Konten dari Pengguna

Ketika Kesedihan Tidak Harus Disembunyikan: Membaca Ulang Pesan La Tahzan

Nasywa Radhiyya Rizal

Nasywa Radhiyya Rizal

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasywa Radhiyya Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menemukan makna sabar, tawakal, dan harapan dalam buku karya ‘Aidh al-Qarni

Ada kalanya kita cuma ingin bilang, “Aku capek.” Bukan karena tidak bersyukur atau ingin menyerah, tetapi karena hidup memang sedang terasa berat. Rencana berantakan, harapan tidak sesuai kenyataan, atau masa depan terasa penuh ketidakpastian.

Di tengah keadaan seperti itu, nasihat “jangan bersedih” terkadang terasa kurang membantu. Lalu, apakah seorang muslim memang tidak boleh bersedih?

Pertanyaan ini menarik ketika membaca La Tahzan: Jangan Bersedih karya ‘Aidh al-Qarni, yang diterjemahkan oleh Samson Rahman dan diterbitkan oleh Qisthi Press. Buku nonfiksi bernuansa keislaman ini berisi kumpulan nasihat tentang menghadapi kesulitan, menerima ketetapan Allah, serta menjaga harapan.

Belajar Melepaskan Masa Lalu dan Menerima Ketidakpastian

Salah satu pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah ajakan untuk tidak terus-menerus hidup dalam masa lalu. Kita mungkin pernah menyesali keputusan, kehilangan kesempatan, atau membayangkan bagaimana hidup akan berjalan jika dahulu memilih jalan berbeda.

Namun, masa lalu tidak bisa diubah. Yang masih bisa dilakukan adalah mengambil pelajaran dan menjalani hari ini dengan lebih baik. Melepaskan masa lalu bukan berarti melupakan pengalaman, melainkan tidak membiarkan penyesalan menguasai seluruh kehidupan.

Pesan ini berkaitan dengan tawakal. Kita bisa berusaha mempersiapkan masa depan, tetapi tidak sepenuhnya dapat menentukan hasilnya. Tawakal mengajarkan kita untuk melakukan bagian yang mampu diusahakan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Dengan begitu, tawakal bukan berarti berhenti berusaha atau pasrah tanpa tindakan. Ia justru mengajak kita memahami batas kendali diri dan tidak membebani diri dengan hal-hal yang memang tidak bisa dipastikan.

Bolehkah Kita Bersedih?

Judul La Tahzan mungkin terdengar seperti larangan untuk bersedih. Padahal, kehilangan, kekecewaan, dan kegagalan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Menangis atau merasa sedih tidak serta-merta menunjukkan lemahnya iman.

Pesan “jangan bersedih” dapat direnungkan sebagai ajakan agar kesedihan tidak membuat seseorang kehilangan harapan. Kita boleh mengakui bahwa keadaan sedang berat, mengambil waktu untuk memulihkan diri, dan mencari dukungan ketika membutuhkannya.

Salah satu kutipan dalam buku ini berbunyi:

“Tersenyumlah kepada siapa saja, niscaya Anda akan mendapatkan cinta kasih mereka. Haluskan tutur kata Anda niscaya mereka akan mencintaimu. Dan rendahkan hati kepada mereka niscaya mereka akan menghormati Anda.”

— ‘Aidh al-Qarni, La Tahzan

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa nasihat buku ini juga menyentuh hubungan sosial. Senyum, tutur kata yang baik, dan kerendahan hati merupakan sikap sederhana yang dapat membantu membangun hubungan yang hangat. Artinya, nilai spiritual tidak hanya menjadi pegangan pribadi, tetapi juga tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Sumber : PDF Book

Spiritualitas sebagai Sumber Penguatan

Dari sudut pandang psikologi, persoalan yang dibahas dalam La Tahzan dekat dengan pengalaman manusia, seperti kecemasan, penyesalan, kehilangan, dan kebutuhan untuk menemukan harapan. Namun, buku ini lebih banyak menawarkan pendekatan spiritual melalui doa, sabar, syukur, zikir, istigfar, dan tawakal.

Bagi sebagian orang, keyakinan kepada Allah dapat menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi kesulitan. Spiritualitas juga dapat membantu seseorang menemukan makna dalam keadaan yang tidak sesuai harapan.

Meski begitu, nasihat keagamaan tidak selalu cukup untuk menjawab setiap persoalan psikologis. Seseorang mungkin tetap membutuhkan dukungan orang terdekat atau bantuan profesional. Karena itu, buku ini lebih tepat dibaca sebagai sumber refleksi dan penguatan spiritual, bukan pengganti pertolongan psikologis maupun medis.

Kekuatan La Tahzan terletak pada pesan-pesannya yang dapat direnungkan sesuai keadaan pembaca. Namun, nasihat yang bersifat umum tetap perlu dipahami berdasarkan konteks. Kesabaran, misalnya, bukan berarti harus bertahan dalam situasi yang membahayakan atau mengabaikan kebutuhan untuk mencari pertolongan.

Menjaga Harapan di Tengah Kesulitan

Pada akhirnya, La Tahzan tidak menjanjikan kehidupan tanpa kehilangan, kegagalan, atau kesedihan. Buku ini menawarkan cara pandang bahwa kesulitan tidak harus menjadi akhir dari segalanya.

Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi ikhlas bukan berarti tidak pernah kecewa. Dan bertawakal kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha.

Barangkali, pesan paling manusiawi dari La Tahzan bukan tentang bagaimana agar kita tidak pernah bersedih, melainkan bagaimana tetap menjaga harapan ketika kesedihan datang. Sebab, kita tidak harus selalu baik-baik saja untuk tetap berusaha melanjutkan hidup.

Identitas buku: La Tahzan: Jangan Bersedih — ‘Aidh al-Qarni; penerjemah Samson Rahman; penerbit Qisthi Press.