Konten dari Pengguna

Mengapa Perhatian Menjadi Ukuran Harga Diri?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perhatian di medsos. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perhatian di medsos. (Sumber: iStock.com).

Pernahkah kita mengunggah Instagram Story, lalu beberapa menit kemudian berulang kali memeriksa siapa saja yang sudah melihatnya? Ketika jumlah penonton terasa sedikit, muncul keinginan untuk menghapus unggahan tersebut. Ada juga yang mulai bertanya-tanya apakah kontennya kurang menarik, apakah teman-temannya sengaja mengabaikan, atau apakah dirinya memang tidak begitu diperhatikan. Kebiasaan sederhana ini mungkin terlihat sepele, tetapi diam-diam memperlihatkan bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Awalnya, media sosial hadir sebagai sarana untuk berbagi cerita, mengabadikan momen, dan menjaga hubungan dengan orang lain. Kita bisa membagikan foto makanan, kegiatan bersama teman, perjalanan, atau sekadar potongan aktivitas sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut terkadang berubah menjadi sesuatu yang terasa seperti penilaian. Jumlah penonton, tanda suka, komentar, dan respons mulai dianggap sebagai ukuran apakah sebuah unggahan layak diperlihatkan kepada orang lain.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada keinginan untuk mendapatkan perhatian, melainkan ketika perhatian tersebut mulai menentukan bagaimana kita menilai diri sendiri. Wajar jika seseorang merasa senang ketika unggahannya mendapat banyak respons. Setiap orang tentu memiliki keinginan untuk dihargai dan diakui keberadaannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika sedikitnya respons justru membuat seseorang merasa kurang menarik, tidak penting, atau kalah dibandingkan orang lain.

Situasi seperti ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa merasa percaya diri ketika unggahannya ramai dilihat, tetapi mendadak kecewa ketika jumlah penontonnya tidak sesuai harapan. Foto yang sebelumnya dianggap bagus tiba-tiba terasa memalukan hanya karena sedikit orang yang melihatnya. Bahkan, ada yang memilih menghapus Story, kemudian mengunggah ulang konten serupa dengan harapan mendapatkan respons yang lebih banyak.

Tanpa disadari, keputusan yang seharusnya sederhana mulai dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Kita tidak lagi hanya mempertimbangkan apakah sebuah momen menyenangkan untuk dibagikan, tetapi juga memikirkan bagaimana orang akan bereaksi terhadapnya. Sesuatu yang awalnya dilakukan untuk kesenangan pribadi perlahan berubah menjadi upaya mencari pengakuan.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain turut memperkuat keadaan tersebut. Ketika melihat Story teman dipenuhi respons, kita mungkin bertanya mengapa unggahan sendiri tidak mendapatkan perhatian serupa. Padahal, setiap orang memiliki lingkaran pertemanan, waktu mengunggah, jenis konten, dan kebiasaan menggunakan media sosial yang berbeda. Banyaknya penonton tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang lebih disukai, sebagaimana sedikitnya respons juga tidak membuktikan bahwa dirinya kurang berharga.

Masalahnya, angka di layar terlihat begitu nyata sehingga mudah dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan. Kita bisa mengetahui berapa orang yang melihat sebuah unggahan, tetapi tidak mengetahui secara pasti apa yang mereka pikirkan. Ada orang yang melihat tanpa memberikan respons, ada yang melewatkan Story karena sedang sibuk, dan ada pula yang memang jarang membuka media sosial. Tidak semua hal yang terjadi di dunia digital berkaitan dengan penilaian mereka terhadap diri kita.

Kebiasaan tersebut juga memperlihatkan betapa mudahnya perhatian menjadi sesuatu yang ingin terus dikejar. Ketika mendapatkan respons yang menyenangkan, kita ingin mengulanginya. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa. Jika berlangsung terus-menerus, media sosial yang seharusnya menjadi sarana hiburan justru dapat menambah beban pikiran.

Bukan berarti kita harus berhenti mengunggah sesuatu atau mengabaikan seluruh respons dari orang lain. Media sosial tetap bisa menjadi ruang untuk berekspresi, berbagi pengalaman, dan membangun hubungan. Namun, kita perlu mengenali batas antara menikmati perhatian dan menggantungkan harga diri pada perhatian tersebut.

Salah satu cara sederhana untuk menyadarinya adalah dengan bertanya kepada diri sendiri sebelum menghapus sebuah unggahan. Apakah kita memang tidak menyukai kontennya, atau hanya kecewa karena respons yang diterima terlalu sedikit? Pertanyaan ini dapat membantu kita memahami alasan di balik keputusan yang terlihat sepele. Jika sebuah foto atau cerita memang ingin dibagikan, sedikitnya jumlah penonton tidak harus menjadi alasan untuk merasa malu.

Kita juga perlu mengingat bahwa kehidupan seseorang jauh lebih luas daripada apa yang terlihat di layar. Ada hubungan yang tetap bermakna meskipun jarang muncul di media sosial, pencapaian yang tidak pernah diunggah, dan kebahagiaan yang tidak membutuhkan pengakuan publik. Tidak semua pengalaman harus mendapatkan respons agar memiliki arti.

Barangkali, yang perlu kita ubah bukan cara mengunggah Story, melainkan cara memandang perhatian orang lain. Respons positif boleh dinikmati, tetapi ketiadaannya tidak perlu dianggap sebagai penolakan. Kita tetap memiliki kualitas, pengalaman, dan nilai diri yang tidak bisa diukur hanya melalui angka penonton.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.