Konten dari Pengguna

Film Bukan Cuma Hiburan: Begini Pengaruhnya ke Remaja

naylasariputri22

naylasariputri22

Mahasiswa - Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari naylasariputri22 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar untuk "Film Bukan Cuma Hiburan: Begini Pengaruhnya ke Remaja" (Sumber : Gambar asli milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar untuk "Film Bukan Cuma Hiburan: Begini Pengaruhnya ke Remaja" (Sumber : Gambar asli milik pribadi)

Saat mendengar kata “film”, hal pertama yang mungkin terlintas adalah hiburan, popcorn, dan waktu santai setelah menjalani aktivitas seharian. Namun, sebenarnya film bukan hanya sekadar tontonan untuk mengisi waktu luang. Tanpa disadari, film dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, berpakaian, bahkan memandang kehidupan. Terutama bagi remaja yang sedang berada dalam masa mencari jati diri, film bisa menjadi salah satu hal yang ikut membentuk kepribadian dan cara mereka melihat dunia.

Remaja merupakan kelompok yang cukup dekat dengan dunia perfilman. Mulai dari film di bioskop, serial di platform streaming, hingga potongan adegan yang viral di media sosial. Banyak remaja menjadikan karakter dalam film sebagai inspirasi. Misalnya, karakter yang percaya diri dapat membuat seseorang terdorong untuk lebih berani, sementara karakter yang memiliki gaya berpakaian unik bisa memengaruhi tren fashion di kalangan remaja. Bahkan, beberapa dialog dalam film sering digunakan dalam percakapan sehari-hari karena dianggap keren atau mudah diterima oleh lingkungan.

Pengaruh film juga dapat terlihat dari cara remaja memahami hubungan sosial. Film dengan tema persahabatan, keluarga, percintaan, atau kehidupan sekolah dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang menghadapi masalah dan berinteraksi dengan orang lain. Dari cerita tersebut, remaja bisa belajar tentang pentingnya kejujuran, kerja sama, keberanian, dan menghargai orang lain. Film yang memiliki pesan positif bahkan dapat membuat penontonnya lebih peka terhadap masalah sosial yang terjadi di sekitarnya.

Namun, pengaruh film tidak selalu positif. Beberapa film menampilkan kekerasan, perilaku buruk, gaya hidup berlebihan, atau hubungan yang tidak sehat seolah-olah sebagai sesuatu yang normal. Jika ditonton tanpa sikap kritis, remaja dapat salah memahami apa yang mereka lihat. Contohnya, perilaku seorang karakter yang sebenarnya bermasalah bisa dianggap keren hanya karena karakter tersebut digambarkan sebagai tokoh utama. Di sinilah pentingnya kemampuan untuk membedakan antara hiburan dan kenyataan.

Selain perilaku, film juga dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri. Standar kecantikan, bentuk tubuh, kehidupan mewah, maupun kisah cinta yang terlalu sempurna sering muncul dalam film. Jika dibandingkan terus-menerus dengan kehidupan nyata, hal tersebut dapat membuat seseorang merasa kurang percaya diri atau menganggap hidupnya tidak menarik. Padahal, kehidupan nyata tentu tidak selalu berjalan seperti film. Tidak semua orang memiliki penampilan sempurna, kehidupan romantis yang dramatis, atau akhir cerita yang selalu bahagia.

Di sisi lain, film juga bisa menjadi jendela untuk mengenal dunia yang lebih luas. Melalui film, remaja dapat mengetahui budaya, bahasa, sejarah, dan kehidupan masyarakat dari berbagai negara. Film bertema pendidikan atau sejarah, misalnya, dapat membuat suatu materi yang terasa membosankan menjadi lebih mudah dipahami karena disampaikan melalui cerita dan visual. Bahkan, menonton film berbahasa asing dapat membantu seseorang mengenal kosakata dan cara pengucapan bahasa tersebut.

Karena itu, remaja sebenarnya tidak perlu menjauhi film hanya karena takut mendapatkan pengaruh buruk. Yang lebih penting adalah bagaimana cara memilih dan menyikapi film yang ditonton. Menonton dengan kritis berarti tidak langsung menganggap semua yang ditampilkan dalam film sebagai sesuatu yang benar atau harus ditiru. Kita dapat menikmati ceritanya, mengambil pesan positifnya, sekaligus memahami bahwa film tetap merupakan karya yang dibuat untuk menghibur dan menyampaikan sudut pandang tertentu.

Pada akhirnya, film memang bukan cuma hiburan. Di balik cerita, karakter, musik, dan visual yang menarik, terdapat pesan yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Bagi remaja, film dapat menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran, tetapi juga dapat memberikan pengaruh negatif jika ditelan mentah-mentah. Jadi, bukan masalah seberapa sering kita menonton film, melainkan seberapa bijak kita dalam memahami apa yang kita tonton.

Film boleh membuat kita tertawa, menangis, bahkan terbawa suasana. Namun setelah layar berakhir dan lampu menyala kembali, kita tetap harus menjadi diri sendiri. Karena pada akhirnya, film adalah cerita yang kita tonton, bukan kehidupan yang harus kita jalani.

Sumber:

American Psychological Association. “APA Recommendations for Healthy Teen Video Viewing.” American Psychological Association

American Psychological Association. “Reducing Social Media Use Significantly Improves Body Image in Teens, Young Adults.” 2023. American Psychological Association

Hofmans, L., & van den Bos, W. “Social learning across adolescence: A Bayesian neurocognitive perspective.” Developmental Cognitive Neuroscience, 2022.

Saljoughi, S., et al. “The developmental trajectory of the social brain: A movie-based exploration from childhood to adolescence.” Developmental Cognitive Neuroscience, 2026.