Konten dari Pengguna

Paylater: Kemudahan yang Bisa Membebani

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi paylater. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paylater. (Sumber: iStock.com).

Membeli barang kini terasa semakin mudah. Dengan beberapa kali menekan layar ponsel, seseorang bisa mendapatkan pakaian, sepatu, perlengkapan rumah, hingga barang elektronik tanpa harus membayar seluruh harganya saat itu juga. Layanan buy now, pay later atau beli sekarang, bayar nanti menawarkan kemudahan yang membuat banyak orang tertarik. Namun, di balik proses transaksi yang praktis, ada satu hal yang terkadang terlupakan: uang yang digunakan tetap harus dibayar, meskipun tidak dikeluarkan pada hari pembelian.

Kebiasaan ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika melihat barang menarik di media sosial atau menemukan diskon di aplikasi belanja, seseorang bisa langsung tergoda untuk membeli. Jika uang di rekening belum cukup, pilihan pembayaran secara cicilan terasa seperti jalan keluar. Keinginan yang sebelumnya harus ditunda kini dapat dipenuhi dalam hitungan menit. Tanpa disadari, kemudahan tersebut bisa mengubah cara seseorang mengambil keputusan keuangan.

Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata terletak pada keberadaan layanan pembayaran nanti, melainkan pada cara kita menggunakannya. Fasilitas tersebut dapat membantu mengatur arus kas apabila digunakan secara terencana dan sesuai kemampuan. Masalah mulai muncul ketika seseorang menganggap batas kredit yang tersedia sebagai tambahan penghasilan, padahal kewajiban membayar tetap menjadi tanggung jawabnya.

Misalnya, seseorang memiliki penghasilan bulanan yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk makan, transportasi, kebutuhan rumah, dan tabungan. Ketika membeli barang dengan pembayaran tertunda, ia mungkin merasa pengeluarannya belum bertambah karena uangnya tidak langsung berkurang. Namun, beberapa minggu kemudian, tagihan mulai jatuh tempo. Jika kebiasaan serupa dilakukan berulang kali, sejumlah kewajiban pembayaran dapat terkumpul dalam waktu yang berdekatan dan mengurangi uang yang tersedia untuk kebutuhan penting.

Situasi tersebut sering kali berawal dari keputusan kecil. Membeli pakaian karena sedang diskon, mengganti aksesori yang sebenarnya masih layak digunakan, atau mengikuti tren yang sedang ramai mungkin terlihat tidak bermasalah jika dilakukan sekali. Akan tetapi, ketika keputusan serupa terus berulang, pengeluaran yang semula dianggap ringan dapat berubah menjadi beban yang cukup besar.

Media sosial turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Setiap hari, kita melihat orang lain membeli barang baru, mengunjungi tempat menarik, atau mengikuti gaya hidup tertentu. Tanpa disadari, muncul keinginan untuk memiliki pengalaman yang sama. Barang yang awalnya tidak dibutuhkan perlahan terasa penting karena banyak orang memilikinya. Dalam kondisi seperti ini, layanan pembayaran nanti membuat jarak antara keinginan dan keputusan membeli menjadi semakin pendek.

Padahal, kemampuan finansial setiap orang berbeda. Barang yang terlihat biasa bagi seseorang belum tentu mudah dibeli oleh orang lain. Begitu pula dengan penghasilan, tanggungan keluarga, dan kebutuhan bulanan yang tidak dapat disamakan. Memaksakan gaya hidup hanya agar terlihat mampu dapat membuat seseorang mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan berkaitan dengan sesuatu yang diperlukan untuk menjalani kehidupan, sedangkan keinginan sering kali muncul karena ketertarikan sesaat. Keduanya tidak selalu harus dipertentangkan, tetapi kita perlu mengetahui mana yang harus didahulukan. Tidak semua barang yang bisa dibeli hari ini memang perlu dimiliki sekarang.

Sebelum menggunakan fasilitas pembayaran tertunda, ada baiknya kita memeriksa kondisi keuangan terlebih dahulu. Hitung penghasilan, pengeluaran rutin, kewajiban yang sudah berjalan, serta jumlah tagihan yang akan datang. Jangan hanya melihat besarnya cicilan per bulan, tetapi perhatikan pula total pembayaran, biaya layanan, bunga jika ada, dan konsekuensi apabila terlambat membayar. Dengan begitu, keputusan membeli tidak hanya didasarkan pada kemudahan transaksi, tetapi juga pada perhitungan yang masuk akal.

Kebiasaan menunda pembelian juga dapat membantu mengendalikan pengeluaran. Ketika menemukan barang yang menarik, kita tidak harus langsung memasukkannya ke keranjang belanja. Beri waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan apakah pembeliannya akan mengganggu anggaran. Jika setelah dipikirkan ternyata tidak terlalu penting, membatalkan niat membeli bukanlah sebuah kerugian.

Penyedia layanan keuangan digital juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan transaksi yang sehat. Informasi mengenai biaya, jadwal pembayaran, dan konsekuensi keterlambatan perlu disampaikan dengan jelas. Kemudahan penggunaan seharusnya berjalan bersama transparansi agar konsumen dapat memahami kewajiban yang mereka ambil, bukan sekadar tertarik pada proses persetujuan yang cepat.

Kita tidak perlu menganggap semua layanan pembayaran nanti sebagai sesuatu yang buruk. Dalam kondisi tertentu, fasilitas tersebut dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan yang mendesak dengan perencanaan yang tepat. Namun, kemudahan akses tidak boleh membuat kita mengabaikan kemampuan untuk membayar. Setiap transaksi tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi keuangan, bukan hanya berdasarkan seberapa mudah barang tersebut diperoleh.

Kebebasan finansial bukan berarti mampu membeli apa pun yang diinginkan. Kebebasan justru terlihat ketika seseorang dapat menentukan prioritas, menahan keinginan sesaat, dan mengambil keputusan tanpa menciptakan beban yang tidak sanggup ditanggungnya. Kita boleh menikmati kemudahan teknologi, tetapi tetap perlu memiliki kendali atas pilihan sendiri.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.