Konten dari Pengguna

Konflik Selat Hormuz: Mengapa Ketegangan Terus Dipertahankan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Naufal Ashrop tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi (https://www.freepik.com/free-photo/lake-middle-rocky-landscape-expelling-smoke_5598219.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=ba47d945-958c-49a8-8fbd-d47892385b9a&query=Hormuz)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi (https://www.freepik.com/free-photo/lake-middle-rocky-landscape-expelling-smoke_5598219.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=ba47d945-958c-49a8-8fbd-d47892385b9a&query=Hormuz)

Konflik Selat Hormuz menciptakan siklus yang selalu berulang dengan pola yang sama namun berbahaya. Dimulai dari ancaman penutupan selat oleh pejabat militer, harga minyak dunia yang melonjak, armada kapal induk yang terus bergerak mendekat, situasi mereda, lalu hening sejenak sebelum siklus dimulai kembali. Selat selebar 21 mil yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab ini, seolah ditakdirkan untuk terus berada di ambang krisis.

Pertanyaannya sederhana. Apakah ini murni hasil persaingan geopolitik, atau ada hal lain di baliknya.

Jika memakai kacamata Copenhagen School, ketegangan di Hormuz ini bukan hanya mengenai isu militer. Ini merupakan proses sekuritisasi. Para elit politik mengangkat isu ini menjadi ancaman tingkat tinggi melaluiucapan mereka. Buzan dan Waever menjelaskan hal ini sebagai speech act, siuatu tindakan lisan yang mengubah isu biasa menjadi ancaman keamanan.

Hormuz adalah tempat yang ideal untuk itu. Memang banyak minyak dunia yang lewat disini. Tetapi narasi terkait ancaman besar terhadap ekonomi global seringkali sengaja dibesar-besarkan. Dengan begitu, isu ini naik dari ranah diplomasi biasa ke ranah keamanan darurat, di mana keputusan ekstrem diwajarkan.

Iran memakai pendekatan ini sebagai strategi untuk bertahan. Mereka tahu angkatan lautnya tidak akan menang dalam perang terbuka melawan Amerika Serikat. Maka dari itu, ancaman dengan menutup selat menjadi senjata mereka. Pesannya sendiri sudah jelas. Jika ekspor minyak Iran terhenti akibat sanksi, maka tidak ada pihak lain yang seharusnya bebas mengekspor. Dengan menjadikan Hormuz sebagai isu hidup dan mati, Iran mendorong dunia untuk memberi perhatian lebih dan menekan Amerika Serikat.

Namun Iran bukan satu-satunya yang bisa "bermain api". Amerika Serikat dan negara Teluk juga mendapat keuntungan dari narasi ancaman ini.

Bagi Amerika Serikat, ancaman terhadap kebebasan navigasi memberi dasar kuat bagi kehadiran Armada ke 5 di Bahrain. Tanpa ancaman tersebut, sulit menjelaskan kepada publik mengapa kapal induk dan ribuan tentara tersebut ditempatkan jauh dari wilayah Amerika.

Bagi negara Teluk sendiri, ketegangan di Hormuz menjadi alasan untuk transaksi militer besar-besaran. Pembelian jet tempur atau sistem pertahanan udara bernilai miliaran dolar menjadi lebih mudah diterima, karena publik percaya ada bahaya nyata di dekat wilayah mereka.

Masalah muncul ketika narasi ini menutup ruang diplomasi. Setelah isu ini dianggap ancaman keamanan, diskusi secara damai semakin sulit untuk terjadi. Semua pihak bersiaga. Risiko kesalahpahaman meningkat. Insiden kecil seperti gangguan navigasi atau drone jatuh bisa dianggap sebagai tindakan agresi.. Para aktor yang terlibat bersiap menghadapi perang yang tidak diinginkan siapa pun, karena mereka sendiri membangun gambaran ancamannya.

Ketegangan di Hormuz pada dasarnya menguntungkan semua elit politik yang terlibat. Iran butuh ketegangan untuk daya tawar. Amerika Serikat dan negara Teluk butuh ancaman itu untuk membenarkan kehadiran militer dan transaksi alutsista.

Perdamaian tidak akan muncul hanya dengan pengurangan pasukan. Diperlukan proses de-sekuritisasi, yaitu mengembalikan isu ini ke jalur diplomasi biasa. Namun selama narasi ancaman ini tetap menguntungkan elite dari kedua sisi, perairan Hormuz akan terus bergolak.