Konten dari Pengguna

Rakyat Sudah Lama Berlayar, Kapan Sampai di Pelabuhan Sejahtera?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najwa Qurata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated by AI

Bayangkan kita berada di sebuah kapal yang sudah berlayar sangat lama. Tujuannya jelas, mencari tempat yang lebih aman dan lebih baik. Namun, selama perjalanan, kapal itu mulai mengalami banyak masalah. Ada bagian yang bocor, beberapa mesin tidak bekerja dengan baik, dan penumpangnya mulai kelelahan.

Sementara itu, nahkoda tetap berada di depan kemudi. Ia terus mengatakan bahwa kapal sedang menuju tujuan.

Namun, sampai kapan penumpang harus menunggu jika masalah di dalam kapal tak kunjung diselesaikan? Bukankah tugas nahkoda bukan sekadar menentukan arah, tetapi juga memastikan kapal tetap layak berlayar dan seluruh penumpangnya selamat?

Begitulah gambaran perjalanan Indonesia menuju kesejahteraan. Berbagai janji pembangunan dan kemajuan terus disampaikan, tetapi rakyat masih harus menghadapi persoalan yang belum sepenuhnya selesai.

Banjir, misalnya, masih menjadi salah satu bencana yang berulang. BNPB menyebut jumlah kejadian bencana di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di atas 3.000 kejadian per tahun. Pada Januari 2025 saja, banjir di Grobogan berdampak pada lebih dari 15.000 kepala keluarga, sementara di Lampung lebih dari 14.800 kepala keluarga terdampak.

Karhutla juga bukan sekadar persoalan api. Pada 2024, luas kebakaran hutan dan lahan tercatat mencapai sekitar 376.805 hektare. Asapnya pun membawa ancaman kesehatan karena mengandung partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk jauh ke paru-paru dan bahkan ke aliran darah. WHO menyebut partikulat dari asap kebakaran sebagai salah satu ancaman kesehatan utama dari kebakaran hutan.

Di sisi lain, persoalan gizi masih menghantui masa depan anak-anak. Prevalensi stunting nasional memang turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan ini patut diapresiasi, tetapi angka tersebut berarti hampir satu dari lima balita masih mengalami stunting.

Masalah pekerjaan pun belum selesai. BPS mencatat 7,46 juta orang menganggur pada Agustus 2025 dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,85 persen. Angkanya memang menurun, tetapi jutaan orang masih berada dalam kondisi belum terserap pasar kerja.

Lalu ada persoalan hukum. Masyarakat masih kerap mempertanyakan mengapa hukum terasa begitu tegas kepada mereka yang lemah, tetapi seolah berbeda ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan dan sumber daya. Ketika rasa keadilan mulai dipertanyakan, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah perkara, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Persoalan-persoalan tersebut tentu tidak bisa diselesaikan dalam semalam. Bencana tidak selalu dapat dicegah, stunting tidak dapat dihapus seketika, dan lapangan pekerjaan tidak mungkin tercipta tanpa proses. Namun, di sinilah kepemimpinan seharusnya diuji, apakah negara hanya datang ketika masalah sudah terjadi, atau mampu mencegah agar masalah yang sama tidak terus berulang?

Seorang nahkoda memang tidak bisa menghentikan badai. Tetapi ia bisa membaca cuaca, memperbaiki kapal, menentukan langkah penyelamatan, dan memastikan penumpangnya tidak menghadapi bahaya seorang diri. Begitu pula pemimpin. Ia tidak dituntut menghilangkan seluruh masalah, tetapi dituntut memastikan negara memiliki kemampuan untuk menghadapinya.

Indonesia sudah lama berlayar. Rakyat tidak menuntut laut selalu tenang atau perjalanan tanpa hambatan. Mereka hanya berharap nahkoda mampu membawa kapal melewati gelombang, menjaga kapal tetap utuh, dan memastikan tidak ada penumpang yang ditinggalkan ketika perjalanan menjadi sulit. Namun, apakah ia sudah mencoba melakukannya?

Sebab, tugas nahkoda bukan sekadar mengarahkan kapal menuju pelabuhan, tetapi memastikan seluruh penumpang dapat tiba dengan selamat. Begitu pula kepemimpinan. Persoalan bangsa mungkin tidak semuanya dapat dihindari, tetapi setiap masalah seharusnya dihadapi dengan kebijakan yang tepat, bukan dibiarkan berulang hingga rakyat terbiasa hidup dalam kesulitan.

Pada akhirnya, yang dipertanyakan bukan seberapa sering nahkoda mengatakan bahwa pelabuhan sejahtera sudah di depan mata. Yang ingin dirasakan penumpang adalah perjalanan yang benar-benar membawa mereka ke sana. Sebab, untuk apa terus berlayar jika kapal bergerak, tetapi penumpangnya tidak pernah merasa semakin dekat dengan tujuan?