Programming Televisi: Ketika Jam Tayang Bukan Lagi Segalanya

Saya Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang dengan ketertarikan pada bidang media, broadcasting, komunikasi, dan publikasi.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Najwa Krisnawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Programming televisi selama ini identik dengan menentukan program apa yang ditayangkan dan kapan penonton dapat menyaksikannya. Dulu, menonton televisi berarti tahu kapan harus menunggu.
Penonton menyesuaikan waktunya dengan jadwal yang telah ditentukan stasiun televisi. Ingin menyaksikan acara favorit? Duduk di depan televisi pada jam yang tepat. Terlambat sedikit, tayangan bisa terlewat. Tidak berada di rumah? Kesempatan menonton pun hilang.
Pada masa itu, jadwal tayang memiliki kekuatan besar. Program televisi hadir pada waktu tertentu dan penontonlah yang menyesuaikan diri.
Kini keadaannya berbeda.
Penonton tidak lagi hanya berhadapan dengan layar televisi. Dalam satu perangkat, mereka dapat berpindah dari televisi ke YouTube, TikTok, Instagram, hingga layanan streaming. Mereka bebas menentukan apa yang ingin ditonton, kapan ingin menontonnya, bahkan dapat meninggalkan satu konten dan berpindah ke konten lain dalam hitungan detik.
Yang berubah bukan hanya cara menonton, tetapi juga cara audiens menemukan sebuah tayangan.
Di media sosial, penonton bahkan tidak selalu mencari konten secara aktif. Algoritma dapat menghadirkan video berdasarkan riwayat tontonan, pencarian, interaksi, dan minat pengguna. Akibatnya, perhatian audiens semakin tersebar dan tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali jadwal televisi.
Bagi industri penyiaran, perubahan ini menghadirkan persoalan baru. Programming televisi tidak lagi hanya berhadapan dengan persaingan antarsaluran, tetapi juga dengan jutaan konten yang dapat muncul kapan saja di hadapan audiens.
Lantas, ketika penonton tidak lagi harus menunggu, bagaimana sebuah program televisi mempertahankan perhatian mereka?
Salah satu program yang menarik untuk melihat persoalan tersebut adalah Rumpi (No Secret) di Trans TV.
Programming Televisi dan Tantangan Rumpi di Era Digital
Rumpi (No Secret) merupakan program talk show Trans TV yang menghadirkan perbincangan bersama figur publik maupun sosok yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Program ini dikenal dengan Feni Rose sebagai pembawa acara yang membawa percakapan bersama para narasumber.
Hingga 2026, Rumpi masih tercantum dalam jadwal Trans TV pada pukul 14.00 WIB. Keberadaan jadwal tersebut menunjukkan bahwa pola siaran terjadwal masih menjadi bagian penting dalam programming televisi.
Jadwal tentu tetap penting. Konsistensi waktu tayang dapat membantu audiens mengenali sebuah program dan membentuk kebiasaan untuk kembali menonton.
Namun, persoalannya muncul ketika penonton tidak lagi bergantung sepenuhnya pada jadwal tersebut.
Seseorang yang tidak menyaksikan Rumpi pada pukul 14.00 WIB tetap dapat mengetahui isi perbincangannya melalui potongan video, pemberitaan, atau unggahan di media sosial. Bahkan, pernyataan seorang narasumber dalam satu episode dapat kembali menjadi perhatian publik setelah beredar di ruang digital.
Artinya, sebuah program televisi tidak selalu berakhir ketika durasi siarannya selesai.
Justru setelah tayangan berakhir, sebuah percakapan masih memiliki kemungkinan untuk ditemukan kembali oleh audiens dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah tantangan programming televisi Rumpi menjadi menarik. Persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat penonton datang pada jam tayang, tetapi bagaimana membuat program tetap relevan ketika perhatian audiens sudah bergerak ke berbagai platform.
Dari Kebiasaan Menonton ke Kebiasaan Mengikuti
Jadwal yang konsisten dapat membantu membentuk kebiasaan.
Ketika sebuah program hadir secara rutin pada waktu tertentu, audiens memiliki kesempatan untuk mengenali pola tersebut. Identitas program, karakter host, format acara, serta pengalaman yang diperoleh selama menonton juga dapat menjadi alasan bagi audiens untuk kembali.
Hal tersebut masih relevan bagi Rumpi.
Program ini memiliki identitas yang cukup mudah dikenali melalui format perbincangan, kehadiran Feni Rose, serta narasumber yang berasal dari figur publik atau sosok yang sedang menjadi perhatian.
Namun, kebiasaan menonton di era digital tidak lagi sesederhana mengingat jam tayang.
Penonton dapat melewatkan sebuah episode dan mencarinya kembali melalui platform digital. Mereka juga dapat mengenal sebuah episode bukan dari televisi, melainkan dari potongan video yang muncul di media sosial.
Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kebiasaan menonton pada pukul tertentu, tetapi kebiasaan mengikuti sebuah program di berbagai ruang.
Perubahan ini membuat hubungan antara program dan audiens menjadi lebih panjang.
Penonton bisa mengenal Rumpi dari sebuah potongan wawancara, tertarik dengan narasumbernya, kemudian mencari video lain. Dari sana, mereka dapat kembali menemukan episode berikutnya.
Dengan kata lain, televisi tetap menjadi bagian dari perjalanan audiens, tetapi bukan lagi satu-satunya titik awal.
Ketika Perhatian Penonton Bergerak ke Banyak Layar
Dalam televisi linear, susunan program dirancang agar penonton tetap berada di saluran yang sama. Sebuah program dapat menjadi penghubung dari tayangan sebelumnya menuju tayangan berikutnya.
Namun, pola tersebut menjadi semakin sulit dipertahankan ketika penonton memiliki kebebasan untuk berpindah.
Saat menonton televisi, seseorang dapat mengambil ponselnya dan membuka TikTok. Beberapa menit kemudian, ia membaca berita mengenai figur publik yang sama. Setelah itu, ia bisa saja kembali menonton televisi—atau justru terus berada di platform digital.
Perhatian audiens tidak lagi bergerak dalam satu garis lurus.
Ia berpindah dari televisi ke ponsel, dari satu platform ke platform lainnya, kemudian kembali lagi pada konten yang dianggap menarik.
Di ruang digital, algoritma turut memainkan peran dalam perjalanan tersebut. Sebuah video dapat direkomendasikan kepada pengguna berdasarkan perilaku mereka sebelumnya. Dari satu video, audiens kemudian diarahkan kepada konten lain yang dianggap relevan.
Kondisi tersebut memang menjadi tantangan bagi programming televisi. Namun, di sisi lain, ia juga membuka peluang.
Bagi Rumpi, sebuah potongan percakapan yang menarik dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan program kepada audiens yang sebelumnya tidak sedang menonton televisi.
Maka, pertanyaannya bukan lagi:
“Bagaimana membuat penonton tidak berpindah dari televisi?”
Melainkan:
“Bagaimana membuat Rumpi tetap ditemukan ketika penonton berpindah?”
Satu Episode, Banyak Titik Pertemuan
Salah satu jawabannya adalah memperlakukan satu episode bukan sebagai satu produk yang selesai dalam satu kali tayang.
Sebelum program dimulai, misalnya, rasa penasaran audiens dapat dibangun melalui teaser mengenai narasumber atau topik yang akan dibicarakan.
Ketika program berlangsung, momen percakapan yang menarik dapat dikembangkan menjadi potongan video pendek untuk platform digital. Konten seperti ini memungkinkan sebuah momen dari televisi menjangkau audiens yang sedang tidak menonton siaran langsung.
Setelah episode berakhir, percakapan masih dapat diperpanjang melalui berbagai konten lain. Cuplikan wawancara, pernyataan menarik narasumber, momen di balik layar, hingga pembahasan lanjutan dapat menjadi cara untuk mempertahankan perhatian audiens.
Dengan demikian, alurnya tidak berhenti pada:
Televisi → selesai.
Tetapi dapat berkembang menjadi:
Teaser → tayangan televisi → potongan video → interaksi digital → konten lanjutan → episode berikutnya.
Audiens yang pertama kali mengenal Rumpi melalui media sosial dapat diarahkan untuk mengenal program secara lebih utuh. Sebaliknya, penonton televisi dapat memiliki alasan untuk tetap mengikuti konten Rumpi setelah episode selesai.
Di sinilah distribusi multiplatform menjadi lebih dari sekadar mengunggah ulang acara televisi ke internet.
Setiap platform dapat memiliki fungsi sebagai titik pertemuan baru dengan audiens.
Bukan Berarti Semua Harus Mengikuti Algoritma
Namun, masuk ke ruang digital bukan berarti Rumpi harus mengejar semua hal yang sedang viral.
Algoritma memang dapat membantu sebuah konten ditemukan oleh audiens baru. Tetapi jika seluruh strategi hanya berorientasi pada apa yang sedang ramai, identitas sebuah program dapat menjadi kabur.
Padahal, identitas justru menjadi salah satu alasan audiens mengingat sebuah program.
Rumpi memiliki karakter yang berbeda dari konten hiburan pendek yang muncul secara acak di media sosial. Ada format percakapan, ada host, ada narasumber, dan ada gaya interaksi yang menjadi bagian dari pengalaman program.
Karena itu, adaptasi digital seharusnya tidak menghilangkan karakter tersebut.
Potongan video boleh mengikuti karakter masing-masing platform, tetapi tetap harus terasa sebagai bagian dari Rumpi. Audiens yang menemukan sebuah video di media sosial tetap perlu dapat mengenali bahwa konten tersebut berasal dari program yang sama.
Dengan cara ini, algoritma berfungsi untuk memperluas jangkauan, bukan menentukan sepenuhnya identitas program.
Data Bukan Sekadar Angka dalam Programming Televisi
Perubahan perilaku audiens juga membuat cara melihat keberhasilan program menjadi lebih luas.
Rating dan share tetap dapat memberikan gambaran mengenai performa program di televisi. Namun, aktivitas digital dapat memberikan informasi lain mengenai bagaimana audiens berinteraksi dengan sebuah tayangan.
Konten mana yang paling banyak ditonton? Momen mana yang membuat audiens bertahan? Topik apa yang paling banyak dibicarakan? Narasumber mana yang menghasilkan interaksi tinggi?
Pertanyaan semacam ini dapat membantu tim program membaca perilaku audiens dan menentukan strategi untuk episode berikutnya.
Namun, data digital tidak dapat disamakan begitu saja dengan rating televisi.
Jumlah penonton sebuah video pendek tidak otomatis menunjukkan jumlah penonton televisinya. Setiap platform memiliki karakter audiens, pola konsumsi, dan sistem pengukuran yang berbeda.
Karena itu, data sebaiknya digunakan untuk memahami perjalanan audiens, bukan sekadar mengejar angka terbesar.
Penonton Tidak Hilang, Mereka Berubah
Perubahan teknologi tidak otomatis membuat televisi kehilangan penontonnya.
Yang berubah adalah cara penonton berhubungan dengan televisi.
Mereka masih dapat menonton program secara langsung, tetapi mereka juga dapat menemukan potongan tayangan melalui media sosial. Mereka dapat mengenal seorang narasumber melalui video pendek, kemudian mencari wawancara lengkapnya. Mereka juga dapat melewatkan sebuah episode dan tetap mengikuti pembahasannya melalui konten digital.
Dengan kondisi tersebut, programming televisi tidak lagi cukup hanya memikirkan program apa yang ditayangkan dan kapan program tersebut ditayangkan.
Pertanyaannya menjadi lebih luas:
Bagaimana sebuah program tetap hidup dalam perhatian audiens setelah jam tayangnya berakhir?
Bagi Rumpi (No Secret), jawabannya bukan dengan meninggalkan televisi. Justru kekuatan televisi tetap dapat dipertahankan melalui identitas program, format, host, dan narasumber.
Yang perlu diperluas adalah titik pertemuannya dengan audiens.
Televisi dapat menjadi awal. Media sosial dapat menjadi pengingat. Video pendek dapat menjadi pintu masuk. Konten lanjutan dapat menjaga percakapan tetap berlangsung.
Pada akhirnya, tantangan programming televisi di era digital bukan lagi bagaimana membuat penonton terus berada di depan televisi.
Tantangannya adalah membuat sebuah program tetap hadir ketika perhatian penonton berpindah.
Sebab, penonton sebenarnya tidak berhenti menonton televisi.
Mereka hanya tidak lagi menonton di satu layar saja.
