Ketika Negeri Ikut Menentukan Cara Kita Mencintai

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mungkin terdengar berlebihan jika mengatakan bahwa keadaan sebuah negara dapat memengaruhi kehidupan percintaan seseorang. Bukankah cinta merupakan urusan dua manusia? Bukankah perasaan seharusnya tidak tunduk pada keadaan ekonomi atau persoalan politik?
Secara ideal, mungkin demikian. Namun, manusia tidak hidup hanya dengan perasaan. Kita hidup dalam lingkungan sosial, menghadapi tuntutan ekonomi, dan bergantung pada berbagai keadaan yang tidak selalu bisa kita kendalikan.
Ketika kesempatan kerja terasa semakin sulit dijangkau, biaya hidup menjadi pertimbangan, dan kepastian masa depan semakin kabur, keputusan untuk membangun hubungan serius pun dapat terasa lebih berat.
Kita mungkin ingin menikah, tetapi masih menghitung apakah penghasilan bulanan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita ingin memiliki anak, tetapi juga memikirkan biaya pendidikan dan lingkungan seperti apa yang akan mereka hadapi kelak. Kita ingin membeli rumah, tetapi harga properti terasa semakin jauh dari jangkauan.
Bahkan sebelum semua keinginan itu terwujud, kita sudah lebih dahulu dibebani oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Dalam keadaan seperti ini, cinta bukan kehilangan maknanya. Justru, cinta menjadi sesuatu yang terasa semakin berharga sekaligus semakin menakutkan.
Kita ingin memiliki seseorang untuk melewati masa-masa sulit, tetapi kita juga takut tidak mampu memberikan kehidupan yang layak kepadanya. Kita ingin berbagi beban, tetapi khawatir justru menambah beban orang lain.
Negeri ini mungkin tidak secara langsung melarang kita untuk jatuh cinta. Namun, keadaan yang kita hadapi dapat membuat cinta terasa seperti kemewahan yang harus menunggu sampai semua persoalan selesai.
Padahal, kapan semua persoalan itu akan selesai?
