Konten dari Pengguna

Dua Dunia: Iswanti dan Perjuangan Keluar dari Tekanan Keluarga

Nashwa Ayu Anastasia

Nashwa Ayu Anastasia

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nashwa Ayu Anastasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ibu & Anak.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu & Anak.

Cerita ini juga memperlihatkan bagaimana seorang perempuan harus menghadapi banyak tekanan, mulai dari keluarga, perkawinan, ekonomi, sampai pandangan tentang peran perempuan.

Iswanti digambarkan sebagai perempuan yang sedang berusaha memulihkan dirinya setelah sakit tipus. Kondisi tubuhnya berubah. Rambutnya yang dulu lebat menjadi jarang, tubuhnya melemah, dan ia merasa banyak hal dalam dirinya yang hilang. Dari awal cerita saja, saya merasa bahwa penyakit yang dialami Iswanti bukan hanya membuat tubuhnya lemah, tetapi juga membuatnya semakin sadar terhadap kehidupan yang selama ini ia jalani.

Menjadi Istri yang Diinginkan Keluarga

Sejak kecil, Iswanti sudah mendapatkan gambaran tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya menjalani hidup. Ibunya menginginkan agar ia menjadi manusia yang berarti bagi keluarga, terutama sebagai istri dan ibu yang baik.

Masalahnya, kehidupan Iswanti tidak berjalan seperti yang diharapkan ibunya.

Pernikahannya bahkan dipilihkan oleh orang tuanya. Ia berusaha menjadi istri yang baik dengan mengikuti keinginan suami dan keluarganya. Namun, lingkungan keluarga suaminya justru membuatnya semakin tertekan.

Menurut saya, bagian ini cukup menarik karena Iswanti sebenarnya tidak sepenuhnya bebas menentukan kehidupannya sendiri. Ia seperti terus berpindah dari satu aturan ke aturan lain. Ketika masih bersama orang tua, ia harus mengikuti keinginan keluarga. Setelah menikah, ia harus mengikuti suami dan keluarga suaminya.

Rumah Tangga yang Tidak Memberikan Rasa Aman

Kehidupan Iswanti bersama Darwono juga jauh dari kehidupan rumah tangga yang ia bayangkan. Ia harus menghadapi ibu tiri Darwono yang menurut cerita sering membuatnya merasa tidak nyaman.

Yang paling menyakitkan adalah ketika Iswanti melihat kedekatan Darwono dengan ibu tirinya yang sudah melewati batas kewajaran.

Menurut saya, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Iswanti akhirnya memilih untuk tidak bergantung lagi kepada Darwono. Ia sudah terlalu lama menahan perasaannya hanya demi menjadi istri yang dianggap baik.

Iswanti sebenarnya sudah mencoba bertahan. Namun, menjadi istri yang baik bukan berarti harus terus menerima perlakuan yang menyakitkan.

Kanti dan Keputusan Iswanti

Konflik kembali muncul ketika Darwono meminta agar Kanti, anak mereka, ikut dengannya. Iswanti menolak karena ia tidak ingin anaknya diasuh oleh ibu tiri Darwono.

Bagi saya, keputusan Iswanti menunjukkan sisi lain dari dirinya. Ia mungkin merasa lemah secara fisik setelah sakit, tetapi secara mental ia justru mulai berani menentukan apa yang menurutnya terbaik untuk anaknya.

Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya akan berusaha menghidupi Kanti sendiri.

Kalimat tersebut sederhana, tetapi menurut saya cukup kuat. Iswanti tidak ingin lagi meminta bantuan kepada Darwono jika bantuan tersebut nantinya membuat dirinya dan Kanti harus membayar dengan sesuatu yang lain.

Masalah Keluarga yang Tidak Selesai

Selain masalah perkawinan, Iswanti juga harus menghadapi masalah ekonomi keluarganya. Gajinya ternyata selama ini diberikan kepada ibunya, sementara sebagian uang tunjangan yang seharusnya diterima juga digunakan tanpa sepengetahuannya.

Hal ini membuat Iswanti merasa kecewa. Ia mengetahui bahwa ibunya memiliki kebiasaan berjudi dan uang yang ada justru digunakan untuk memenuhi kebiasaan tersebut.

Menurut saya, konflik ini membuat kehidupan Iswanti terasa semakin berat. Ia bukan hanya menghadapi masalah sebagai seorang istri dan ibu, tetapi juga harus menghadapi persoalan keluarganya sendiri.

Pada akhirnya, Iswanti seperti berada di antara dua dunia. Di satu sisi, ia memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Di sisi lain, ia juga ingin memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Perempuan Tidak Harus Selalu Bergantung pada Laki-Laki

Hal yang paling saya suka dari cerpen ini adalah cara Iswanti memandang Kanti. Ia tidak mempermasalahkan apakah anaknya laki-laki atau perempuan. Baginya, keduanya sama dan harus dididik dengan baik serta memiliki rasa kasih kepada sesama.

Menurut saya, pemikiran ini cukup kuat jika melihat tahun ketika cerpen ini ditulis. Iswanti tidak ingin Kanti tumbuh dengan pandangan bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Ia justru ingin anaknya memiliki pemahaman bahwa manusia seharusnya diperlakukan dengan kasih dan kemanusiaan.

Di sini saya melihat Iswanti bukan hanya sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Ia juga sedang berusaha agar anaknya tidak mengalami kehidupan yang sama.

Pendapat Saya tentang Dua Dunia

Bagi saya, Dua Dunia menunjukkan bahwa menjadi perempuan tidak selalu berarti harus mengikuti semua keinginan orang lain. Iswanti memang seorang ibu, anak, dan mantan istri, tetapi ia juga memiliki keinginan dan keputusan sendiri.

Cerita ini juga membuat saya berpikir bahwa seseorang bisa terlihat lemah dari luar, tetapi sebenarnya memiliki keberanian yang besar di dalam dirinya. Kondisi Iswanti yang sakit dan lemah secara fisik justru berbanding terbalik dengan sikapnya yang semakin tegas dalam menentukan masa depan Kanti.

Menurut saya, inilah alasan Dua Dunia masih menarik untuk dibaca. Cerpen ini tidak hanya membahas masalah rumah tangga, tetapi juga memperlihatkan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan kendali atas hidupnya sendiri di tengah tuntutan keluarga dan lingkungan.