Konten dari Pengguna

Bukan Menahan Emosi, tetapi Belajar Mengelolanya di Dunia Kerja

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Lusniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jangan baper.”

“Profesional dong.”

“Kerja itu jangan pakai perasaan.”

Kalimat seperti ini cukup sering terdengar di dunia kerja. Seolah-olah menjadi profesional berarti harus selalu tenang, tidak boleh marah, kecewa, atau tersinggung.

Padahal, manusia tetap membawa emosi ke tempat kerja.

Kita bisa senang ketika diapresiasi, kecewa ketika ide ditolak, kesal ketika pekerjaan berubah mendadak, atau cemas saat menghadapi target. Dari sudut pandang psikologi, emosi bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengenali, memahami, dan mengelolanya.

1. Profesional Bukan Berarti Tidak Punya Emosi

Marah, kecewa, sedih, atau frustrasi adalah respons yang wajar. Yang menjadi persoalan bukan munculnya emosi, melainkan apa yang kita lakukan setelah emosi itu muncul.

Apakah langsung membalas komentar orang lain dengan nada tinggi?

Apakah membawa kekesalan ke orang lain?

Apakah kita mengambil keputusan ketika sedang sangat marah?

Dalam psikologi, kemampuan untuk mengenali dan mengatur respons terhadap emosi dikenal sebagai emotional regulation. Artinya, profesional bukan berarti tidak boleh merasa. Profesional berarti tidak membiarkan emosi sesaat mengambil alih seluruh perilaku kita.

2. Beri Jarak antara Perasaan dan Respons

Tidak semua hal perlu langsung direspons. Saat sedang emosi, kita cenderung lebih impulsif dan lebih cepat mengambil kesimpulan. Karena itu, memberi sedikit jarak bisa membantu. Membaca ulang pesan, menunda respons sejenak, atau bertanya pada diri sendiri:

“Apa yang sebenarnya ingin saya selesaikan dari situasi ini?”

Kemampuan untuk tidak langsung bertindak berdasarkan dorongan sesaat berkaitan dengan impulse control.

Karena terkadang, respons yang paling profesional bukan respons yang paling cepat.

Menjaga profesionalisme di tengah dinamika diskusi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

3. Tidak Semua Hal Harus Dianggap Personal

Di dunia kerja, kita akan berhadapan dengan revisi, penolakan ide, feedback, perbedaan pendapat, dan keputusan yang tidak selalu sesuai harapan. Namun, tidak semuanya merupakan penolakan terhadap diri kita sebagai individu.

Ide bisa ditolak tanpa berarti kita tidak kompeten.

Pekerjaan bisa direvisi tanpa berarti seluruh kemampuan kita buruk.

Kemampuan melihat situasi secara lebih objektif membantu kita memisahkan peristiwa kerja dari harga diri pribadi.

Dalam psikologi, cara melihat ulang situasi dari sudut pandang yang lebih seimbang dikenal sebagai cognitive reappraisal. Bukan menyangkal emosi, tetapi memberi ruang untuk melihat kemungkinan lain sebelum bereaksi.

4. Mengelola Emosi Bukan Berarti Harus Diam

Stabil secara emosional bukan berarti selalu mengalah atau menerima semuanya. Kita tetap bisa mengatakan tidak setuju, menyampaikan keberatan, atau menetapkan batas.

Perbedaannya terletak pada cara menyampaikannya.

Di sinilah assertiveness menjadi penting yaitu dengan mampu menyampaikan kebutuhan dan pendapat secara jelas tanpa menyerang orang lain. Pada akhirnya, menjaga stabilitas emosi di tempat kerja bukan berarti kita harus selalu terlihat tenang atau berpura-pura tidak terganggu.

Kita tetap bisa marah, kecewa, tidak setuju, atau merasa lelah. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana kita memilih untuk meresponsnya.

Karena di dunia kerja, kedewasaan emosional bukan terlihat dari seberapa sedikit kita merasa, tetapi dari bagaimana kita tetap mampu bersikap profesional ketika perasaan itu muncul.

Kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang kita rasakan. Tetapi di dunia kerja, kita tetap punya pilihan tentang apa yang kita lakukan setelah merasakannya.