Kesenjangan Sosial Masih Terjadi di Surabaya, Mahasiswa Yakin Mau Diem Aja?

Nanda Irfan Fathan is a new undergraduate student at Airlangga University, majoring in Management Faculty of Economics and Business. He is a Founder & CEO of Voluntiiran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nanda Irfan Fathan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa FEB UNAIR Berkolaborasi dengan Voluntiiran Lakukan Aksi Sosial
SURABAYA — Kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan tidak selalu harus diwujudkan melalui gerakan berskala besar. Upaya yang dimulai dari lingkungan sekitar, dilakukan secara konsisten, dan disertai evaluasi dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan yang lebih berkelanjutan. Semangat inilah yang dibawa Voluntiiran, organisasi sosial lingkungan yang berdiri sejak Oktober 2024 di Kota Surabaya.
Pada 2026, Voluntiiran menjalankan proyek sosial lingkungan selama enam bulan dengan menyasar sejumlah kelompok masyarakat dan kawasan alam yang membutuhkan perhatian. Sasaran kegiatan ini meliputi anak-anak di panti asuhan, lansia di panti jompo, masyarakat berkebutuhan khusus melalui yayasan disabilitas, serta kawasan konservasi alam. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Voluntiiran berupaya membangun kontribusi relawan generasi muda yang tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memperhatikan manfaat dan keberlanjutan program.
Proyek ini diinisiasi oleh pendiri Voluntiiran, Nanda Irfan Fathan, mahasiswa S1 Manajemen Universitas Airlangga. Ia menjalankan proyek bersama rekan-rekannya, yaitu Diaz Agdiansyah Hendra Kusuma dan Felisha Kintania dari program studi Manajemen angkatan 2024, serta Lova Zahra Hanan Adhitya dan Realita Revalina Putri dari program studi Ilmu Ekonomi angkatan 2024.
Tidak berhenti pada kegiatan sosial, Voluntiiran menerapkan evaluasi berkala
Salah satu hal yang menjadi perhatian Voluntiiran dalam proyek ini adalah bagaimana kegiatan sosial dapat memberikan manfaat yang relevan bagi penerima layanan. Pelaksanaan kegiatan tidak diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bagian dari proses yang perlu ditinjau kembali untuk mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik maupun yang masih membutuhkan perbaikan.
Karena itu, Voluntiiran menggabungkan pelaksanaan program dengan monitoring dan evaluasi secara berkala. Setiap lokasi yang dikunjungi menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk menyusun kegiatan berikutnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai salah satu acuan dalam menyesuaikan program dengan kebutuhan penerima manfaat dan kondisi lokasi.
Pendekatan ini juga membuka ruang bagi perubahan rencana ketika kegiatan yang telah dilaksanakan dinilai belum efektif atau kurang relevan. Dalam kondisi tersebut, program dapat disusun ulang dan lokasi terkait dapat dikunjungi kembali untuk melakukan perbaikan. Dengan demikian, keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari terlaksananya sebuah agenda, tetapi juga dari kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan sasaran dan peluang untuk mempertahankan manfaatnya.
Melalui mekanisme tersebut, Voluntiiran berupaya menghindari pendekatan yang hanya berorientasi pada kunjungan sesaat. Organisasi ini ingin menjadikan evaluasi sebagai bagian dari proses pelaksanaan kegiatan sosial dan lingkungan, sehingga pengalaman dari satu lokasi dapat menjadi pembelajaran bagi pelaksanaan program di lokasi berikutnya.
Mengunjungi 20 lokasi dan mengevaluasi efektivitas program
Selama enam bulan pelaksanaan proyek pada 2026, Voluntiiran mengunjungi total 20 lokasi yang mencakup tempat pelayanan sosial dan kawasan lingkungan. Dari keseluruhan lokasi tersebut, 16 lokasi dinilai telah memperoleh manfaat dari program yang dilaksanakan, sedangkan empat lokasi lainnya memerlukan evaluasi lebih lanjut karena program yang diberikan dinilai belum cukup efektif dan relevan.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan proyek Voluntiiran. Hasil pelaksanaan kegiatan tidak sepenuhnya seragam di setiap lokasi. Perbedaan kebutuhan penerima manfaat dan kondisi tempat kegiatan menjadi alasan penting untuk tidak menggunakan satu pendekatan yang sama tanpa mempertimbangkan situasi di lapangan.
Bagi Voluntiiran, empat lokasi yang masih memerlukan evaluasi bukan semata-mata menunjukkan kekurangan program. Kondisi tersebut juga menjadi bahan pembelajaran untuk meninjau kembali perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Sementara itu, pengalaman dari 16 lokasi lainnya menjadi dasar untuk mengidentifikasi pendekatan yang dinilai telah memberikan manfaat bagi penerima layanan.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini mengangkat sejumlah isu yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Isu tersebut mencakup kesehatan dan kesejahteraan yang baik (SDG 3), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), pengurangan ketimpangan (SDG 10), serta pelestarian ekosistem laut (SDG 14).
Keempat tujuan tersebut menggambarkan luasnya persoalan yang ingin diperhatikan melalui gerakan sosial dan lingkungan. Perhatian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kondisi alam. Namun, manfaat dari setiap kegiatan tetap perlu dipahami berdasarkan kebutuhan masing-masing lokasi dan hasil evaluasi yang dilakukan.
Voluntiiran menyadari bahwa kegiatan yang dijalankan belum menghasilkan perubahan berskala besar. Meski demikian, proyek ini diharapkan dapat membuka ruang partisipasi bagi generasi muda untuk terlibat dalam persoalan sosial dan lingkungan secara lebih terarah. Konsistensi pelaksanaan, kesediaan menerima evaluasi, serta upaya memperbaiki program menjadi bagian dari proses membangun kontribusi yang berkelanjutan.
Menutup proyek dengan harapan akan keberlanjutan gerakan
Rangkaian proyek enam bulan tersebut ditutup melalui kegiatan bersama anak-anak panti asuhan di Taman Harmoni Surabaya. Kegiatan penutupan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian proyek yang telah dijalankan Voluntiiran sekaligus momentum untuk merefleksikan pengalaman selama pelaksanaan program.
Dalam kesempatan tersebut, Nanda Irfan Fathan selaku pendiri Voluntiiran dan ketua kelompok kegiatan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya memperluas perhatian terhadap persoalan sosial di sekitar masyarakat.
“Isu sosial tidak hanya yang terlihat pada sosial media atau layar televisi Anda, tetapi banyak dari mereka yang ada dari lingkungan sekitar kita, oleh sebab itu kami hadir dan siap untuk merangkul,” ujar Nanda.
Pernyataan tersebut menegaskan pesan yang ingin dibawa Voluntiiran melalui proyeknya: persoalan sosial dan lingkungan tidak selalu berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada kebutuhan dan tantangan di sekitar masyarakat yang memerlukan perhatian, keterlibatan, serta kesediaan untuk memahami kondisi secara langsung.
Berakhirnya proyek enam bulan ini bukan berarti proses pembelajaran Voluntiiran turut berhenti. Hasil evaluasi dari 20 lokasi menjadi bekal untuk meninjau kembali program yang telah dijalankan, memperbaiki kegiatan yang belum efektif, dan menyusun pendekatan yang lebih sesuai bagi sasaran berikutnya.
Ke depan, Voluntiiran berharap dapat memperluas jangkauan gerakan sosial lingkungannya agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih berkelanjutan. Harapan tersebut tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Surabaya, tetapi juga bagi berbagai wilayah di Indonesia yang memiliki kebutuhan sosial dan tantangan lingkungan.
Melalui langkah yang bertahap, Voluntiiran ingin mendorong semakin banyak generasi muda untuk mengambil peran dalam membangun masyarakat dan menjaga lingkungan. Sebab, keberlanjutan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi juga oleh kemauan untuk mendengarkan kebutuhan, mengevaluasi kekurangan, dan terus memperbaiki upaya yang telah dilakukan.
