dengan baik. Sebaliknya, ketika melihat seseorang berada dalam kesulitan, kita terkadang terburu-buru membuat penilaian tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Padahal, setiap orang mempunyai latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Apa yang terlihat hari ini belum tentu menggambarkan keseluruhan hidupnya. Melalui kisah Sri Ningsih, saya merasa pembaca diajak untuk sedikit memperlambat penilaian dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami cerita seseorang sebelum menarik kesimpulan tentangnya.
Hal lain yang membuat kisah Sri terasa bermakna adalah kenyataan bahwa kehidupannya tidak hanya bisa dilihat dari harta yang ditinggalkannya. Memang, persoalan warisan menjadi awal dari perjalanan Zaman untuk mengenal Sri lebih jauh. Akan tetapi, semakin banyak hal yang terungkap, semakin terasa bahwa nilai kehidupan perempuan tersebut tidak bisa diukur hanya melalui kekayaan atau pencapaian akhirnya. Ada pengalaman yang membentuk dirinya, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, serta berbagai keputusan yang ia ambil ketika menghadapi keadaan sulit. Semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang tidak langsung terlihat ketika seseorang hanya mengetahui hasil akhirnya. Bagi saya, hal ini menjadi salah satu pesan penting dari novel tersebut: kehidupan seseorang jauh lebih luas daripada hal-hal yang dapat dilihat atau dihitung oleh orang lain.
Pada akhirnya, Novel Tentangh Kamu kita bisa memandang keteguhan dengan cara yang sedikit berbeda. Sebelumnya, kekuatan mungkin mudah dipahami sebagai kemampuan untuk bangkit, mengatasi masalah, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, kisah Sri Ningsih menunjukkan bahwa perjalanan manusia tidak selalu sesederhana itu. Ada pengalaman yang membutuhkan waktu lama untuk diterima, ada kehilangan yang meninggalkan bekas, dan ada keadaan yang mungkin tidak pernah benar-benar sesuai dengan harapan. Meski begitu, seseorang tetap dapat berusaha menjalani hidup tanpa harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Menurut saya, inilah yang membuat keteguhan Sri terasa lebih manusiawi. Ia tidak perlu dipandang sebagai sosok yang selalu kuat dalam segala keadaan, sebab makna dari perjalanannya justru terletak pada usaha yang terus ia lakukan di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah.
Mungkin, pada akhirnya, kita memang tidak akan pernah mengetahui seluruh cerita hidup seseorang. Kita hanya melihat bagian-bagian tertentu dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya, sementara bagian lainnya tetap menjadi sesuatu yang tidak kita ketahui. Karena itu, saya merasa kita perlu lebih berhati-hati ketika menilai seseorang hanya berdasarkan keadaan yang terlihat sekarang. Bisa jadi, ada perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan atau pengalaman yang membuatnya menjadi pribadi seperti hari ini. Kisah Sri Ningsih mengingatkan saya bahwa memahami seseorang membutuhkan lebih dari sekadar melihat keberhasilan, kegagalan, atau apa yang dimilikinya. Sebab, terkadang, hal yang paling berharga dari mengenal seseorang bukanlah mengetahui seberapa jauh ia telah melangkah, melainkan memahami betapa panjang perjalanan yang harus ia tempuh untuk sampai ke sana.
DAFTAR PUSTAKA
Liye, T. (2016). Tentang Kamu. Republika Penerbit.
