Bukan Hanya Hafal Doa, Anak Usia Dini Perlu Belajar tentang Akhlak

Nelsy Fitria (Pendidikan Islam Anak Usia Dini ) MAHASISWA UINFAS bengkulu
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nelsy Fitria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak anak PAUD dan TK sudah lancar membaca doa sebelum makan atau surat-surat pendek. Orang tua tentu bangga. Namun, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah anak yang hafal doa juga sudah terbiasa berterima kasih, meminta maaf, dan menghargai temannya?
Hafalan tidak sama dengan akhlak
Hafalan adalah kemampuan mengingat dan mengucapkan, sedangkan akhlak adalah sikap yang tampak dalam keseharian. Seorang anak bisa fasih berdoa, tetapi tetap merebut mainan teman. Jika pendidikan hanya berhenti pada hafalan, nilai di balik doa tidak benar-benar tertanam.
Mengapa harus sejak dini?
Usia 0-6 tahun disebut masa emas, ketika anak mudah menyerap apa yang ia lihat dan alami. Kebiasaan baik yang dibentuk sejak kecil cenderung terbawa hingga dewasa.
Keteladanan adalah kuncinya
Anak belajar dengan meniru. Jika orang dewasa terbiasa mengucapkan "tolong", "terima kasih", dan "maaf", anak akan menirunya secara alami.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan
Membiasakan salam dan sapaan.
Melatih anak berbagi mainan atau makanan.
Mengajarkan sabar lewat kebiasaan mengantre.
Menjelaskan makna doa, misalnya doa makan sebagai tanda syukur.
Menceritakan kisah teladan tentang kejujuran dan kasih sayang.
Rumah dan sekolah harus sejalan
Sekolah menanamkan nilai, sementara rumah melatihnya setiap hari. Dengan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua, anak menerima pesan yang konsisten.
Penutup
Hafalan doa tetap berharga, tetapi tujuan akhirnya adalah anak yang berakhlak baik. Ketika doa yang dihafal sejalan dengan sikap yang santun, pendidikan karakter benar-benar berhasil
