Konten dari Pengguna

Busa Berbau Heboh di Medsos, Guru Besar IPB: Indikasi Pencemaran Limbah Beracun

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Tiktok@infobandungselatan0
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Tiktok@infobandungselatan0

Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan dengan kemunculan gelembung busa berbau yang beterbangan di udara dan viral di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar IPB University, Prof Etty Riani, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat terjadi akibat tingginya pencemaran limbah di perairan.

Menurut Prof Etty, busa dapat terbentuk karena keberadaan surfaktan (zat aktif permukaan) namun bisa juga akibat reaksi kimia dan penguraian bahan organik dalam jumlah besar.

“Jika limbah surfaktannya banyak, maka akan membentuk gumpalan busa yang volumenya cukup besar dan bisa melayang di udara karena sifatnya sangat ringan,” ujar dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) ini.

Ia menambahkan, beberapa jenis limbah yang dapat menyebabkan terbentuknya busa antara lain limbah rumah tangga dan industri yang mengandung surfaktan seperti deterjen dan sabun; limbah organik cair dari industri makanan; serta limbah kimia reaktif dari industri tekstil, pulp dan kertas, serta bahan kimia lainnya. Campuran berbagai jenis limbah ini dapat menghasilkan busa dalam jumlah sangat banyak dan mudah terbawa angin.

“Busa terbentuk karena ada surfaktan. Dalam hal ini, surfaktan akan bekerja untuk menurunkan tegangan permukaan air. Saat surfaktan bekerja dan ada udara masuk, misalnya saat kita mengocok atau menggosok, mengaduk atau menggerakan air, maka udara tersebut bisa terperangkap dalam lapisan tipis air,” jelas Prof Etty.

“Selanjutnya surfaktan tersebut akan membentuk lapisan film stabil di sekitar gelembung udara tersebut, sehingga busanya relatif stabil atau tidak cepat pecah,” tambahnya.

Prof Etty menjelaskan, kandungan zat dalam busa sangat bergantung pada sumber limbahnya. “Secara umum, busa terdiri dari air, udara, dan surfaktan. Namun jika busa berwarna gelap atau berbau menyengat, kemungkinan telah tercampur dengan bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti logam berat, benzene, atau toluene, atau berbagai jenis limbah B3 lainnya” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyentuh atau bermain dengan busa yang mencurigakan karena berpotensi menimbulkan iritasi kulit dan mata, bahkan jika termakan dan/atau masuk melalui kulit, berpotensi memunculkan penyakit serius seperti kanker jika terpapar dalam jumlah banyak dengan frekuensi yang sering.

Untuk mencegah kejadian serupa, Prof Etty menekankan pentingnya pendekatan teknis, sosial, lingkungan, dan kebijakan. Ia menyarankan pemerintah melakukan pemantauan rutin limbah rumah tangga dan industri, menyediakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, serta mendorong masyarakat untuk menggunakan produk pembersih ramah lingkungan.

“Selain edukasi masyarakat, perlu juga ada revisi terhadap standar baku mutu surfaktan serta peraturan tegas mengenai pembuangan limbah cair ke ekosistem perairan,” tutupnya. (dh)