Hai, Bolehkah Aku Mengenalmu?

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entah sejak kapan, belakangan ini aku selalu memikirkanmu. Wajahmu terus terbayang di benakku, hadir di sela-sela aktivitas yang sedang kujalani, bahkan ketika aku tidak sedang memikirkan apa pun tentang cinta. Anehnya, kita bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain. Namun, entah bagaimana, sosokmu justru semakin sering memenuhi pikiranku.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Ataukah aku hanya sedang dimabuk oleh perasaan yang kubangun sendiri tanpa pernah benar-benar mengenalmu?
Aku mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum pernah menjadi bagian dari percakapan sehari-hariku bisa memiliki tempat di pikiranku? Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu istimewa di mataku. Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu darimu yang membuatku ingin melihatmu lagi dan lagi.
Awalnya, kupikir perasaan ini akan menghilang dengan sendirinya. Aku mencoba mengabaikannya, menyibukkan diri dengan berbagai hal, dan meyakinkan diriku bahwa semua ini hanyalah perasaan sesaat. Namun, semakin aku berusaha melupakannya, semakin sering pula aku mengingatmu. Seolah-olah pikiranku sengaja mempermainkanku dengan menghadirkan sosokmu pada waktu yang tidak pernah kuduga.
Lalu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku diam saja dan membiarkan perasaan ini tumbuh tanpa arah? Ataukah aku harus memberanikan diri untuk mengungkapkannya, meskipun aku tidak tahu bagaimana kamu akan menanggapinya?
Ada ketakutan yang sulit dijelaskan ketika kita ingin mendekati seseorang yang belum pernah benar-benar kita kenal. Takut jika perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan, takut jika kehadiranku justru membuatmu tidak nyaman, atau takut jika kenyataan ternyata tidak seindah bayangan yang selama ini kubangun sendiri.
Namun, aku juga mulai menyadari bahwa terus bersembunyi di balik pertanyaan tidak akan membawaku ke mana-mana. Aku tidak akan pernah mengetahui jawabannya jika hanya berani mengagumimu dari kejauhan. Barangkali, yang selama ini membuatku gelisah bukan sekadar perasaan cinta, melainkan keinginan untuk mengetahui apakah mungkin ada ruang bagiku di dalam hidupmu.
Pada akhirnya, aku menemukan satu jawaban yang terdengar sederhana, tetapi tidak mudah untuk dilakukan: aku harus mengenalmu.
Bukan berarti aku harus langsung memilikimu, apalagi menganggap bahwa perasaanku memberiku hak atas hatimu. Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk mengenal sosok di balik wajah yang selama ini menghuni pikiranku. Aku ingin tahu bagaimana caramu tertawa, apa yang membuatmu bahagia, dan apakah kita bisa menemukan sesuatu yang sama ketika akhirnya berbicara.
Jika ternyata perasaan ini hanya tumbuh dari kekagumanku sendiri, setidaknya aku akan belajar menerima kenyataan. Namun, jika ada kesempatan untuk memulai sesuatu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu hanya karena terlalu lama bersembunyi di balik keraguan.
I want you! Kalimat itu mungkin terdengar seperti keinginan sederhana untuk memiliki seseorang. Namun, bagiku, kalimat itu adalah keberanian untuk mengakui perasaan yang selama ini kusimpan diam-diam.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita akan menjadi dua orang yang saling mengenal, atau justru tetap menjadi dua orang asing yang hanya sesekali berpapasan. Aku juga tidak tahu apakah kamu akan pernah membaca tulisan ini dan menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam memikirkanmu.
Yang kutahu, aku tidak ingin selamanya hanya mengenalmu melalui bayangan di kepalaku. Sebab, terkadang, untuk mengakhiri rasa penasaran bukanlah dengan melupakan seseorang, melainkan dengan memberanikan diri mengambil langkah pertama.
Dan jika suatu hari nanti aku memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu, mungkin aku hanya akan memulainya dengan satu kalimat sederhana:
Hai, bolehkah aku mengenalmu?
