Harga Rumah yang Terasa Seperti Larangan

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu gambaran paling nyata dari sulitnya membangun kehidupan mandiri adalah persoalan kepemilikan rumah.
Bagi sebagian orang, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah merupakan simbol kemandirian, tempat untuk beristirahat setelah bekerja, dan ruang untuk membangun kehidupan bersama orang-orang yang dicintai.
Sayangnya, bagi banyak anak muda, memiliki rumah sendiri bukan lagi perkara sederhana.
Ketika melihat harga properti, kita mulai menghitung berapa lama harus menabung untuk membayar uang muka. Kita membandingkannya dengan penghasilan bulanan, kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi, dan berbagai pengeluaran lainnya. Setelah semua perhitungan dilakukan, impian tersebut terkadang terasa semakin jauh.
Kita belum tentu menginginkan rumah mewah. Rumah sederhana dengan ruang yang cukup, lingkungan yang aman, dan akses yang layak menuju tempat kerja mungkin sudah lebih dari cukup. Namun, bahkan untuk mencapai standar sederhana itu pun, kita harus mempertimbangkan kemampuan finansial dengan sangat hati-hati.
Pada akhirnya, muncul ironi dalam kehidupan generasi muda. Kita didorong untuk mandiri, tetapi biaya untuk membangun kemandirian itu semakin berat untuk dipenuhi.
Kita diminta menyiapkan masa depan, tetapi kebutuhan hari ini saja sudah menyita sebagian besar penghasilan. Kita ingin menabung, tetapi pengeluaran terus berjalan. Kita ingin berinvestasi untuk masa depan, tetapi masih harus memastikan bahwa kebutuhan dasar bulan ini dapat terpenuhi.
Tentu, tidak semua Gen Z berada dalam kondisi yang sama. Ada yang telah memiliki penghasilan tinggi, dukungan keluarga, atau akses terhadap kesempatan yang lebih luas. Namun, bagi mereka yang memulai dengan sumber daya terbatas, persoalan ini dapat menjadi hambatan yang nyata.
Karena itu, memiliki rumah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan kemampuan individu menabung. Keterjangkauan harga properti, ketersediaan hunian yang layak, akses transportasi umum, dan kesesuaian antara penghasilan dengan biaya hidup juga perlu menjadi bagian dari pembicaraan.
Sebab, rumah yang layak bukan semestinya hanya menjadi hadiah bagi mereka yang berhasil mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Rumah juga merupakan bagian penting dari kehidupan yang aman dan bermartabat.
