Konten dari Pengguna

Mahasiswa “Mager” Pascalebaran: Fenomena Psikologis yang Sering Disalahpahami

NAVARRO SHIRA DAENA

NAVARRO SHIRA DAENA

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAVARRO SHIRA DAENA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Unsplash

Fenomena turunnya semangat akademik mahasiswa setelah libur lebaran sudah seperti event tahunan yang pasti terjadi. Setelah menikmati liburan bersama keluarga, suasana santai bebas dari tekanan akademik, banyak mahasiswa merasa sulit untuk beradaptasi kembali ke rutinitas perkuliahan. Kondisi ini sering disebut dengan istilah “mager” atau malas gerak, yang merujuk pada kebiasaan untuk menunda pekerjaan, kurang fokus, dan menurunnya produktivitas. Namun pertanyaannya, apakah kondisi ini mencerminkan kemalasan mahasiswa atau merupakan fenomena psikologis yang kompleks?

Perubahan perilaku mahasiswa pascalebaran dapat diamati secara jelas. Selama liburan, pola hidup cenderung berubah dibanding masa perkuliahan. Waktu tidur menjadi tidak teratur, aktivitas fisik berkurang, dan sebagian besar waktu dihabiskan untuk bersantai. Ketika masa perkuliahan kembali dimulai, mahasiswa harus kembali ke rutinitas produktif, seperti bangun pagi, belajar di kelas, serta mengerjakan tugas perkuliahan. Perubahan mendadak dari kondisi yang santai ke kondisi yang menuntut untuk produktif ini sering kali menimbulkan kesulitan adaptasi. Akibatnya, muncullah perilaku seperti menunda tugas, tidak fokus di kelas, dan penurunan motivasi belajar

Namun demikian, dalam perspektif logika penyelidikan ilmiah, fenomena tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai bentuk kemalasan. Menyebut mahasiswa “malas” tanpa analisis mendalam merupakan bentuk generalisasi yang berlebihan. Dalam logika ilmiah, suatu kesimpulan harus didasarkan proses berpikir yang sistematis, rasional, dan didukung bukti yang memadai. Terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor penyebab dapat mengarah pada kesalahan berpikir atau logical fallacy

Salah satu contoh kesalahan berpikir yang sering terjadi adalah menyamakan gejala dengan penyebab. Menurunnya produktivitas mahasiswa sering dianggap bukti kemalasan, padahal bisa saja hal tersebut merupakan akibat dari faktor lain. Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk dapat membedakan korelasi dengan kausalitas. Mahasiswa terlihat kurang produktif setelah liburan bukan berarti disebabkan oleh kemalasan. Bisa jadi ada variabel lain yang memengaruhi perilaku tersebut, seperti perubahan pola tidur, kelelahan setelah perjalanan mudik, atau tekanan psikologis setelah melihat tugas yang menumpuk

Dari sudut pandang psikologi, kondisi “mager” setelah libur lebaran dapat dipahami sebagai bagian dari proses adaptasi. Liburan panjang dapat menyebabkan individu untuk keluar dari rutinitas yang biasanya ia jalani sehingga otak dan tubuh menyesuaikan diri dengan kondisi santai dan minim tekanan. Ketika libur berakhir dan rutinitas akademik kembali diberlakukan, individu membutuhkan waktu untuk melakukan adaptasi kembali. Proses ini tidak selalu berjalan secara instan, sehingga muncullah perasaan malas atau kurang termotivasi dalam menjalankan aktivitas akademik yang sebelumnya rutin dijalani

Selain itu, fenomena ini dapat juga dikaitkan dengan konsep motivasi. Selama liburan, motivasi intrinsik untuk belajar cenderung menurun karena tidak adanya tuntutan akademik yang mendesak. Ketika perkuliahan kembali dimulai, mahasiswa harus membangun ulang motivasi tersebut. Namun, proses ini tidak selalu mudah, terutama jika mahasiswa dibebani oleh tugas yang menumpuk atau sedang mengalami kelelahan mental. Dalam kondisi seperti ini, perilaku yang tampak seperti perilaku malas sebenarnya dapat menjadi indikasi rendahnya motivasi sementara, bukanlah sifat malas yang permanen

Penting juga untuk kita memahami bahwa manusia bukanlah mesin yang tidak merasa lelah ataupun dapat beralih dari satu kondisi ke kondisi lain tanpa memerlukan proses. Dalam logika ilmiah, tiap fenomena harus dilihat sebagai hasil interaksi berbagai faktor, seperti faktor internal dan eksternal. Oleh karena itu menganggap fenomena kompleks seperti penurunan motivasi mahasiswa pascalebaran menjadi sekadar “mager” merupakan bentuk kesimpulan yang kurang tepat. Pendekatan yang lebih rasional adalah dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap fenomena tersebut dan mencari solusi yang terbaik

Meskipun tidak dapat langsung disimpulkan sebagai “mager”, bukan berarti faktor kedisiplinan tidak memiliki peran sama sekali. Kedisiplinan tetap merupakan aspek penting dalam menjaga konsistensi tingkat produktivitas mahasiswa. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk mengatur waktu, menetapkan prioritas, serta membangun kebiasaan belajar yang baik. Namun, pendekatan yang terlalu menekankan pada kedisiplinan tanpa memahami kondisi psikologis individu dapat menimbulkan tekanan yang justru memperburuk keadaan. Oleh karena itu, perlu adanya “jalan tengah” antara tuntutan disiplin dan pemahaman terhadap kondisi psikologis mahasiswa

Sebagai jalan tengah, mahasiswa dapat memulai kembali dengan langkah-langkah sederhana untuk mengembalikan ritme belajar, seperti mengubah kembali pola tidur, membuat jadwal aktivitas, dan mulai mengerjakan tugas-tugas yang ringan. Selain itu, penting juga untuk memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beradaptasi tanpa merasa bersalah dan overthinking secara berlebihan. Perubahan yang bertahap dan realistis cenderung lebih efektif dibandingkan dengan memaksa perubahan drastis dalam waktu singkat

Pada akhirnya, fenomena mahasiswa “mager” setelah lebaran merupakan kondisi yang dapat diobservasi dan dipahami secara rasional dan ilmiah. Meskipun terlihat sebagai sekadar bentuk kemalasan, analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor psikologis dan situasional yang memengaruhinya. Oleh karena itu, penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu sebagai hal negatif tanpa mempertimbangkan kompleksitas yang mungkin ada

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku mahasiswa yang tampak kurang produktif setelah liburan tidak sepenuhnya berarti kemalasan. Sebaliknya hal tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari proses adaptasi yang wajar. Melalui pendekatan logika penyelidikan ilmiah, kita diajak untuk memahami fenomena ini secara rasional, objektif, dan kritis. Di saat yang sama, mahasiswa tetap perlu mengembangkan kedisiplinan dalam diri sebagai upaya untuk mengembalikan ritme akademik mereka. Dengan keseimbangan antara pemahaman dan tanggung jawab, fenomena ini tidak hanya dapat dijelaskan, tetapi juga diatasi secara lebih efektif.