Konten dari Pengguna

Kenapa Burnout Bisa Terjadi Meski Kita Merasa Sudah Cukup Kuat?

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Lusniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kerjaannya memang lagi banyak.”

“Harusnya kamu lebih kuat menghadapi tekanan.”

Kalimat seperti ini sering muncul ketika seseorang mulai merasa lelah dengan pekerjaannya. Burnout pun mudah dianggap terjadi karena dua hal yaitu pekerjaan terlalu banyak atau orangnya kurang tangguh.

Padahal, burnout tidak sesederhana itu.

Kesehatan Kerja Karyawan (Dokumen Pribadi)
  1. Burnout Bukan Sekadar Capek Kerja

Dalam psikologi, burnout berkaitan dengan stres pekerjaan yang berlangsung terus-menerus dan tidak berhasil dikelola dengan baik.

Seseorang bisa mulai merasa kehilangan energi, semakin berjarak secara emosional dengan pekerjaannya, lebih mudah merasa negatif, hingga kehilangan rasa mampu terhadap pekerjaan yang sebelumnya masih bisa ia jalani dengan baik.

Karena itu, ketika seseorang mengalami burnout, pertanyaannya bukan hanya:

“Seberapa banyak pekerjaannya?”

Tetapi juga:

“Apa yang terus-menerus menguras energinya?”

Sebab dua orang dengan jumlah pekerjaan yang sama belum tentu mengalami tekanan yang sama.

2. Burnout Bukan Berarti Karyawannya Lemah

Dalam psikologi industri dan organisasi, ada istilah job demands dan job resources. Job demands adalah berbagai tuntutan pekerjaan yang membutuhkan energi, perhatian, dan usaha secara terus-menerus. Misalnya target tinggi, deadline singkat, perubahan prioritas, konflik peran, atau banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dalam waktu bersamaan. Sementara itu, job resources adalah berbagai hal yang membantu seseorang menghadapi tuntutan tersebut.

Bayangkan seseorang harus menghadapi target tinggi, beberapa deadline sekaligus, perubahan instruksi, dan banyak permintaan dalam satu waktu.

Lalu tanyakan:

"Apakah prioritas pekerjaannya jelas?"

"Apakah ia mendapat dukungan dari atasan dan tim?"

"Apakah ia memiliki cukup waktu untuk menyelesaikannya?"

"Apakah setelah bekerja intens ia memiliki kesempatan untuk memulihkan energi?"

Di sinilah masalahnya sering kali muncul: bukan hanya karena tuntutannya tinggi, tetapi karena tuntutan dan sumber daya yang tersedia tidak lagi seimbang.

3. Resource Bukan Selalu Berarti Tambah Orang

Ketika mendengar kata resource, kita mungkin langsung berpikir:

“Berarti harus tambah orang?”. Belum tentu, jawabannya.

Dalam dunia kerja, sumber daya bisa berbentuk banyak hal. Kejelasan prioritas, dukungan dari atasan, komunikasi yang sehat, feedback yang jelas, fleksibilitas, kesempatan berkembang, rasa memiliki kontrol terhadap pekerjaan, hingga waktu pemulihan juga dapat menjadi sumber daya penting.

Karena itu, ketika seseorang mulai kewalahan, solusinya tidak selalu menambah jumlah orang. Kadang yang dibutuhkan justru lebih sederhana seperti mengurangi prioritas yang saling bertabrakan, memperjelas ekspektasi, membagi beban dengan lebih realistis, atau memberi ruang untuk berhenti sejenak dari tekanan yang terus-menerus.

4. Tempat Kerja yang Sehat Bukan Tempat Tanpa Tekanan

Tempat kerja yang sehat bukan berarti tempat tanpa target, deadline, atau tantangan. Tekanan dalam kadar tertentu bahkan dapat membantu seseorang tetap fokus dan berkembang.

Masalahnya muncul ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan, sementara tuntutan terus bertambah dan sumber daya semakin terbatas. Karena itu, kesehatan mental di tempat kerja tidak cukup dijaga hanya dengan meminta karyawan untuk lebih pandai mengatur waktu, melakukan self-care, atau menjadi lebih resilien.

Ada bagian lain yang juga perlu dilihat yaitu bagaimana pekerjaan dirancang, bagaimana prioritas diberikan, bagaimana dukungan diberikan, dan bagaimana seseorang diperlakukan ketika mulai kewalahan. Maka ketika seseorang terlihat mulai kehilangan energi, mungkin pertanyaan yang lebih membantu bukan:

“Kenapa kamu tidak bisa lebih kuat?”

Melainkan:

“Apa yang paling banyak menguras energimu saat ini, dan apa yang bisa membantu?”

Karena kadang, yang terlihat seperti “tidak kuat” sebenarnya adalah tanda bahwa seseorang sudah terlalu lama bertahan.