Beribadah Tanpa Merasa Diri Sudah Paling Benar

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibadah seharusnya menjadi salah satu cara manusia memperbaiki diri. Melalui doa, salat, dan berbagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, seseorang belajar tentang kesabaran, kejujuran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perjalanan spiritual manusia: semakin rajin seseorang beribadah, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah menjumpai orang yang terlihat taat menjalankan ajaran agamanya, tetapi mudah merendahkan orang lain. Ada yang rajin beribadah, tetapi gemar membicarakan keburukan sesama. Ada pula yang begitu cepat menilai seseorang hanya karena cara berpakaian, kebiasaan, atau tingkat pengetahuan agamanya dianggap berbeda. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa menjalankan ibadah dan membangun sikap rendah hati merupakan dua hal yang perlu berjalan beriringan.
Menurut saya, salah satu tantangan dalam kehidupan beragama adalah menjaga diri agar tidak merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena merasa lebih taat. Ketika seseorang mulai membandingkan ibadahnya dengan ibadah orang lain, perhatian yang semestinya digunakan untuk memperbaiki diri justru beralih menjadi keinginan untuk menilai kehidupan sesama.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda. Ada yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius, ada yang baru belajar memahami agamanya ketika dewasa, dan ada pula yang sedang berusaha kembali setelah melewati masa-masa sulit. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh pengalaman, pergulatan batin, maupun usaha seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena itu, penampilan luar tidak selalu cukup untuk menggambarkan kedalaman keimanan seseorang. Orang yang terlihat sederhana mungkin memiliki kepedulian besar terhadap sesama, sementara orang yang tampak sangat religius pun masih bisa melakukan kesalahan. Hal ini bukan berarti penampilan atau pelaksanaan ibadah tidak penting, melainkan bahwa keduanya tidak seharusnya dijadikan alasan untuk merasa memiliki kedudukan moral yang lebih tinggi.
Persoalan lain muncul ketika agama lebih sering digunakan untuk mengoreksi orang lain daripada mengevaluasi diri sendiri. Kita bisa begitu bersemangat mengingatkan kesalahan seseorang, tetapi kesulitan menerima nasihat ketika kekurangan kita sendiri dibicarakan. Kita ingin orang lain memahami ajaran agama dengan benar, tetapi terkadang lupa bahwa cara menyampaikan nasihat juga mencerminkan sikap dan kedewasaan kita.
Menegur kesalahan tentu tidak selalu keliru. Ada keadaan ketika seseorang memang perlu diingatkan agar tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Namun, nasihat yang disampaikan dengan penghinaan atau kesombongan justru dapat membuat orang merasa dijauhi. Perbedaan antara mengingatkan dan merendahkan terletak pada cara kita memperlakukan orang yang sedang melakukan kesalahan.
Hal ini juga sering terlihat di media sosial. Potongan ceramah, kutipan ayat, dan pesan keagamaan dapat menyebar dengan cepat. Sayangnya, ruang digital terkadang berubah menjadi tempat untuk saling menghakimi. Perbedaan pendapat mengenai praktik keagamaan dapat memicu perdebatan panjang, bahkan membuat orang lupa bahwa di balik setiap akun terdapat manusia yang memiliki perasaan dan pengalaman masing-masing.
Kehidupan beragama seharusnya tidak berhenti pada apa yang terlihat atau seberapa sering seseorang membicarakan ajaran Tuhan. Nilainya juga tercermin melalui perilaku sederhana, seperti menjaga ucapan, menepati janji, tidak mengambil hak orang lain, membantu ketika seseorang mengalami kesulitan, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Sikap-sikap tersebut mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang, tetapi memiliki arti penting dalam hubungan antarmanusia.
Rendah hati bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kebaikan atau merasa dirinya tidak berharga. Sikap tersebut justru menunjukkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dan masih perlu belajar. Seseorang dapat teguh menjalankan keyakinannya tanpa harus menghina orang yang berbeda pandangan. Ia juga dapat mempertahankan prinsip agama sambil tetap bersikap santun kepada orang lain.
Kita pun perlu berhati-hati ketika menilai perjalanan spiritual seseorang. Orang yang hari ini masih melakukan kesalahan belum tentu akan terus berada dalam keadaan yang sama. Begitu pula mereka yang merasa telah menjalankan banyak kebaikan tetap memiliki kemungkinan untuk keliru. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk belajar dan memperbaiki diri merupakan bentuk penghargaan terhadap proses yang sedang mereka jalani.
Mungkin, salah satu cara sederhana untuk menjaga kerendahan hati adalah dengan lebih sering memeriksa diri sendiri sebelum sibuk menilai kehidupan orang lain. Apakah ibadah membuat kita lebih sabar menghadapi perbedaan? Apakah pengetahuan agama membantu kita menjaga perkataan? Apakah kita semakin mudah mengakui kesalahan, atau justru semakin sulit menerima kritik karena merasa sudah benar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat seseorang meragukan keyakinannya, melainkan untuk mengingatkan bahwa proses memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai. Ibadah bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling suci. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjalankan keyakinannya sekaligus berusaha memperlakukan sesama dengan baik.
Kita mungkin tidak mampu mengukur kedalaman keimanan orang lain, tetapi kita dapat terus memperhatikan bagaimana keyakinan itu memengaruhi perilaku kita sendiri. Jika ibadah membuat seseorang semakin sabar, tidak mudah menghina, bersedia meminta maaf, dan mampu menghargai orang lain, maka ada nilai kehidupan yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
