Menjadi Orang Baik Tidak Harus Selalu Mengiyakan Semua Keinginan Orang Lain

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang sulit mengatakan tidak meskipun sebenarnya sedang lelah. Ketika teman meminta bantuan, ia mengiyakan. Saat seseorang membutuhkan tempat bercerita, ia tetap mendengarkan meskipun dirinya sendiri sedang memiliki banyak masalah. Bahkan untuk hal sederhana sekalipun, ia sering memilih mengalah karena takut membuat orang lain kecewa.
Kebiasaan seperti ini terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan, seseorang bisa lupa bahwa dirinya juga memiliki batas.
Fenomena tersebut menjadi salah satu persoalan yang diangkat dalam film People Pleaser: Si Paling Gak Enakan. Ceritanya mengikuti Karina, seorang pegawai kantoran yang terbiasa memenuhi permintaan orang-orang di sekitarnya meskipun terkadang harus mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri. Film ini mengemas persoalan tersebut melalui drama dan komedi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, persoalan people pleaser sebenarnya tidak hanya terjadi di dalam film.
Kita mungkin pernah mengalaminya sendiri. Pernah ingin menolak ajakan teman, tetapi akhirnya tetap datang. Pernah mendapat pekerjaan tambahan ketika jadwal sendiri sudah penuh, tetapi masih menjawab, “Iya, nanti aku bantu.” Pernah merasa tidak ingin meminjamkan sesuatu, tetapi tetap memberikannya karena takut dianggap pelit.
Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sebagai bentuk kebaikan.
Menurut saya, menjadi orang baik memang berarti peduli terhadap orang lain, tetapi kebaikan tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus mengabaikan dirinya sendiri.
Ada perbedaan antara membantu dengan tulus dan memaksakan diri agar selalu disukai. Ketika seseorang membantu karena memang mampu dan ingin membantu, tindakan tersebut dapat memberikan kepuasan. Namun, ketika setiap bantuan diberikan karena takut ditolak, takut dianggap jahat, atau takut kehilangan hubungan, kebaikan tersebut perlahan berubah menjadi beban.
Masalahnya, orang yang terbiasa mengatakan “iya” sering kali membuat orang lain menganggap dirinya selalu tersedia.
Sekali membantu, orang akan meminta lagi. Ketika kembali mengiyakan, permintaan berikutnya menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Tanpa disadari, terbentuk sebuah kebiasaan di mana kebutuhan orang lain selalu mendapatkan tempat, sementara kebutuhan diri sendiri terus diletakkan paling belakang.
Yang lebih sulit adalah ketika seseorang mulai merasa bersalah hanya karena ingin berkata tidak.
Padahal, menolak sebuah permintaan tidak selalu berarti menolak orangnya. Ada kalanya kita memang sedang tidak memiliki waktu, tenaga, kemampuan, atau kondisi yang memungkinkan untuk membantu.
Mengatakan, “Maaf, kali ini aku belum bisa membantu,” seharusnya tidak membuat seseorang merasa menjadi manusia yang buruk.
Kita juga perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun dari kemampuan satu pihak untuk selalu mengalah. Pertemanan, keluarga, maupun hubungan di tempat kerja membutuhkan batas yang jelas agar tidak ada pihak yang merasa terus dimanfaatkan atau terlalu terbebani.
Menetapkan batas bukan berarti menjadi egois.
Justru dengan mengetahui batas diri, seseorang dapat membantu orang lain dengan lebih tulus karena bantuan tersebut diberikan tanpa paksaan dan tanpa menyimpan rasa kesal di kemudian hari.
Film seperti People Pleaser menarik untuk dibicarakan karena persoalan yang diangkat bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Sosok yang selalu berkata “iya” bisa saja berada di sekitar kita. Bahkan, bisa jadi kita sendiri pernah menjadi orang tersebut tanpa menyadarinya.
Kita hidup dalam lingkungan yang sering mengajarkan pentingnya menjaga perasaan orang lain. Itu merupakan nilai yang baik. Namun, menjaga perasaan orang lain tidak harus dilakukan dengan mengorbankan seluruh kenyamanan diri sendiri.
Ada saatnya kita mendengarkan orang lain.
Ada saatnya kita membantu.
Ada pula saatnya kita mengatakan tidak.
Ketiga hal tersebut sama-sama penting.
Menjadi orang baik bukan berarti harus selalu tersedia selama dua puluh empat jam. Bukan pula berarti harus menerima semua permintaan agar tidak mengecewakan siapa pun. Kebaikan juga dapat hadir melalui kejujuran ketika kita mengatakan bahwa kita sedang tidak mampu membantu.
Mungkin tidak semua orang akan memahami keputusan tersebut. Ada yang mungkin kecewa atau menganggap kita berubah. Namun, kita tidak mungkin menjalani kehidupan dengan terus-menerus mengatur diri berdasarkan keinginan semua orang.
Setiap manusia memiliki waktu, tenaga, dan kemampuan yang terbatas. Karena itu, belajar mengenali batas diri bukanlah tanda bahwa kita semakin tidak peduli terhadap orang lain.
Sebaliknya, kemampuan mengatakan tidak dengan cara yang baik dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih sehat.
Film People Pleaser: Si Paling Gak Enakan mungkin mengajak penonton tertawa melalui berbagai situasi yang dialami seseorang yang sulit menolak. Namun, di balik kelucuannya terdapat persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang: keinginan untuk membuat semua orang senang tidak selalu berakhir dengan diri sendiri merasa bahagia.
Menjadi orang baik tetap penting. Tetapi menjadi baik tidak berarti harus selalu mengiyakan.
Terkadang, mengatakan “tidak” dengan jujur justru merupakan cara untuk menjaga diri agar kita tetap mampu hadir bagi orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.
