Konten dari Pengguna

“To Love You More” Kembali Viral, Ketika Lagu Lama Menemukan Cerita Baru

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konser Celine Dion Foto: Helmi Affandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konser Celine Dion Foto: Helmi Affandi/kumparan

Ada sesuatu yang menarik dari cara sebuah lagu lama kembali menemukan tempat di telinga generasi sekarang. Lagu yang dirilis puluhan tahun lalu tiba-tiba muncul di berbagai unggahan media sosial, digunakan untuk menggambarkan kisah cinta, kenangan, perpisahan, bahkan perasaan yang sulit dijelaskan. Salah satunya adalah “To Love You More” milik Céline Dion yang kembali ramai digunakan dalam berbagai konten digital pada 2026.

Bagi sebagian orang, lagu tersebut mungkin merupakan bagian dari masa lalu. Bagi pendengar yang lebih muda, lagu itu justru bisa menjadi sesuatu yang baru. Mereka mungkin tidak memiliki kenangan ketika lagu tersebut pertama kali populer, tetapi menemukan keterikatan emosional setelah mendengarnya melalui sebuah video yang muncul di layar ponsel.

Di situlah menariknya perjalanan sebuah lagu. Makna musik tidak selalu berhenti pada tahun ketika lagu tersebut dirilis. Ketika berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebuah lagu dapat memperoleh cerita baru dari orang-orang yang mendengarkannya.

Media sosial turut mengubah cara kita menemukan musik. Dahulu, seseorang mungkin mengenal lagu melalui radio, televisi, kaset, CD, atau rekomendasi teman. Sekarang, sebuah potongan lagu dapat muncul ketika seseorang sedang melihat video orang lain. Jika musik tersebut cocok dengan suasana video, pengguna lain ikut menggunakannya. Dalam waktu singkat, lagu yang sebelumnya tidak dikenal oleh sebagian orang dapat kembali menjadi bagian dari percakapan digital.

Namun, viralnya lagu lama bukan hanya persoalan algoritma.

Ada alasan mengapa sebuah lagu tertentu mampu bertahan melewati perubahan zaman. Melodi yang mudah dikenali, karakter vokal yang kuat, serta emosi yang dapat dipahami lintas generasi membuat sebuah karya memiliki kesempatan untuk ditemukan kembali. “To Love You More” sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu lagu populer Céline Dion, dan kembalinya perhatian terhadap lagu tersebut menunjukkan bahwa karya musik dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada tren yang melahirkannya.

Menurut saya, hal yang paling menarik bukan sekadar ketika sebuah lagu lama kembali viral, melainkan ketika lagu tersebut mulai memiliki cerita baru di tangan pendengarnya.

Seseorang mungkin menggunakan lagu itu untuk mengenang seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Orang lain mungkin menggunakannya untuk menceritakan hubungan yang tidak pernah memiliki akhir yang jelas. Ada pula yang sekadar menyukai melodinya tanpa mengetahui sejarah panjang di balik lagu tersebut.

Satu lagu bisa terdengar sama, tetapi pengalaman setiap pendengar membuat maknanya berbeda.

Itulah sebabnya musik memiliki hubungan yang begitu dekat dengan ingatan manusia. Kita sering tidak mengingat tanggal ketika sebuah peristiwa terjadi, tetapi masih mampu mengingat lagu yang terdengar ketika peristiwa itu berlangsung. Beberapa nada dapat membawa seseorang kembali kepada sebuah tempat, seseorang, atau masa yang sudah lama ditinggalkan.

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa generasi baru tidak selalu benar-benar meninggalkan budaya musik generasi sebelumnya. Mereka hanya menemukan cara yang berbeda untuk mengenalnya. Lagu lama tidak harus kembali melalui radio atau album fisik. Kini, ia bisa kembali melalui video berdurasi singkat, unggahan seseorang, atau sebuah tren yang awalnya bahkan tidak dirancang untuk menghidupkan kembali lagu tersebut.

Menariknya lagi, kembalinya “To Love You More” terjadi beriringan dengan aktivitas panggung Céline Dion pada September 2026 setelah lebih dari enam tahun. Hal tersebut membuat perjalanan lagu dan penyanyinya kembali menjadi perhatian pada waktu yang hampir bersamaan.

Namun, popularitas baru tidak selalu berarti generasi sekarang mengalami lagu tersebut dengan cara yang sama seperti pendengar terdahulu. Justru di situlah keindahannya. Setiap generasi berhak menemukan maknanya sendiri.

Bagi pendengar lama, lagu tersebut mungkin mengingatkan pada masa muda. Bagi pendengar baru, ia mungkin menjadi suara latar untuk sebuah cerita yang sedang mereka jalani hari ini. Lagu yang sama akhirnya hidup dalam dua waktu yang berbeda.

Mungkin itulah alasan musik tidak pernah benar-benar menjadi tua.

Tren bisa berganti. Platform bisa berubah. Cara orang menikmati hiburan juga terus berkembang. Namun, selama sebuah karya masih mampu membuat seseorang berhenti sejenak, mengingat sesuatu, atau merasakan emosi tertentu, karya tersebut masih memiliki tempat.

Kembalinya “To Love You More” menjadi contoh kecil bahwa masa lalu tidak selalu kembali untuk sekadar dikenang. Kadang, masa lalu muncul kembali untuk menemani cerita yang sedang berlangsung hari ini.

Dan ketika sebuah lagu lama menemukan pendengar baru, yang sebenarnya lahir kembali bukan lagunya, melainkan pengalaman manusia di dalamnya.