Konten dari Pengguna

Terkadang, Keberhasilan Terbesar Adalah Berhasil Melewati Hari yang Berat

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tetap kuat. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tetap kuat. (Sumber: iStock.com).

Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Bangun tidur saja membutuhkan usaha, pekerjaan menumpuk, pikiran sulit beristirahat, sementara berbagai tanggung jawab tetap menunggu untuk diselesaikan. Dalam keadaan seperti itu, menjalani aktivitas sederhana pun bisa terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat oleh orang lain.

Kita sering memahami keberhasilan melalui sesuatu yang mudah dilihat, seperti mendapatkan pekerjaan, meraih nilai tinggi, memperoleh penghasilan yang lebih baik, atau mencapai impian yang sudah lama diperjuangkan. Ukuran tersebut memang penting, tetapi kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk mencapai sesuatu yang besar setiap hari. Ada masa ketika mempertahankan diri agar tetap berjalan justru menjadi perjuangan yang paling berarti.

Menurut saya, salah satu hal yang sering dilupakan dalam membicarakan keberhasilan adalah kenyataan bahwa setiap orang memiliki keadaan yang berbeda. Seseorang mungkin mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dalam sehari karena pikirannya sedang tenang dan kondisinya mendukung. Namun, orang lain bisa saja sedang menghadapi persoalan keluarga, kesulitan keuangan, atau kekhawatiran mengenai masa depan yang tidak mudah diceritakan kepada siapa pun. Karena itu, pencapaian seseorang tidak selalu bisa dinilai hanya dari seberapa banyak hal yang berhasil ia selesaikan.

Kehidupan sehari-hari juga sering membuat kita merasa harus terus produktif. Ketika melihat orang lain bekerja, belajar, membangun usaha, atau mencapai sesuatu melalui media sosial, muncul dorongan untuk melakukan hal serupa. Kita mulai membandingkan perjalanan sendiri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih teratur. Tanpa disadari, perbandingan tersebut dapat membuat kita merasa tertinggal, meskipun sebenarnya kita sedang berusaha menghadapi tantangan yang berbeda.

Padahal, tidak semua perjuangan memiliki bentuk yang sama. Ada orang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan pertamanya. Ada yang berjuang mempertahankan pekerjaannya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pula yang berusaha menyelesaikan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi atau tanggung jawab lainnya. Dari luar, perjalanan mereka mungkin terlihat biasa saja, tetapi setiap langkah bisa membutuhkan keberanian dan ketekunan yang tidak sedikit.

Hal lain yang membuat hari-hari berat semakin sulit dijalani adalah kebiasaan menyembunyikan keadaan diri. Banyak orang tetap tersenyum ketika bertemu teman, menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, lalu kembali memikirkan persoalannya ketika sendirian. Mereka khawatir dianggap lemah jika mengakui sedang kesulitan. Akibatnya, beban yang seharusnya bisa dibicarakan justru dipendam sampai terasa semakin berat.

Kita perlu memahami bahwa mengakui kelelahan bukan berarti menyerah. Ada kalanya seseorang memang perlu berhenti sejenak, mengurangi tuntutan yang tidak mendesak, atau meminta bantuan kepada orang yang dipercaya. Beristirahat bukanlah bentuk kemalasan apabila tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu untuk pulih. Memaksakan diri terus bergerak tanpa memperhatikan kemampuan sendiri justru dapat membuat perjalanan terasa semakin sulit.

Menghargai diri sendiri juga berarti belajar menerima bahwa tidak setiap rencana akan berjalan sesuai harapan. Mungkin ada pekerjaan yang belum selesai, target yang belum tercapai, atau kesempatan yang harus ditunda. Hal-hal tersebut tidak serta-merta menjadikan seseorang gagal. Selama masih ada kemauan untuk memperbaiki keadaan dan mencoba kembali sesuai kemampuan, selalu ada ruang untuk melanjutkan langkah.

Kita pun perlu lebih berhati-hati ketika menilai kehidupan orang lain. Seseorang yang tampak kurang produktif belum tentu tidak berusaha. Orang yang memilih diam mungkin sedang membutuhkan waktu untuk menata pikirannya. Bahkan, teman yang biasanya ceria bisa saja sedang melewati masa yang tidak mudah. Sedikit empati dan kesediaan untuk mendengarkan terkadang lebih berarti daripada nasihat panjang yang diberikan tanpa memahami situasinya.

Barangkali kita terlalu sering menunggu pencapaian besar untuk merasa bangga terhadap diri sendiri. Kita ingin melihat hasil nyata sebelum mengakui bahwa usaha yang dilakukan selama ini memiliki arti. Padahal, ada hal-hal kecil yang layak dihargai, seperti tetap menyelesaikan tanggung jawab meskipun sedang kehilangan semangat, berani menghadapi persoalan yang selama ini dihindari, atau memilih mencoba lagi setelah mengalami kegagalan.

Kehidupan memang tidak selalu memberi penghargaan langsung atas setiap perjuangan. Ada usaha yang hasilnya baru terlihat setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ada pula masa ketika satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjalani hari dengan sebaik mungkin, tanpa mengetahui secara pasti kapan keadaan akan berubah. Dalam situasi seperti itu, kesabaran dan kemampuan menjaga harapan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.

Jika hari ini terasa berat, kita tidak harus memaksakan diri untuk menyelesaikan seluruh persoalan sekaligus. Menuntaskan satu pekerjaan, memenuhi kebutuhan dasar, berbicara dengan seseorang yang dipercaya, atau sekadar memberikan waktu untuk beristirahat dapat menjadi langkah yang cukup berarti. Kita boleh memiliki cita-cita tinggi, tetapi tetap perlu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menjalani proses dengan kemampuan yang ada.

Terkadang, keberhasilan terbesar bukanlah mencapai sesuatu yang membuat orang lain kagum, melainkan tetap mampu melangkah ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Tidak semua perjuangan perlu diumumkan, dan tidak semua pencapaian harus terlihat oleh orang lain agar memiliki makna.

Sebab, hidup bukan perlombaan yang mengharuskan setiap orang tiba di tujuan pada waktu yang sama. Ada yang bergerak cepat, ada yang membutuhkan lebih banyak waktu, dan ada pula yang perlu berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Selama kita masih berusaha menjaga diri, memperbaiki keadaan, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk tumbuh, hari yang berat tidak harus menjadi alasan untuk menganggap seluruh perjalanan telah gagal.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.