Gelisah yang Belum Selesai
Tulisan dari Naifah Nasywa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu situasi di kampus yang terasa sangat akrab bagi banyak dari kita: rapat organisasi yang digadang-gadang sebagai ruang diskusi gagasan, namun perlahan menyempit menjadi arena menjaga panggung senior. Forum yang tadinya dibuka untuk menguji ide mendadak hening begitu seseorang bertanya, “Mengapa program ini harus dijalankan seperti ini?” Di titik itu, ada kecanggungan yang menggantung. Kita tahu ada keputusan kolektif yang mengganjal atau berpotensi bermasalah, tetapi memilih diam terasa jauh lebih aman daripada dilabeli “tidak loyal” atau “pencari masalah.”
Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana, namun sangat mendasar: kapan sebenarnya kita berhenti mempertanyakan keberadaan kita di organisasi, dan mulai sekadar berlayar mengikuti arus?

Pertanyaan semacam itu yang, enam dekade lalu, secara jujur ditorehkan oleh seorang mahasiswa Sejarah Universitas Indonesia dalam buku hariannya Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie yang pertama kali diterbitkan oleh LP3ES pada 1983, empat belas tahun setelah kematiannya di Gunung Semeru bukanlah risalah politik yang disusun dengan rencana besar. Buku ini merupakan himpunan catatan harian yang disunting oleh kawan-kawannya, antara lain Ismid Hadad, Fuad Hashem, Aswab Mahasin, Ismet Natsir, dan Daniel Dhakidae. Isinya merentang luas: dari kenangan masa kecil Gie di keluarga Tionghoa-Indonesia kelas menengah, keterlibatannya dalam gelombang demonstrasi 1966 yang menuntut penurunkan harga kebutuhan pokok dan pembubaran PKI, hingga renungan pribadinya tentang cinta, kesepian, dan kecanggungan menjadi manusia muda di tengah pusaran peralihan rezim.
Mengkritik Lingkungan Sendiri
Bagian paling reflektif dari buku harian Gie bukanlah keberaniannya mengkritik kekuasaan Soekarno. Bagi mahasiswa yang turun ke jalan pada era 1966, mengkritik pemerintah adalah pilihan politik yang kolektif. Yang lebih langka,dan terasa mengganggu hingga hari ini adalah bagaimana Gie secara konsisten menaruh prasangka kritis terhadap organisasinya sendiri.
Ia menuliskan kegelisahannya saat menyaksikan aksi-aksi mahasiswa mulai disusupi agenda politik elite. Tanpa ragu, ia menunjuk kawan-kawan seperjuangannya yang mulai bertransmisi menjadi perpanjangan tangan dari kekuasaan baru yang sedang naik panggung. Bagi Gie, kesetiaan pada tujuan sebuah gerakan tidak boleh membunuh daya kritis terhadap kawan sebarisan.
Sikap Gie tersebut menghantam balik kesadaran kita hari ini: apakah kita masih pantas menyebut diri kritis jika keberanian mengkritik itu hanya menyasar pihak luar?
Di banyak organisasi kemahasiswaan, melemparkan kritik kepada rektorat, pemerintah, atau kebijakan publik terasa jauh lebih mudah dan bernilai heroik. Namun, ketika kritik tersebut diarahkan ke dalam, ke kebijakan internal lembaga, dominasi senioritas, atau keputusan kolektif yang keliru, suasana mendadak menjadi steril. Tentu, tidak semua lembaga kemahasiswaan mengidap penyakit yang sama. Namun, fenomena di mana kelompok mahasiswa sangat lantang mengkritik penguasa di luar, tetapi sangat alergi terhadap autokritik di dalam, adalah kecenderungan yang sulit kita sangkal keberadaannya.
Ketika Organisasi Bergeser Menjadi Seremoni
Tentu ada jarak konteks yang amat lebar antara era 1966 dengan dinamika hari ini. Mahasiswa 1966 berhadapan dengan situasi darurat politik, krisis ekonomi nasional, hingga ancaman fisik nyata seperti gugurnya Arief Rachman Hakim dalam bentrokan di depan Istana Negara. Menyamakan skala tekanan politik rezim otoriter dengan dinamika rapat kepanitiaan di kampus jelas merupakan perbandingan yang tidak masuk akal.
Persoalan mahasiswa hari ini tidak lagi diukur dari seberapa sering mereka turun ke jalan, melainkan dari bagaimana cara mereka mengelola ruang kebebasan dan dinamika internalnya. Di sinilah tantangan baru muncul: pergeseran dari perjuangan substansial menuju budaya formalitas dan seremoni.
Dalam beberapa aktivitas organisasi mahasiswa yang kerap kita temui, indikator keberhasilan suatu gerakan sering kali mengalami reduksi teknis. Keberhasilan acara tidak lagi diukur dari sejauh mana diskusi tersebut memantik kesadaran atau menghasilkan dampak nyata, melainkan dari jumlah peserta yang mengisi formulir pendaftaran, tingkat engagement di media sosial, atau estetika dokumentasi video kilat (reels/short).
Tidak jarang, kegiatan organisasi yang menguras energi, anggaran, dan waktu berbulan-bulan dianggap sepenuhnya selesai begitu unggahan penutup diterbitkan di Instagram. Diskusi substantif digantikan oleh barisan slogan tebal di pamflet digital. Di tingkat personal, tidak sedikit mahasiswa yang terjebak dalam tekanan untuk terus terlihat aktif dan produktif di ruang publik digital. Aktivitas kemahasiswaan, yang sejatinya menjadi sarana mengasah kepekaan sosial, perlahan bergeser fungsi menjadi panggung pencitraan diri dan pengayaan portofolio pribadi.
Bukan Meniru Gie, tapi Merawat Keraguan
Di titik ini, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam jebakan romantisasi: menjadikan Soe Hok Gie sebagai sosok pahlawan tanpa cela yang wajib ditiru. Jika kita membaca catatannya secara saksama, Gie bukanlah sosok yang sempurna. Ia kerap dihampiri keraguan, sesekali sinis, naif, dan tidak selalu tepat dalam menilai situasi politik maupun kawan-kawannya.
Nilai penting dari Catatan Seorang Demonstran justru terletak pada kemanusiaannya: kebiasaannya untuk merawat kegelisahan dan ketidaksepakatannya lewat tulisan, ketimbang menyerah pada kompromi yang tidak ia yakini.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal "apakah mahasiswa zaman sekarang lebih apatis dibanding generasi terdahulu?" Klaim semacam itu terlampau dangkal dan acap kali dilontarkan tanpa landasan historis maupun empiris yang jelas. Pertanyaan yang lebih mendesak untuk diajukan adalah: jika seorang mahasiswa hari ini menemukan kekeliruan dalam keputusan organisasinya, ruang realistis apa yang sebenarnya tersedia baginya untuk menyampaikan keberatan tanpa harus dicap pembangkang?
Mencari jawaban atas pertanyaan tersebut tidak menuntut kita untuk menjadi martir atau menciptakan konflik terbuka yang destruktif. Keberanian berbeda pendapat dapat diwujudkan melalui penguatan ruang-ruang yang rasional dan terukur: mengoptimalkan forum evaluasi agar tidak sekadar menjadi formalitas, mengembalikan diskusi internal berbasis argumen dan data, atau setidaknya membangun lingkar diskusi alternatif yang jujur di luar struktur formal.
Membaca Catatan Seorang Demonstran pada masa sekarang bukanlah upaya untuk mencari keteladanan yang patuh direplikasi secara harfiah. Buku ini hadir sebagai cermin yang memantulkan satu pertanyaan penutup bagi kita semua: apakah kita masih benar-benar kritis jika keberanian kita untuk berbeda pendapat hanya berlaku ketika yang kita kritik adalah orang lain?

