Konten dari Pengguna

Surat Cinta untuk Sekam: Rekonsiliasi Warga Karang Tanjung dengan Limbahnya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eri Widianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukan lagi bahan buangan, sekam padi kini dipandang dengan penuh harapan oleh warga Desa Karang Tanjung, Karawang. | Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Bukan lagi bahan buangan, sekam padi kini dipandang dengan penuh harapan oleh warga Desa Karang Tanjung, Karawang. | Foto: Dok. Pribadi

KARAWANG — Ini seperti sebuah surat cinta yang terlambat. Setelah puluhan tahun mengabaikan, warga Desa Karang Tanjung akhirnya berdamai dengan sekam padi. "Kok baru sekarang ya kita mikir buat ngolah ini?" ujar Abdul Rosyid (45), staff kantor desa yang akrab disapa Pak Ocid, sambil memegang sekam yang biasanya cuma ditumpuk atau dibakar. Sebuah rekonsiliasi yang diwujudkan dengan mengubah limbah itu menjadi briket arang bernama "Briloka".

Kardiman, S.T., M.T. menyampaikan materi Teknologi Tepat Guna kepada warga Desa Karang Tanjung. | Foto: Dok. Pribadi

Dengan bimbingan dua dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), Kardiman dan Eri Widianto, warga belajar memanfaatkan limbah itu dengan cara terbaik. Kardiman memaparkan konsep Teknologi Tepat Guna dan bagaimana inovasi sederhana bisa memecahkan masalah sehari-hari warga. Sementara Eri Widianto secara detail memandu pengolahan limbah sekam padi menjadi arang briket, mulai dari pemilihan bahan, pencampuran, hingga proses pencetakan.

Eri Widianto, S.T., M.T. memandu warga dalam praktik pengolahan sekam padi menjadi briket arang. | Foto: Dok. Pribadi

Butir-butir sekam yang biasanya berakhir percuma, kini digiling, dicetak, dan diolah menjadi briket arang "Briloka" — singkatan dari "Briket Lokal Karawang".

"Selama ini taunya ya dibakar. Tapi ternyata bisa jadi sesuatu yang berguna," tutur Pak Ocid sambil memperhatikan mesin penggiling yang berderak. "Sekarang jadi mikir, jangan langsung dibakar. Dicoba dulu diolah."

Pak Ocid sedang mencetak briket - sebuah bentuk rekonsiliasi nyata dengan sekam padi. | Foto: Dok. Pribadi

Eri Widianto, dosen pembimbing teknis, tersenyum melihat antusiasme warga. "Ini bukan sekadar pelatihan daur ulang. Ini adalah proses membangun hubungan baru antara masyarakat dengan lingkungannya," ujarnya.

Antusiasme warga membaca brosur pengolahan sekam padi menjadi arang bricket. | Foto: Dok. Pribadi
Warga yang dulu acuh, kini penuh semangat mempelajari cara mengolah sekam padi. | Foto: Dok. Pribadi

Puncak dari proses rekonsiliasi itu terjadi saat briket hasil karya warga diuji dengan membakar sosis. Saat asap mengepul dan aroma sosis bakar memenuhi ruangan, sorakan "ENAAK!" bergemuruh. Bukan sekadar reaksi atas makanan, tapi pengakuan bahwa karya mereka berhasil.

Kepala Desa Karang Tanjung, Juhari, SH., menyaksikan transformasi itu dengan haru. "Ini awal yang baik untuk membangun kemandirian desa. Kami berharap BUMDes bisa mengembangkan ini lebih lanjut," katanya.

Kebersamaan usai pelatihan menandai babak baru dalam hubungan warga dengan sekam padi. | Foto: Dok. Pribadi

Mereka pulang dengan membawa lebih dari sekadar briket. Mereka membawa sebuah pencerahan: bahwa yang selama ini dianggap musuh, ternyata bisa menjadi sekutu terbaik. Surat cinta untuk sekam itu mungkin terlambat, tapi tidak pernah ada kata terlalu lambat untuk memulai sesuatu yang baik.

Tentang Kegiatan:

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Tahun Anggaran 2025 sesuai Nomor Kontrak: 320/C3/DT.05.00/PM-BATCH III/2025