Konten dari Pengguna

Gaya Hidup Hedon yang Menjebak Anak Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nazwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak muda sekarang lebih mementingkan gengsi daripada fungsi. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Anak muda sekarang lebih mementingkan gengsi daripada fungsi. Sumber: Unsplash

Di era media sosial, gaya hidup seolah menjadi bagian penting dari cara anak muda menunjukkan identitas dirinya. Barang yang digunakan, tempat nongkrong yang dikunjungi, hingga pakaian yang dikenakan terkadang dianggap sebagai ukuran keberhasilan seseorang. Tidak sedikit anak muda yang merasa perlu mengikuti tren agar tidak terlihat ketinggalan zaman atau dianggap kurang mampu oleh lingkungan pergaulannya.

Fenomena ini terlihat dari kebiasaan membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin terlihat keren. Ada yang mengganti ponsel meskipun perangkat lamanya masih berfungsi dengan baik, membeli pakaian bermerek demi menjaga penampilan, atau memaksakan diri nongkrong di tempat mahal hanya agar bisa mengikuti gaya hidup teman-temannya.

Sebenarnya, menikmati hasil kerja keras dan membeli barang yang disukai bukanlah sesuatu yang salah. Masalah muncul ketika keinginan untuk terlihat sukses lebih besar daripada kemampuan finansial yang dimiliki. Pada titik ini, seseorang tidak lagi membeli barang berdasarkan manfaatnya, tetapi berdasarkan pengakuan yang mungkin diperoleh dari orang lain.

Menurut saya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai menghadapi persoalan dalam menentukan prioritas. Gengsi perlahan menggeser fungsi, sementara kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial terkadang mengalahkan pertimbangan rasional. Jika terus dibiarkan, gaya hidup seperti ini dapat memengaruhi kondisi keuangan, cara berpikir, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

1. Media Sosial dan Tekanan untuk Terlihat Sukses

Media sosial memberikan ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan diri. Namun, platform tersebut juga dapat menciptakan tekanan sosial ketika kehidupan orang lain dijadikan standar untuk mengukur kebahagiaan dan keberhasilan pribadi.

Setiap hari, pengguna dapat melihat unggahan tentang barang mahal, liburan, restoran populer, kendaraan baru, atau gaya hidup yang terlihat mewah. Tanpa disadari, sebagian orang mulai membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di layar. Mereka merasa perlu memiliki hal serupa agar tidak terlihat tertinggal.

Persoalannya, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi seseorang secara keseluruhan. Barang mahal yang terlihat dalam sebuah unggahan tidak menunjukkan apakah pemiliknya benar-benar mampu membelinya atau justru sedang menghadapi kesulitan keuangan.

Ketika penilaian orang lain menjadi terlalu penting, keputusan konsumsi dapat berubah. Barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan mulai dianggap sebagai keharusan. Nongkrong yang seharusnya menjadi sarana bersosialisasi berubah menjadi ajang menunjukkan kemampuan ekonomi. Bahkan, pengalaman yang seharusnya dinikmati terkadang lebih dipikirkan dari segi bagaimana tampilannya ketika diunggah.

Menurut saya, persoalan utamanya bukan terletak pada media sosial semata, melainkan pada cara seseorang menggunakannya untuk menilai diri sendiri. Ketika harga diri bergantung pada komentar, jumlah tanda suka, atau pengakuan dari lingkungan, seseorang akan lebih mudah terdorong mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuannya.

Anak muda perlu memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti. Memiliki barang yang sederhana bukan berarti gagal, begitu pula menggunakan barang bermerek tidak otomatis menunjukkan keberhasilan. Nilai seseorang seharusnya tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan atau seberapa mahal tempat ia menghabiskan waktu.

2. Gengsi Mengalahkan Kebutuhan, Keuangan Menjadi Korban

Dampak gaya hidup hedon yang berorientasi pada gengsi dapat terlihat jelas dalam pengelolaan keuangan. Ketika seseorang lebih mementingkan penampilan daripada kebutuhan utama, pengeluaran menjadi sulit dikendalikan.

Misalnya, seorang mahasiswa memiliki uang bulanan yang harus digunakan untuk makan, transportasi, membeli kebutuhan kuliah, dan membayar tempat tinggal. Namun, karena ingin mengikuti gaya hidup teman-temannya, ia mengalokasikan sebagian besar uangnya untuk nongkrong, membeli pakaian baru, atau mengganti gadget. Akibatnya, uang untuk kebutuhan sehari-hari menjadi terbatas sebelum akhir bulan.

Situasi tersebut bisa semakin rumit ketika keinginan memenuhi gaya hidup dibiayai dengan paylater, kartu kredit, atau pinjaman konsumtif yang tidak diperhitungkan dengan matang. Barang yang dibeli mungkin memberikan kepuasan sesaat, tetapi tagihannya tetap harus dibayar. Jika pengeluaran terus melebihi kemampuan, seseorang dapat terjebak dalam tekanan finansial.

Hal yang perlu dikritisi adalah anggapan bahwa mengikuti gaya hidup tertentu merupakan syarat agar dapat diterima dalam pergaulan. Padahal, pertemanan yang sehat seharusnya tidak mengharuskan seseorang mengorbankan kebutuhan pokok atau berutang hanya demi menyesuaikan diri.

Bukan berarti anak muda tidak boleh menikmati uang yang dimiliki. Membeli barang yang disukai, bepergian, dan makan di tempat yang nyaman tetap boleh dilakukan selama sesuai dengan kemampuan. Yang perlu diperhatikan adalah urutan prioritasnya.

Kebutuhan pokok, kewajiban keuangan, tabungan, dan dana darurat perlu dipertimbangkan sebelum pengeluaran untuk keinginan tambahan. Dengan cara ini, seseorang tetap dapat menikmati hidup tanpa harus mengorbankan kestabilan keuangannya.

Menurut saya, kemampuan mengelola uang justru merupakan salah satu bentuk kedewasaan. Orang yang mampu menahan diri dari pembelian yang tidak diperlukan menunjukkan bahwa ia dapat membedakan antara kebutuhan nyata dan dorongan untuk mendapatkan pengakuan sosial.

3. Mengubah Pola Pikir: Membeli karena Butuh, Bukan karena Ingin Diakui

Menghadapi gaya hidup yang berorientasi pada gengsi tidak cukup hanya dengan menyuruh anak muda berhenti membeli barang mahal. Perubahan yang lebih penting adalah membangun pola pikir bahwa fungsi, manfaat, dan kemampuan finansial harus menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan konsumsi.

Langkah pertama adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah barang yang dimiliki masih berfungsi, dan apakah pembelian ini akan mengganggu kebutuhan lain?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi pembelian impulsif, terutama ketika seseorang tergoda oleh tren atau promosi di media sosial.

Langkah kedua adalah berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar. Setiap orang memiliki kondisi ekonomi, tanggung jawab, dan tujuan hidup yang berbeda. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain hanya akan membuat seseorang terus mengejar sesuatu yang belum tentu sesuai dengan kebutuhannya.

Langkah ketiga adalah membangun lingkungan pertemanan yang tidak mengukur seseorang berdasarkan barang yang dimiliki. Teman yang baik tidak seharusnya membuat seseorang merasa rendah diri karena tidak mampu mengikuti semua ajakan nongkrong atau membeli barang tertentu. Justru, lingkungan yang sehat memberikan ruang bagi setiap orang untuk menentukan batas sesuai kemampuannya.

Selain itu, literasi keuangan perlu menjadi bagian penting dalam kehidupan anak muda. Memahami anggaran, tabungan, risiko utang, dan perencanaan keuangan dapat membantu mereka mengambil keputusan yang lebih rasional. Kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran dan menetapkan batas belanja juga dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, perubahan gaya hidup bukan berarti harus hidup serba kekurangan atau menolak semua bentuk kemewahan. Intinya adalah memiliki kendali atas keputusan sendiri, bukan membiarkan tekanan sosial menentukan bagaimana uang harus digunakan.

Penutup: Jangan Sampai Terlihat Kaya, tetapi Kehilangan Kendali atas Keuangan

Gaya hidup hedon yang mengutamakan gengsi daripada fungsi merupakan persoalan yang perlu diperhatikan di kalangan anak muda. Keinginan untuk tampil menarik dan diterima dalam lingkungan sosial sebenarnya wajar. Namun, ketika keinginan tersebut membuat seseorang mengabaikan kebutuhan utama dan memaksakan kemampuan finansial, ada prioritas yang perlu diperbaiki.

Menurut saya, keberhasilan tidak seharusnya diukur dari seberapa mahal barang yang dimiliki atau seberapa sering seseorang mengunjungi tempat populer. Keberhasilan juga dapat dilihat dari kemampuan mengelola keuangan, menentukan pilihan secara mandiri, dan menjalani hidup tanpa harus terus-menerus membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Kita tidak perlu membeli barang yang paling mahal jika barang yang lebih sederhana sudah mampu memenuhi kebutuhan. Kita juga tidak perlu memaksakan diri mengikuti setiap tren hanya karena takut dianggap ketinggalan zaman.

Sebab, barang seharusnya membantu kehidupan kita, bukan membuat kita bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan penilaian orang lain. Jangan sampai kita sibuk terlihat mampu di mata orang lain, tetapi justru kesulitan memenuhi kebutuhan sendiri.