Konten dari Pengguna

Guru Tidak Selalu Benar: Mengapa Kelas Perlu Jadi Ruang Dialog

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAJWA NABILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pexels

“Guru selalu benar” adalah kalimat yang akrab bagi banyak dari kita sejak sekolah dasar. Kalaupun tak pernah diucapkan, ia terasa lewat kelas yang sunyi: guru menjelaskan di depan, murid mencatat, dan tak ada yang berani bertanya karena takut dianggap membantah.

Judul di atas bukan ajakan untuk meremehkan guru. Justru sebaliknya: guru adalah manusia yang bisa keliru dan terus belajar, sehingga kelas yang sehat adalah kelas yang memberi ruang bagi dialog, bukan sekadar kepatuhan.

Gagasan inilah yang diperjuangkan bell hooks (nama pena Gloria Jean Watkins, sengaja ditulis dengan huruf kecil), penulis, aktivis, dan pemikir feminis kulit hitam asal Amerika Serikat. Lewat karyanya Teaching to Transgress (1994), hooks menawarkan cara pandang bahwa pendidikan seharusnya menjadi praktik kebebasan, bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan.

Dari Freire ke Ruang Kelas

Pemikiran hooks banyak dipengaruhi Paulo Freire, pendidik asal Brasil yang mengkritik “pendidikan gaya bank”. Dalam model ini, murid dianggap wadah kosong yang diisi guru dengan informasi. Murid menerima, menghafal, dan mengulang.

hooks menerima kritik itu, lalu memperluasnya. Menurutnya, Freire kurang membahas bagaimana jenis kelamin, ras, dan kelas sosial membentuk pengalaman belajar. Karena itu hooks menyebut gagasannya pedagogi yang melibatkan (engaged pedagogy): belajar yang menuntut keterlibatan penuh tubuh, pikiran, dan perasaan, baik murid maupun guru.

Tiga Gagasan Kunci

1. Murid adalah subjek, bukan objek. Dalam kelas yang dibayangkan hooks, setiap suara dihargai. Pengalaman pribadi murid dipandang sebagai sumber pengetahuan, bukan gangguan bagi materi pelajaran. Kelas menjadi komunitas belajar tempat semua orang punya tanggung jawab bersama atas prosesnya.

2. Guru juga harus utuh dan berkembang. hooks menekankan bahwa guru tidak boleh menuntut murid terbuka sementara dirinya bersembunyi di balik otoritas. Guru perlu mau berbagi, rentan, dan terus belajar. Ia juga menyoroti pentingnya kesejahteraan batin pendidik, sebab guru yang kelelahan dan terasing sulit menghadirkan kelas yang hidup.

3. Pendidikan tidak lepas dari struktur kekuasaan. hooks sering menyebut sistem yang saling mengait: patriarki, kapitalisme, dan supremasi kulit putih. Sekolah bisa ikut melanggengkan ketimpangan lewat kurikulum, bahasa, dan cara menilai siapa yang dianggap “pintar”. Maka belajar kritis berarti berani mempertanyakan siapa yang diuntungkan oleh pengetahuan yang kita terima.

Cinta dan Kegembiraan dalam Belajar

Salah satu sumbangan hooks yang paling menyentuh adalah keyakinannya bahwa pendidikan membutuhkan kepedulian, bahkan cinta, dalam arti keseriusan merawat pertumbuhan orang lain. Ia juga membela kegembiraan di kelas. Baginya, belajar yang serius tidak harus kaku dan menakutkan.

Relevansinya bagi Pendidikan Kita

Di Indonesia, budaya hierarkis masih kuat: guru dipandang sebagai sumber kebenaran, dan bertanya kerap dianggap membantah. Upaya menuju pembelajaran yang berpusat pada murid, seperti semangat “Merdeka Belajar”, sejalan dengan banyak gagasan hooks. Namun semangat itu akan kosong bila hanya berhenti pada istilah. Perlu perubahan relasi di kelas: guru yang mau mendengar, murid yang berani berpendapat, dan ruang yang aman untuk berbeda.

Pemikiran hooks juga mengingatkan kita pada isu yang dekat dengan keseharian sekolah, mulai dari kesenjangan akses antara kota dan desa, bias gender dalam buku ajar, hingga perundungan terhadap mereka yang dianggap berbeda.

Pemikiran bell hooks tidak menawarkan resep instan. Ia mengajak kita melihat kelas sebagai ruang pembebasan, tempat murid dan guru sama-sama tumbuh menjadi manusia yang utuh.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang benar, guru atau murid, melainkan bagaimana kita membangun kelas tempat kebenaran bisa dicari bersama. Mungkin sudah saatnya kita bertanya: apakah kelas kita hari ini sudah menjadi ruang dialog, atau masih sekadar ruang yang tertib?