Pelayaran Rindu: Menafsir Puisi Surat Kertas Hijau

Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Nida Khoirunnisa Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyelami Diksi, Imaji, dan Simbol Kerinduan dalam Puisi Surat Kertas Hijau
Puisi sering kali menyimpan makna yang lebih luas daripada apa yang tertulis di atas kertas. Ada perasaan yang tidak disampaikan secara langsung, ada pengalaman yang hanya diisyaratkan lewat simbol, dan ada makna yang baru terasa setelah kita berhenti sejenak untuk memikirkannya. Hal itu saya rasakan ketika membaca puisi “Surat Kertas Hijau” yang diterbitkan dalam buku Surat Kertas Hijau oleh Pustaka Rakyat pada 1953. Bagi saya, daya tarik puisi ini terletak pada cara penyair menghadirkan kerinduan dan perpisahan melalui benda-benda yang tampaknya sederhana, tetapi menyimpan banyak kemungkinan makna.
Sejak larik pertama, “Segala kedaraannya tersaji hijau muda”, saya merasa penyair sedang membangun suasana yang khas. Warna hijau muda bukan hanya warna yang memperindah gambaran dalam puisi. Saya menafsirkannya sebagai lambang kesegaran, kemudaan, atau sesuatu yang masih hidup dan tumbuh. Kesan itu diperkuat oleh larik “Melayang di lembaran surat musim bunga”. Kehadiran surat dan musim bunga membuat saya membayangkan suasana yang lembut, seolah-olah ada kabar yang membawa kehangatan kepada seseorang yang sedang berjauhan.
Menariknya, surat dalam puisi ini tidak hadir sebagai benda mati yang hanya berisi tulisan. Surat seolah-olah menjadi ruang pertemuan antara dua orang yang terpisah oleh jarak. Melalui surat, sesuatu yang jauh dapat terasa dekat, sedangkan seseorang yang tidak hadir secara fisik masih bisa meninggalkan kesan melalui kata-katanya. Saya melihat surat sebagai simbol komunikasi sekaligus penyimpan perasaan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, ada seseorang yang menunggu kabar, dan ada jarak yang membuat pertemuan tidak dapat berlangsung begitu saja.
Pemaknaan tersebut terasa semakin kuat ketika saya membaca larik “Berita dari jauh / Sebelum kapal angkat sauh”. Kapal menjadi salah satu simbol penting dalam puisi ini karena keberadaannya berkaitan dengan perjalanan dan kemungkinan perpisahan. Ungkapan angkat sauh menggambarkan kapal yang bersiap meninggalkan tempatnya. Namun, bagi saya, maknanya tidak berhenti pada keberangkatan secara harfiah. Kapal juga dapat dibaca sebagai lambang perpindahan, perubahan keadaan, atau perjalanan hidup yang membuat seseorang harus meninggalkan sesuatu yang dikenalnya.
Kehadiran kata sebelum juga menarik untuk diperhatikan. Kata ini memberikan kesan bahwa ada waktu terbatas sebelum sesuatu terjadi. Berita harus sampai sebelum kapal berangkat, atau setidaknya sebelum kesempatan untuk menyampaikan sesuatu berakhir. Saya menangkap adanya ketergesaan yang tidak diungkapkan secara terang-terangan. Penyair tidak mengatakan bahwa tokohnya takut kehilangan kesempatan, tetapi gambaran kapal yang akan berangkat membuat kemungkinan itu terasa.
Bagi saya, bagian ini justru menarik karena penyair tidak menjelaskan secara pasti siapa yang akan pergi, siapa yang menerima surat, atau hubungan seperti apa yang terjalin di antara mereka. Ketidakjelasan tersebut membuka ruang bagi pembaca untuk membangun penafsirannya sendiri. Saya bisa membayangkan hubungan antara dua orang yang saling merindukan, tetapi pembaca lain mungkin melihatnya sebagai kisah seseorang yang harus meninggalkan tempat asalnya. Menurut saya, keterbukaan semacam ini menjadi salah satu daya tarik puisi karena maknanya tidak langsung habis setelah dibaca sekali.
Pada bait kedua, suasana puisi terasa berbeda. Larik “Segala kemontokan menonjol di kata-kata” diikuti oleh “Menepis dalam kelakar sonder dusta”. Pilihan kata kelakar menghadirkan kesan gurauan, sedangkan frasa sonder dusta mengisyaratkan sesuatu yang tanpa kebohongan. Saya melihat adanya pergeseran dari gambaran surat dan perjalanan menuju keakraban yang hadir melalui bahasa.
Kata-kata dalam surat seolah-olah mampu menghadirkan kembali sosok yang jauh, lengkap dengan cara berbicara dan gurauannya. Dalam hal ini, surat tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membawa jejak kepribadian seseorang. Pembaca seakan diajak membayangkan bahwa di balik tulisan yang tersaji, ada kehidupan dan hubungan yang pernah terjalin.
Larik “Harum anak dara / Mengimbau dari seberang benua” juga memiliki daya ungkap yang menarik. Kata harum menghadirkan citraan penciuman, sedangkan mengimbau memberi kesan adanya sesuatu yang memanggil kembali ingatan atau perasaan. Sementara itu, seberang benua mempertegas jarak yang memisahkan sosok dalam puisi.
Perpaduan ketiganya membuat kehadiran seseorang terasa melalui sesuatu yang tidak dapat disentuh secara langsung. Menurut penafsiran saya, harum dalam larik tersebut dapat dipahami sebagai jejak kenangan yang tetap tertinggal meskipun orang yang menghasilkannya sudah berada jauh. Jarak memang memisahkan secara fisik, tetapi ingatan dapat membuat seseorang seolah-olah hadir kembali.
Saya menyukai bagian ini karena penyair tidak menyampaikan kerinduan dengan menyebut kata rindu secara langsung. Perasaan itu justru dibangun melalui citraan dan pilihan kata. Pembaca perlu menghubungkan harum, ingatan, dan jarak untuk menangkap suasana yang ingin dihadirkan. Bagi saya, di sinilah bahasa puisi bekerja dengan cara yang berbeda dari bahasa sehari-hari. Sebuah kata tidak hanya menyampaikan arti, tetapi juga membangkitkan pengalaman indrawi dan perasaan.
Perubahan suasana yang paling terasa muncul pada bait ketiga, ketika penyair menulis, “Mari, Dik, tak lama hidup ini / Semusim dan semusim lagi / Burung pun berpulangan.” Sapaan Dik membuat suara dalam puisi terasa lebih dekat dan personal. Seolah-olah ada seseorang yang sedang berbicara langsung kepada orang lain, bukan hanya menyampaikan cerita kepada pembaca.
Pengulangan kata Mari pada bait ketiga dan keempat juga patut diperhatikan. Kata tersebut merupakan ajakan, tetapi ajakan untuk melakukan apa? Puisi tidak memberikan jawaban yang sepenuhnya pasti. Bagi saya, pengulangan itu memperlihatkan keinginan untuk mempertahankan sesuatu sebelum kesempatan berakhir. Suara dalam puisi seolah meminta lawan bicaranya untuk hadir, merasakan, atau mengabadikan sesuatu yang sedang mereka miliki.
Larik “tak lama hidup ini” memberikan nuansa yang lebih serius dibandingkan gambaran surat, gurauan, dan musim bunga pada bait sebelumnya. Ada kesadaran mengenai keterbatasan waktu. Sementara itu, larik “Semusim dan semusim lagi” menghadirkan gambaran waktu yang bergerak melalui pergantian musim. Musim dapat datang kembali, tetapi keadaan yang menyertainya belum tentu sama. Menurut saya, gambaran ini memperkuat kesan bahwa kehidupan terus bergerak, sementara manusia harus menghadapi perubahan yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Kemudian, muncul larik “Burung pun berpulangan”. Burung dapat dipahami sebagai lambang kebebasan, perjalanan, atau kepulangan. Saya menafsirkan burung yang pulang sebagai gambaran makhluk yang mengikuti arah perjalanannya hingga kembali ke tempat yang dituju. Akan tetapi, jika dihubungkan dengan larik sebelumnya, kepulangan burung juga menimbulkan pertanyaan: apakah manusia dalam puisi ini akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk kembali?
Pertanyaan tersebut tidak dijawab secara langsung oleh penyair. Justru, ketidakpastian itu membuat larik tersebut terasa menarik bagi saya. Kepulangan burung dapat menghadirkan harapan, tetapi juga mengingatkan pembaca bahwa perjalanan setiap makhluk tidak selalu berakhir dengan cara yang sama. Dalam kehidupan manusia, keinginan untuk kembali sering kali berhadapan dengan jarak, waktu, dan keadaan yang tidak mudah diubah.
Pada bait terakhir, penyair menulis, “Mari, Dik, kekal bisa semua ini / Peluk goreskan di tempat ini / Sebelum kapal dirapatkan.” Saya melihat bait ini sebagai bagian yang mempertemukan berbagai gambaran yang telah muncul sebelumnya. Ada ajakan, keinginan untuk mengabadikan sesuatu, dan kapal yang kembali hadir sebagai penanda perjalanan.
Ungkapan “Peluk goreskan di tempat ini” menjadi bagian yang paling terbuka untuk ditafsirkan. Kata peluk biasanya berkaitan dengan kedekatan fisik dan ungkapan kasih sayang. Namun, ketika disandingkan dengan kata goreskan, muncul kesan bahwa sesuatu yang bersifat sementara ingin ditinggalkan sebagai jejak. Saya memaknainya sebagai keinginan untuk mengabadikan kedekatan, baik melalui kenangan maupun pengalaman yang dapat terus diingat setelah perpisahan terjadi.
Kata goreskan sendiri mengingatkan saya pada tindakan menulis atau meninggalkan tanda pada suatu permukaan. Jika dihubungkan dengan judul puisi, tindakan itu memiliki hubungan yang menarik dengan surat sebagai media untuk menyimpan pesan. Surat menyimpan kata-kata, sedangkan goresan menyimpan jejak. Keduanya sama-sama dapat menjadi cara untuk mempertahankan sesuatu yang tidak selalu bisa hadir secara langsung.
Namun, ada satu hal yang menurut saya penting: penyair tidak menggunakan kata selamanya secara gamblang untuk menjanjikan bahwa semuanya akan tetap ada. Sebaliknya, keinginan untuk membuat sesuatu menjadi kekal justru muncul berdampingan dengan kesadaran bahwa hidup tidak berlangsung lama dan kapal akan segera dirapatkan. Di sini, saya merasakan ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan sesuatu dan kenyataan bahwa setiap perjalanan memiliki batas.
Bagi saya, ketegangan tersebut menjadi inti emosional puisi ini. Ada sesuatu yang ingin dijaga, tetapi waktu terus bergerak. Ada seseorang yang ingin didekatkan melalui surat, tetapi jarak tetap hadir. Ada ajakan untuk mengabadikan kenangan, tetapi kapal mengisyaratkan bahwa perpisahan tidak dapat sepenuhnya dihindari.
Jika diperhatikan secara keseluruhan, puisi “Surat Kertas Hijau” membangun maknanya melalui hubungan antarsimbol, bukan melalui cerita yang dijelaskan secara terperinci. Surat menghadirkan komunikasi, musim bunga memberikan kesan kehidupan dan kesegaran, burung mengisyaratkan perjalanan serta kepulangan, sedangkan kapal membawa bayangan keberangkatan dan perpisahan. Simbol-simbol tersebut saling berhubungan sehingga membentuk suasana yang bergerak dari keakraban menuju kesadaran akan keterbatasan waktu.
Dari segi bahasa, saya menilai puisi ini menarik karena memadukan kata-kata yang menghadirkan kesan indrawi dengan gambaran perjalanan. Meskipun beberapa diksi, seperti kedaraan, kemontokan, dan sonder, mungkin terasa asing bagi pembaca masa kini, pilihan kata tersebut tetap menjadi bagian yang patut diperhatikan dalam proses apresiasi. Pembaca perlu melihat kata-kata itu dalam konteks larik dan baitnya, bukan hanya menilainya berdasarkan kebiasaan berbahasa sehari-hari.
Bagi saya, puisi ini tidak harus dibaca sebagai kisah cinta semata. Memang, sapaan Dik, gambaran anak dara, dan keinginan untuk berpelukan dapat mengarahkan pembaca pada hubungan personal yang intim. Namun, simbol surat, kapal, dan kepulangan juga memungkinkan pembacaan yang lebih luas, misalnya mengenai perpisahan dengan tempat, masa, atau pengalaman yang pernah berarti dalam hidup seseorang. Saya sendiri lebih tertarik melihat puisi ini sebagai gambaran mengenai keinginan manusia untuk mempertahankan sesuatu yang berharga ketika menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Pada akhirnya, “Surat Kertas Hijau” meninggalkan pertanyaan yang menurut saya lebih menarik daripada sekadar mencari pesan moralnya: apakah sesuatu yang kita abadikan benar-benar dapat membuatnya tetap ada, atau justru menjadi pengingat bahwa hal itu pernah kita miliki? Surat dapat menyimpan kata-kata, goresan dapat meninggalkan jejak, dan ingatan dapat menghadirkan kembali seseorang yang jauh. Namun, semuanya tidak serta-merta menghentikan perjalanan waktu.
Sebagai pembaca, saya merasa kekuatan puisi ini terletak pada kesediaannya membiarkan pertanyaan tersebut tetap terbuka. Penyair tidak memberikan jawaban mutlak mengenai kerinduan, keberangkatan, ataupun kepulangan. Ia menghadirkan simbol-simbol yang membuat pembaca menafsirkan pengalaman mereka sendiri. Bagi saya, justru di situlah puisi ini terasa hidup: bukan karena semua maknanya dijelaskan, melainkan karena ada bagian yang terus mengajak kita berpikir bahkan setelah selesai membacanya.
Surat Kertas Hijau. (1953). Pustaka Rakyat.
https://www.sepenuhnya.com/2025/02/puisi-surat-kertas-hijau-karya-sitor-situmorang.html?
