Surabi: Warisan Kuliner yang Bertahan Melawan Zaman
Tulisan dari Anastasia Nicole Suryadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian mendengar tentang surabi? Jajanan mungil yang terkenal dengan bentuknya yang bulat dan beragam topping, mulai dari yang manis hingga gurih. Makanan ini terbuat dari tepung beras dan santan, kemudian dimasak menggunakan cetakan kecil yang diletakkan di atas tungku. Surabi memiliki tekstur lembut di bagian dalam dengan bagian bawah yang sedikit lebih kering, renyah, dan kecoklatan. Cita rasanya pun dapat berubah sesuai dengan topping yang digunakan. Ada surabi tradisional dengan oncom, kelapa, atau kuah gula merah, tetapi ada juga surabi kekinian dengan coklat, keju, hingga berbagai topping gurih. Sekilas mungkin terlihat sederhana, tetapi di balik bentuknya yang mungil, surabi menyimpan proses pembuatan, aroma, serta perjalanan kuliner yang menarik untuk diamati.
Kalau kalian pernah melewati tempat penjualan surabi, pasti ada aroma harum yang khas. Wangi tersebut mulai tercium ketika adonan surabi dituangkan ke dalam cetakan yang telah dipanaskan. Perpaduan tepung beras, santan, dan kelapa memberikan aroma gurih yang semakin kuat ketika adonan mulai matang. Ditambah lagi dengan asap tipis dari tungku tradisional, aroma surabi menjadi semakin khas. Bagi pecinta kuliner, aroma smoky dari kayu bakar ini menjadi salah satu hal yang membuat surabi terasa berbeda dari makanan yang dimasak menggunakan kompor atau alat modern.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pedagang, penggunaan tungku tradisional masih dipertahankan karena mampu memberikan aroma kayu bakar dan karakter rasa yang khas. Meskipun begitu, aroma smoky bukan berarti asap kayu bakar memiliki manfaat kesehatan. Penggunaan bahan alami dan proses memasak yang tepat tetap menjadi hal penting, sementara area memasak perlu memiliki sirkulasi udara yang baik agar asap tidak terhirup berlebihan. Dengan demikian, pengalaman menikmati surabi dapat tetap terasa hangat dan menyenangkan tanpa mengabaikan kenyamanan serta kesehatan.
Perkembangan surabi sendiri telah berlangsung sejak dahulu. Makanan ini dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional masyarakat Indonesia dan berkembang di beberapa daerah, salah satunya Jawa Barat. Pada awal perkembangannya, surabi dibuat menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan, seperti tepung beras, santan, dan kelapa. Adonan kemudian dimasak menggunakan cetakan sederhana di atas tungku hingga menghasilkan makanan berbentuk bulat. Dahulu, surabi banyak ditemukan sebagai jajanan pasar yang dijual di lingkungan masyarakat. Namun, seiring perubahan zaman, surabi mulai mengalami berbagai inovasi agar dapat menyesuaikan diri dengan selera konsumen. Perubahan tersebut membuktikan bahwa makanan tradisional dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Surabi juga dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia. Pada pagi hari, jajanan ini dapat menjadi pilihan sarapan praktis bagi orang-orang yang hendak bekerja atau pergi ke pasar. Sementara itu, pada sore hingga malam hari, surabi dapat menjadi teman bersantai bagi anak muda dan mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa surabi tidak hanya bertahan sebagai jajanan tradisional, tetapi juga mampu masuk ke dalam kebiasaan masyarakat modern.
Selain menjadi makanan, surabi juga memiliki nilai budaya yang membuatnya layak dipertahankan. Resep dan cara pembuatannya dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu contoh dapat dilihat dari Pak Maman, pedagang “Surabi Ijo” di daerah Pagarsih, Bandung, Jawa Barat, yang telah berjualan selama kurang lebih 25 tahun setelah meneruskan resep dan usaha keluarganya sejak tahun 2001. Informasi tersebut menjadi gambaran bahwa keberadaan surabi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan proses pewarisan pengetahuan dan tradisi.
Berdasarkan bahan pelengkap dan cara penyajiannya, surabi dapat dibedakan menjadi surabi tradisional dan surabi modern. Surabi tradisional biasanya menggunakan topping sederhana seperti oncom, kelapa, atau kuah kinca. Rasanya cenderung gurih atau manis dengan aroma khas dari bahan-bahan tradisional. Sementara itu, surabi modern menawarkan pilihan yang lebih beragam untuk mengikuti selera masyarakat masa kini. Topping seperti coklat, keju, susu, meses, sosis, telur, mayones, hingga daging cincang pedas dapat digunakan sebagai variasi. Perbedaan tersebut membuat surabi tidak hanya menarik dari segi rasa, tetapi juga dari segi tampilan.
Menariknya, inovasi pada surabi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Beberapa pedagang tetap mempertahankan menu seperti Surabi Oncom dan Surabi Kinca sebagai bagian utama, sementara menu lainnya dikembangkan dengan topping kekinian. Berdasarkan hasil wawancara, salah satu pedagang memilih cara tersebut untuk menyesuaikan selera konsumen, terutama anak muda yang senang mencoba rasa baru. Dengan demikian, inovasi dapat menjadi cara untuk memperkenalkan surabi kepada lebih banyak orang tanpa harus menghilangkan karakter dasarnya.
Cara memasak surabi ternyata turut menentukan teksturnya. Pada pembuatan secara tradisional, cetakan tanah liat diletakkan di atas tungku dan dipanaskan secara perlahan. Adonan kemudian dituangkan secukupnya dan dibiarkan hingga matang. Panas yang berasal dari tungku dan cetakan tanah liat membuat bagian bawah surabi dapat menjadi renyah, sementara bagian atasnya tetap lembut dan bersarang. Sebaliknya, penggunaan panci atau kompor biasa cenderung menghasilkan panas yang lebih cepat sehingga tekstur surabi dapat menjadi lebih merata seperti panekuk. Hal ini menunjukkan bahwa alat yang digunakan dalam proses memasak bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi salah satu bagian penting dari karakter surabi.
Untuk menghasilkan surabi dengan tekstur yang lembut, setiap tahapan pembuatannya membutuhkan perhatian. Tepung beras, santan, dan bahan lainnya dicampurkan hingga menjadi adonan dengan kekentalan yang tepat. Setelah itu, cetakan dipanaskan terlebih dahulu sebelum adonan dituangkan. Selama proses memasak, panas tungku harus diperhatikan agar bagian bawah surabi tidak cepat gosong sementara bagian dalamnya tetap matang. Setelah matang, surabi kemudian diangkat dan diberi topping sesuai dengan jenis yang diinginkan. Dari proses tersebut dapat diketahui bahwa tekstur lembut dan bagian bawah yang renyah bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan saja, melainkan hasil dari pemilihan bahan, penggunaan cetakan, serta pengaturan panas yang tepat.
Selain cara memasaknya, bahan yang digunakan juga mempengaruhi kualitas surabi. Adonan umumnya dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan hingga menghasilkan kekentalan yang sesuai. Pada salah satu usaha surabi yang diamati, beras lokal bahkan digiling sendiri setiap hari dan dicampur dengan kelapa parut segar. Kuah kinca sebagai pelengkap juga dapat dibuat menggunakan gula aren murni, sedangkan sambal oncom menggunakan bumbu sangrai untuk menghasilkan rasa gurih dan pedas. Penggunaan bahan-bahan tersebut memperlihatkan bahwa cita rasa surabi tidak hanya berasal dari topping, tetapi juga dari kualitas bahan dasar yang digunakan.
Perkembangan tersebut membuat surabi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk penyajian. Surabi tradisional umumnya mengutamakan cita rasa sederhana dan bahan pelengkap yang sudah dikenal masyarakat. Sementara itu, surabi modern dapat menawarkan kombinasi rasa yang lebih beragam, tampilan yang menarik, serta penyajian yang lebih mengikuti perkembangan kuliner masa kini. Meskipun demikian, perubahan tersebut tidak selalu berarti bahwa surabi tradisional menjadi kurang bernilai. Justru, perpaduan antara bahan lokal, cara memasak tradisional, dan inovasi penyajian dapat membuat surabi semakin menarik bagi para pecinta kuliner.
Di balik cita rasanya, surabi memiliki nilai budaya yang membuatnya layak dipertahankan. Resep dan cara pembuatannya dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penggunaan tungku tradisional juga menjadi bagian dari kebiasaan memasak yang masih dipertahankan hingga sekarang. Salah satu contoh dapat dilihat dari pedagang yang telah menjalankan usaha surabi selama kurang lebih 25 tahun setelah meneruskan resep dan usaha keluarganya sejak tahun 2001. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan surabi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan proses pewarisan pengetahuan dan tradisi.
Namun, mempertahankan surabi bukan berarti harus membuatnya selalu sama. Justru, perpaduan antara tradisi dan inovasi dapat membuat makanan ini semakin menarik bagi generasi muda. Cara memasak menggunakan tungku, penggunaan bahan lokal, serta cita rasa khas seperti oncom dan kinca dapat tetap dipertahankan, sementara variasi topping dan penyajian dapat dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Salah satu harapan yang disampaikan pedagang surabi adalah agar generasi muda tidak merasa gengsi untuk menikmati dan mempelajari kuliner tradisional. Dengan kemasan yang lebih modern, surabi dapat tetap menarik tanpa harus kehilangan cara memasak dan cita rasa aslinya.
Jadi, bagaimana menurut kalian? Apakah surabi masih sekadar jajanan tradisional, atau sudah menjadi kuliner yang mampu mengikuti perkembangan zaman? Dari aroma smoky tungku, teksturnya yang lembut dan renyah, hingga perpaduan topping tradisional dan kekinian, surabi membuktikan bahwa makanan sederhana pun dapat memiliki karakter yang kuat. Bagi para foodies, menikmati surabi bukan hanya soal menemukan rasa yang enak, tetapi juga mengenal cerita, proses, dan tradisi yang ada di balik setiap potongannya. Dengan tetap menjaga unsur tradisional sekaligus membuka ruang untuk inovasi, surabi memiliki peluang untuk terus dikenal dan dinikmati oleh generasi berikutnya.

