Konten dari Pengguna

Kebiasaan Mencuri dan Kegemaran Membaca dalam Cerpen Maling Buku

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Aulia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam cerpen Maling Buku karya Eko Darmoko, kebiasaan membaca ditampilkan melalui cara yang tidak biasa. Tokoh Badrus, seorang siswa SMP, tidak hanya digambarkan sebagai remaja yang gemar membaca, tetapi juga sebagai pelaku pencurian buku. Dua hal yang bertentangan ini menjadi dasar pembentukan karakter Badrus sekaligus membuka konflik utama dalam cerita.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian peristiwa yang memperlihatkan hubungan antara tindakan, kebiasaan, dan cara pandang tokoh utama. Melalui tokoh Badrus, cerita menunjukkan bagaimana kegemaran membaca dapat muncul berdampingan dengan tindakan yang menyimpang, sehingga membentuk paradoks yang menjadi inti perkembangan alur cerita. Mengacu pada pandangan Rene Wellek dan Austin Warren mengenai pentingnya unsur-unsur dalam membangun karya sastra, cerpen Maling Buku menunjukkan kekuatan pada pembentukan tokoh Badrus dan Cik Lilis. Karakter kedua tokoh tersebut menjadi penggerak utama berkembangnya konflik dan alur cerita.

Badrus Suka Membaca _ Edit Pribadi by Canva
zoom-in-whitePerbesar
Badrus Suka Membaca _ Edit Pribadi by Canva

Tokoh Badrus dan Kedekatannya dengan Buku

Badrus digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kegemaran membaca, tetapi memperolehnya melalui cara yang bertentangan dengan norma. Dalam pengakuannya, Badrus menyatakan bahwa mencuri buku telah menjadi bagian dari kesehariannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tindakan itu bukan dilakukan sesekali, melainkan telah menjadi kebiasaan. Di sisi lain, kenikmatan yang ia rasakan saat membaca buku hasil curian memperlihatkan adanya paradoks antara kecintaannya terhadap buku dan cara ia mendapatkannya.

"Selain sekolah, ngaji, main dan nonton bola, kesibukanku yang lain adalah mencuri buku."

Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan mencuri menjadi cara Badrus memperoleh buku-buku yang kemudian ia baca.

Cara pandang Badrus terhadap buku semakin terlihat ketika ia mengatakan,

"Membaca buku hasil curian adalah kenikmatan paling sempurna."

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa bagi Badrus, membaca tidak hanya berarti menikmati isi buku, tetapi juga berkaitan dengan cara ia memperoleh buku tersebut. Karena itu, kegiatan membaca dan mencuri seolah menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya.

Karakter Badrus semakin terlihat melalui pilihan buku yang ia baca, seperti Atheis, Sayap-Sayap Patah, hingga buku astronomi. Pilihan bacaan tersebut menunjukkan bahwa ia tidak mengambil buku secara acak, melainkan benar-benar memilih buku yang ingin dibacanya. Setelah berhasil membawa pulang buku-buku itu, ia juga menyelesaikan bacaannya. Dengan demikian, pengarang membangun Badrus sebagai tokoh yang memiliki kegemaran membaca, meskipun cara yang ia tempuh untuk memperoleh buku dengan cara yang salah.

Peran Cik Lilis dalam Perkembangan Konflik

"Menurutku, ini pemandangan yang aneh. Kok ada seorang bocah mencuri buku yang lumayan berbobot untuk ukuran murid SMP?"

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Cik Lilis tidak hanya tertuju pada tindakan mencuri itu sendiri, tetapi juga pada alasan di balik pilihan buku yang diambil Badrus. Hal ini membuatnya menilai bahwa Badrus memiliki ketertarikan yang kuat terhadap buku, meskipun ditunjukkan melalui cara yang menyimpang.

Peran Cik Lilis dalam cerpen ini terasa penting karena ia tidak langsung menghentikan tindakan Badrus. Sebaliknya, ia memilih untuk membiarkan situasi berjalan sambil mengamati, sebagaimana terlihat dari ucapannya,

"Jangan! Biarkan saja. Kalau ia meninggalkan toko ini, kita pura-pura tidak tahu saja."

Sikap ini menunjukkan bahwa Cik Lilis tidak bereaksi secara spontan, melainkan menahan diri untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik kebiasaan Badrus.

Cara pandang tersebut menjadi awal berkembangnya konflik karena Cik Lilis memilih membiarkan Badrus sambil mengamati kebiasaannya. Keputusan itulah yang kemudian membuat konflik mencapai puncaknya ketika putrinya mengambil alih pengelolaan toko buku.

Perkembangan Alur dan Titik Balik Cerita

Alur dalam cerpen Maling Buku bergerak secara maju, tetapi tidak sekadar menampilkan urutan peristiwa, melainkan memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap tindakan Badrus. Di awal cerita, Badrus berada dalam situasi yang ia anggap aman. Ia mencuri buku tanpa pernah mendapatkan teguran, sehingga tindakan tersebut perlahan menjadi kebiasaan yang dianggap wajar oleh dirinya sendiri.

"Tiap kali mencuri buku di toko buku itu, aku selalu memperoleh kemudahan."

Kutipan tersebut tidak hanya menunjukkan kebiasaan yang berulang, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ketiadaan respons dari lingkungan membentuk rasa aman semu pada diri Badrus. Ia merasa tindakannya tidak memiliki konsekuensi, padahal sebenarnya sudah berada dalam ruang pengamatan yang tidak ia sadari.

Perubahan dalam cerita tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui pergeseran posisi Badrus dari subjek yang merasa bebas menjadi objek yang diamati. Ketika putri Cik Lilis mengambil alih toko buku, situasi yang sebelumnya stabil mulai menunjukkan perubahan makna. Tindakan Badrus yang sebelumnya dianggap tidak berbahaya mulai dipahami sebagai sesuatu yang telah berlangsung lama dan terpantau.

Puncak konflik terjadi ketika putri Cik Lilis mengatakan,

"Aku sudah tahu semua kelakuanmu. Ada 27 buku yang kamu curi."

Ucapan tersebut mengubah cara pembaca memahami seluruh rangkaian peristiwa yang telah berlangsung di toko buku. Kemudahan yang selama ini dirasakan Badrus ternyata bukan karena ia berhasil mengelabui pegawai toko, melainkan karena sejak awal tindakannya sengaja dibiarkan dan diamati oleh pihak toko atas arahan Cik Lilis.

Latar yang Mendukung Jalannya Cerita

Sebagian besar peristiwa dalam cerpen berlangsung di toko buku. Tempat ini tidak hanya menjadi lokasi Badrus mencuri buku, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan tokoh utama dengan Cik Lilis serta menjadi pusat berkembangnya seluruh peristiwa dalam cerita. Di tempat inilah kebiasaan Badrus mengambil buku mulai diperlihatkan, Cik Lilis mengamati setiap tindakannya, hingga akhirnya kebiasaan tersebut terungkap pada bagian akhir cerita. Keterkaitan setiap peristiwa dengan latar yang sama membuat alur berkembang secara runtut dan saling berhubungan.

Selain latar tempat, pengarang juga menghadirkan latar waktu melalui penyebutan peristiwa Piala Dunia 2002.

"Debutku sebagai maling buku terjadi beberapa menit selepas laga perempat final Piala Dunia 2002 antara Brasil vs Inggris."

Penyebutan waktu tersebut membantu pembaca mengetahui kapan kebiasaan Badrus dimulai. Penanda waktu ini juga membuat urutan peristiwa dalam cerita terasa lebih jelas karena pembaca dapat mengikuti perkembangan cerita dari awal hingga akhir secara kronologis.

Dua Sudut Pandang yang Saling Melengkapi

Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang bergantian antara Badrus dan Cik Lilis. Teknik ini menciptakan dua perspektif berbeda terhadap peristiwa yang sama, sehingga pembaca dapat melihat peristiwa yang sama dari dua sisi yang berbeda.

Dari sudut pandang Badrus, pembaca memahami tindakan mencuri sebagai bagian dari pengalaman pribadi yang dianggap wajar. Sementara dari sudut pandang Cik Lilis, tindakan tersebut diposisikan sebagai objek pengamatan yang memunculkan pertanyaan dan penafsiran berbeda.

Pergantian sudut pandang tersebut membuat cerita terasa lebih utuh. Pembaca tidak hanya mengikuti pengalaman Badrus sebagai pelaku, tetapi juga mengetahui bagaimana Cik Lilis memandang setiap tindakan yang dilakukan tokoh utama. Kehadiran dua sudut pandang ini membuat perkembangan cerita terasa lebih jelas karena setiap peristiwa dapat dipahami dari dua sisi yang saling melengkapi.

DAFTAR PUSTAKA

Darmoko, E. (2006, 11 April). Maling Buku. Kompas.id

Wellek, René dan Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.