Konten dari Pengguna

In This Economy, Kenapa Segelas Kopi Masih Terasa Layak Dibeli?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi segelas kopi. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi segelas kopi. (Sumber: shutterstock.com).

Ada masa ketika membeli kopi terasa seperti pengeluaran kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Tinggal memilih menu, membayar, lalu menikmati beberapa puluh menit untuk duduk, berbicara, mengerjakan tugas, atau sekadar melihat suasana sekitar. Namun, ketika kebutuhan sehari-hari semakin banyak dan uang harus digunakan dengan lebih hati-hati, segelas kopi mulai terasa seperti keputusan yang perlu dipertimbangkan.

Menariknya, kebiasaan tersebut tidak benar-benar hilang.

Di tengah banyaknya ajakan untuk berhemat, kedai kopi tetap ramai. Orang masih menyempatkan diri membeli minuman favorit sebelum bekerja, setelah kuliah, atau ketika bertemu teman. Bahkan bagi sebagian orang, membeli kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dilepaskan.

Menurut saya, persoalannya bukan sekadar apakah kopi termasuk kebutuhan atau keinginan. Ada sesuatu yang lebih sederhana di balik kebiasaan tersebut, yaitu manusia tetap membutuhkan ruang untuk menikmati hidup meskipun kondisi keuangan sedang tidak selalu longgar.

Kita memang tidak bisa menghabiskan uang sesuka hati. Ada biaya makan, transportasi, tagihan, kebutuhan kuliah, cicilan, tabungan, dan berbagai keperluan lain yang harus dipikirkan. Karena itu, setiap pengeluaran kecil jika dilakukan terlalu sering tetap dapat menjadi beban.

Segelas kopi yang terlihat murah ketika dibeli sekali mungkin terasa berbeda jika dikalikan hampir setiap hari selama sebulan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Berhemat bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati semua hal yang disukai. Yang lebih penting adalah mengetahui batas antara menikmati sesuatu dan menjadikannya kebiasaan yang mengganggu kondisi keuangan.

Seseorang bisa saja memilih tidak membeli kopi setiap hari dan menyisihkan uang untuk kebutuhan lain. Orang lain mungkin tetap membelinya beberapa kali dalam seminggu karena sudah memasukkannya ke dalam anggaran pribadi. Keduanya tidak selalu salah selama keputusan tersebut dibuat dengan sadar.

Masalahnya muncul ketika kebiasaan kecil dilakukan tanpa pernah dihitung.

Banyak pengeluaran sehari-hari terasa ringan karena nilainya tidak besar. Ongkos tambahan, makanan ringan, kopi, layanan pesan antar, atau pembelian kecil yang sebenarnya tidak direncanakan bisa terkumpul menjadi jumlah yang cukup berarti.

Kita sering kali bukan kehilangan banyak uang dalam satu transaksi besar, tetapi perlahan menghabiskannya melalui keputusan-keputusan kecil yang terus berulang.

Namun, melihat kopi hanya sebagai simbol pemborosan juga terasa kurang adil.

Bagi sebagian orang, kedai kopi bukan sekadar tempat membeli minuman. Di sana ada mahasiswa yang menyelesaikan tugas, pekerja yang mencari suasana baru, teman yang bertemu setelah lama tidak berbincang, atau seseorang yang hanya membutuhkan waktu sebentar untuk beristirahat dari rutinitas.

Harga yang dibayar bukan hanya untuk minumannya, tetapi juga untuk pengalaman yang menyertainya.

Tentu saja, pengalaman tersebut tetap memiliki batas. Jika seseorang harus berutang hanya demi mempertahankan kebiasaan nongkrong, membeli kopi tentu bukan lagi bentuk sederhana dari menikmati hidup. Begitu pula jika pengeluaran tersebut membuat kebutuhan utama terabaikan.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu memilih antara menjadi orang yang sepenuhnya hemat atau orang yang bebas menghabiskan uang.

Ada pilihan lain yang lebih realistis: tetap menikmati sesuatu, tetapi mengetahui kemampuan diri sendiri.

Kebiasaan sederhana seperti menentukan anggaran hiburan setiap bulan dapat membantu. Jika memang ingin membeli kopi, sisihkan sejumlah uang khusus untuk itu. Ketika anggarannya habis, berarti waktunya berhenti sampai periode berikutnya.

Cara seperti ini membuat seseorang tidak perlu merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu yang disukai, tetapi juga tidak kehilangan kendali terhadap keuangan.

Generasi sekarang juga hidup dalam situasi yang berbeda. Media sosial membuat kita semakin sering melihat tempat makan, kedai kopi, tren minuman, dan gaya hidup orang lain. Tanpa disadari, keinginan membeli sesuatu kadang muncul bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tidak ingin merasa tertinggal.

Di sinilah kemampuan membedakan keinginan pribadi dengan pengaruh lingkungan menjadi semakin penting.

Kita tidak harus ikut semua tren hanya karena orang lain melakukannya. Menikmati kopi karena memang menyukainya tentu berbeda dengan membeli kopi hanya karena ingin terlihat mengikuti gaya hidup tertentu.

Segelas kopi tidak akan membuat seseorang miskin. Namun, kebiasaan mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kemampuan dapat menjadi masalah jika dilakukan terus-menerus.

Sebaliknya, hidup hemat juga tidak harus berarti menghilangkan semua kesenangan kecil.

Ada kalanya seseorang memang membutuhkan sesuatu yang sederhana untuk membuat hari terasa sedikit lebih baik. Selama kebutuhan utama tetap terpenuhi dan keuangan masih terkendali, menikmati secangkir kopi bukanlah sebuah kesalahan.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan kebiasaan minum kopinya, melainkan cara kita memandang pengeluaran.

Tidak semua pengeluaran adalah pemborosan, dan tidak semua kesenangan harus dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Yang membedakan adalah apakah kita membeli karena mampu dan memilihnya dengan sadar, atau membeli karena terbawa kebiasaan tanpa memikirkan akibatnya.

Sebab, mengatur keuangan bukan tentang membuat hidup terasa serba dilarang. Mengelola uang dengan baik justru memberi kita kesempatan untuk menentukan hal-hal apa yang memang layak mendapatkan sebagian dari penghasilan kita.

Dan jika bagi seseorang jawabannya adalah segelas kopi yang dinikmati setelah hari yang melelahkan, mungkin itu bukan sekadar membeli minuman.

Mungkin itu adalah cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa di tengah banyaknya hal yang harus dipikirkan, kita masih boleh menikmati sedikit jeda.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.