Konten dari Pengguna

Hasbunallah wa Ni‘mal Wakil: Setelah Berusaha, Serahkan Hasil kepada Allah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berserah diri. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berserah diri. (Sumber: shutterstock.com).

Ada masa ketika kita sudah melakukan banyak hal, tetapi hasil yang diharapkan tetap belum datang. Kita sudah belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja sebaik mungkin, menjaga hubungan dengan orang lain, atau berusaha memperbaiki keadaan. Namun, setelah semua dilakukan, masih ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita untuk menentukan.

Di saat seperti itu, kalimat Hasbunallah wa Ni‘mal Wakil dapat menjadi pengingat yang menenangkan. Kalimat yang berarti “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung” bukan sekadar ucapan ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Di dalamnya terdapat sebuah sikap untuk tetap berusaha, kemudian mempercayakan hasil kepada Allah.

Menurut saya, bagian tersulit dari sebuah perjuangan bukan selalu ketika kita harus bekerja keras, melainkan ketika kita harus menerima bahwa hasil tidak sepenuhnya berada di tangan kita. Manusia sering merasa lebih tenang ketika segala sesuatu dapat direncanakan. Kita ingin tahu apakah usaha yang dilakukan akan berhasil, kapan hasilnya datang, dan apakah jalan yang dipilih merupakan keputusan yang tepat. Ketidakpastian sering membuat pikiran terus mencari jawaban.

Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terlalu lama memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak dapat diubah. Kegagalan di masa lalu terus diputar kembali dalam pikiran. Kesempatan yang belum datang dipenuhi kekhawatiran. Bahkan, sesuatu yang belum terjadi pun sudah membuat kita takut.

Menyerahkan hasil kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha atau menerima keadaan tanpa melakukan apa-apa. Ada perbedaan antara berserah diri dan menyerah. Berserah diri dilakukan setelah seseorang menjalankan bagian yang mampu ia lakukan, sedangkan menyerah berarti berhenti sebelum mencoba.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Seorang mahasiswa belajar untuk menghadapi ujian, lalu menerima apa pun hasil yang diperolehnya. Seseorang melamar pekerjaan, mempersiapkan diri dengan baik, kemudian menerima keputusan perusahaan. Ada pula orang yang berusaha memperbaiki hubungan, tetapi menyadari bahwa perubahan sikap orang lain bukan sesuatu yang dapat dipaksakan.

Kita memang memiliki tanggung jawab terhadap usaha, tetapi tidak memiliki kendali penuh terhadap hasil. Kesadaran tersebut justru dapat membuat seseorang menjalani proses dengan lebih tenang. Ketika berhasil, ia tidak mudah merasa bahwa semuanya terjadi hanya karena kemampuan dirinya. Ketika gagal, ia juga tidak langsung menganggap seluruh hidupnya telah berakhir.

Kepercayaan kepada Allah tidak membuat seseorang kebal dari kecewa. Rasa sedih, takut, dan lelah tetap manusiawi. Namun, keyakinan dapat menjadi tempat untuk kembali ketika pikiran sudah terlalu penuh dengan kemungkinan yang tidak dapat dikendalikan.

Ada kalanya sesuatu yang sangat kita inginkan tidak diberikan sesuai waktu yang kita harapkan. Ada pula jalan yang kita anggap baik ternyata membawa kita ke arah yang berbeda. Kita mungkin belum memahami alasannya ketika sedang menjalaninya. Yang dapat dilakukan adalah tetap memperbaiki ikhtiar sambil belajar menerima bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Hasbunallah wa Ni‘mal Wakil mengajarkan sebuah keseimbangan: bekerja tanpa merasa mampu mengendalikan semuanya dan berharap tanpa memaksa hasil datang sesuai keinginan. Kita boleh memiliki target, menyusun rencana, dan memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Namun, setelah bagian kita selesai, ada saat ketika kita perlu berhenti sejenak dan berkata dalam hati bahwa hasil terbaik kita serahkan kepada Allah.

Mungkin ketenangan bukan selalu datang ketika masalah selesai. Terkadang ketenangan muncul ketika kita mulai percaya bahwa apa pun hasil dari perjuangan ini, Allah tetap mengetahui apa yang kita lakukan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang belum mampu kita pahami.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.