Konten dari Pengguna

Ilmu Manajemen di Kampus, Ternyata Dipakai Ibu Rumah Tangga Setiap Hari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Maulidya Darmadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu rumah tangga menyiapkan kebutuhan makanan keluarga. Sumber: Andrianto Anto079/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu rumah tangga menyiapkan kebutuhan makanan keluarga. Sumber: Andrianto Anto079/Pexels.

Ada satu hal yang baru saya sadari setelah belajar manajemen di kampus. Ternyata beberapa hal yang selama ini saya pelajari dari dosen sudah dilakukan ibu di rumah jauh sebelum saya mengenal istilah-istilahnya.

Contohnya soal uang belanja.

Setiap awal bulan, ibu biasanya sudah punya bayangan uang yang harus digunakan untuk apa saja. Ada uang untuk belanja dapur, listrik, kebutuhan rumah, keperluan anak, dan beberapa kebutuhan lain. Saya dulu melihatnya sebagai hal biasa. Kalau uang belanja mulai menipis, ya tinggal mengurangi belanja.

Tapi setelah belajar tentang budgeting di kampus, saya baru sadar bahwa sebenarnya ibu sedang melakukan penganggaran.

Menariknya, ibu tidak pernah membuka Excel untuk membuat laporan keuangan rumah tangga. Tidak ada tabel dengan kolom “anggaran” dan “realisasi”. Kadang catatannya hanya berupa tulisan di kertas atau sekadar mengingat jumlah uang yang masih tersisa.

Suatu hari, misalnya, harga beberapa bahan makanan naik. Kalau biasanya uang belanja cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus, kali itu ibu harus memilih mana yang memang harus dibeli dan mana yang masih bisa ditunda.

“Yang ini nanti saja belinya. Masih ada di rumah,” kira-kira seperti itu.

Kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya ada proses pengambilan keputusan di sana. Ketika satu pengeluaran bertambah, pengeluaran lain harus disesuaikan supaya uang yang tersedia tetap cukup sampai akhir bulan.

Di kampus, kita mungkin mengenalnya sebagai budget control, yaitu membandingkan rencana pengeluaran dengan kondisi sebenarnya lalu melakukan penyesuaian. Di rumah, ibu melakukannya sambil berdiri di depan rak dapur.

Hal yang sama terjadi pada persediaan.

Coba perhatikan dapur di rumah. Ada beras, minyak, gula, telur, bumbu, mi instan, sabun, dan berbagai kebutuhan lainnya. Barang-barang itu tidak boleh sampai habis bersamaan karena berarti ada banyak hal yang harus dibeli sekaligus.

Ibu biasanya punya cara sendiri untuk mengetahuinya.

Ketika mengambil minyak dan melihat botolnya tinggal sedikit, misalnya, ibu sudah tahu bahwa barang tersebut harus masuk daftar belanja berikutnya. Begitu juga ketika beras di tempat penyimpanan mulai menipis.

Saya pernah mengira ibu hanya kebetulan ingat. Ternyata setelah dipikir-pikir, ibu memang hafal pola pemakaian barang di rumah.

Beras lima kilogram kira-kira bertahan berapa lama. Minyak satu botol biasanya habis dalam berapa minggu. Telur harus dibeli kapan supaya tidak sampai kosong di kulkas.

Dalam manajemen operasi, hal seperti ini berhubungan dengan inventory management atau pengelolaan persediaan. Ada juga konsep safety stock, yaitu menyediakan cadangan agar tidak kehabisan ketika kebutuhan tiba-tiba meningkat.

Misalnya ketika ada anggota keluarga yang sedang banyak kegiatan di rumah atau ada acara tertentu, kebutuhan bahan makanan bisa meningkat. Kalau tidak ada persediaan cadangan, mau tidak mau harus belanja lagi.

Di rumah, tentu saja ibu tidak menyebutnya sebagai “safety stock”. Ibu mungkin hanya bilang, “Jangan sampai habis, nanti repot kalau mau masak.”

Kalimat sederhana itu ternyata punya logika manajemen di belakangnya.

Saya juga mulai melihat hal yang sama dari cara ibu mengatur waktu.

Pagi hari di rumah biasanya sudah cukup ramai. Ada yang harus bersiap sekolah, ada yang bekerja, ada yang harus sarapan, sementara pekerjaan rumah juga menunggu. Dalam waktu yang sama, ibu bisa memasak, mencuci, membereskan rumah, mengingatkan jadwal anggota keluarga, dan memikirkan kebutuhan untuk siang atau malam.

Kalau satu pekerjaan terlambat, pekerjaan lain bisa ikut berubah.

Misalnya, kalau memasak terlambat, waktu makan ikut mundur. Kalau belanja dilakukan terlalu siang, pekerjaan rumah yang lain bisa ikut tertunda. Karena itu, beberapa pekerjaan harus dilakukan lebih dulu.

Dulu saya melihat ibu seperti bisa mengerjakan semuanya begitu saja. Sekarang saya sadar bahwa ada proses menentukan prioritas di dalamnya.

Pekerjaan mana yang harus diselesaikan sekarang, mana yang bisa menunggu, dan mana yang bisa dilakukan sambil mengerjakan pekerjaan lain.

Di kampus, kita mengenalnya sebagai time management dan penentuan prioritas. Di rumah, bentuknya mungkin sesederhana memasak nasi terlebih dahulu karena membutuhkan waktu, kemudian sambil menunggu nasi matang ibu mengerjakan pekerjaan lain.

Tidak ada aplikasi pengingat. Tidak ada kalender digital yang penuh warna. Pengalaman bertahun-tahun membuat ibu tahu urutannya.

Hal yang paling menarik bagi saya justru terjadi ketika ibu harus mengambil keputusan dengan uang yang terbatas.

Misalnya, ada beberapa barang yang sama-sama terlihat dibutuhkan. Ada kebutuhan dapur, barang rumah tangga yang mulai rusak, dan mungkin ada keinginan membeli sesuatu yang sudah lama diincar.

Semua tidak selalu bisa dibeli sekaligus.

Akhirnya harus ada yang diprioritaskan.

Barang yang benar-benar dibutuhkan dibeli lebih dulu, sedangkan barang yang masih bisa digunakan biasanya ditunda. Kalau ada promo, ibu juga bisa mempertimbangkan apakah membeli sekarang memang lebih menguntungkan atau justru membuat pengeluaran bulan itu terlalu besar.

Di situ saya melihat konsep opportunity cost yang dulu terasa seperti istilah kuliah.

Ketika uang digunakan untuk membeli satu barang, uang tersebut tidak bisa digunakan untuk kebutuhan lain. Artinya, setiap pilihan selalu punya konsekuensi.

Bedanya, di kelas kita membahasnya lewat contoh soal. Di rumah, keputusan seperti itu benar-benar memengaruhi apa yang bisa dibeli untuk keluarga.

Bukan hanya soal uang dan barang. Mengatur keluarga juga membutuhkan koordinasi.

Ada jadwal sekolah, pekerjaan, kegiatan keluarga, sampai berbagai hal kecil yang kadang terlupakan. Ibu sering menjadi orang yang paling tahu siapa harus melakukan apa dan kapan sesuatu harus dilakukan.

“Besok jangan lupa berangkat lebih pagi.”

“Beli ini sekalian kalau pulang.”

“Nanti sore ada yang harus diambil.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa. Tapi kalau semua kebutuhan tersebut tidak ada yang mengatur, bisa saja ada yang terlupa atau pekerjaan menjadi berantakan.

Dalam manajemen, kita mengenal fungsi organizing dan leading. Ada pembagian tugas, koordinasi, komunikasi, dan pengarahan supaya tujuan bersama bisa tercapai.

Tentu saja keluarga bukan perusahaan dan ibu bukan manajer dalam arti jabatan formal. Tetapi kemampuan mengatur banyak kebutuhan dan orang dalam satu rumah memang memiliki pola yang mirip dengan prinsip manajemen.

Hal ini membuat saya berpikir ulang tentang cara kita memandang pekerjaan rumah tangga.

Pekerjaan tersebut sering terlihat seperti rutinitas yang dilakukan setiap hari. Karena dilakukan berulang-ulang, kita mungkin tidak menyadari berapa banyak keputusan yang sebenarnya harus dibuat.

Kapan harus belanja. Berapa banyak yang harus dibeli. Apa yang harus diprioritaskan. Bagaimana mengatur uang agar cukup. Apa yang harus dikerjakan lebih dulu. Bagaimana membagi tugas di rumah.

Semuanya membutuhkan pertimbangan.

Bedanya, ibu tidak mendapatkan semua kemampuan itu dari buku manajemen atau ruang kuliah. Banyak yang terbentuk dari pengalaman. Dari mencoba, salah, memperbaiki, lalu mengingat apa yang berhasil untuk dilakukan lagi di kemudian hari.

Sebagai mahasiswa manajemen, saya justru merasa ada pelajaran yang menarik dari situ.

Selama ini kita sering menganggap teori akan berguna ketika nanti bekerja di perusahaan. Kita belajar budgeting untuk memahami keuangan perusahaan, inventory management untuk mengatur persediaan, time management untuk mengatur pekerjaan, dan pengambilan keputusan untuk menentukan pilihan terbaik.

Padahal, contoh paling dekatnya mungkin ada di rumah sendiri.

Saya belajar istilah-istilah itu dari dosen, tetapi ketika pulang ke rumah, saya bisa melihat praktiknya secara langsung dari ibu.

Mungkin ibu tidak pernah mengatakan, “Hari ini saya sedang melakukan pengendalian persediaan.”

Ibu hanya bilang, “Minyaknya tinggal sedikit, besok beli.”

Dan mungkin ibu tidak pernah berkata, “Saya sedang melakukan evaluasi anggaran.”

Ibu hanya melihat uang belanja yang tersisa, lalu menyesuaikan apa yang perlu dibeli.

Dari situ saya jadi berpikir, mungkin ilmu manajemen memang tidak selalu terlihat dalam bentuk rapat, laporan, atau perusahaan besar.

Kadang ilmu itu muncul dalam bentuk yang sangat sederhana: daftar belanja di meja makan, stok beras di dapur, uang belanja yang harus cukup sampai akhir bulan, atau ibu yang mengingatkan semua orang tentang jadwal masing-masing.

Kita mungkin belajar manajemen dari dosen di kampus. Tetapi kalau mau melihat bagaimana ilmu itu benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari, coba perhatikan rumah sendiri.

Bisa jadi, selama ini kita sudah punya seorang “manajer” di rumah yang tidak pernah menyebut dirinya manajer.