Sastra Bukan Bahan Hafalan: Menghidupkan Kelas Bahasa Indonesia

Mahasiswi, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari niken sabika yuza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang aneh dalam kelas Bahasa dan Sastra Indonesia: siswa hafal nama pengarang, mengingat unsur intrinsik, dan bisa menjawab soal pilihan ganda dengan tepat, tetapi tidak pernah benar-benar tersentuh oleh cerita yang mereka baca. Sastra yang seharusnya membuat hati bergerak berubah menjadi daftar yang harus dihafalkan menjelang ulangan. Padahal, sastra lahir dari pengalaman manusia dari rasa takut, harapan, kehilangan, cinta, sampai protes terhadap ketidakadilan.
Bayangkan seorang siswa membaca puisi tentang rindu. Ia tidak hanya diminta menyebut majas dan rima, tetapi juga diajak bertanya: pernahkah aku merasakan hal yang serupa? Siapa yang aku rindukan? Pada saat itulah sastra mulai hidup. Ia tidak lagi berdiri jauh di halaman buku, melainkan masuk ke pengalaman pribadi siswa. Pembelajaran sastra memang seharusnya tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan gagasan, perasaan, dan imajinasinya melalui karya.
Masalahnya, kelas sering terlalu sibuk mengejar materi. Guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu semua berakhir pada tugas yang seragam. Belum tentu salah, tetapi cara itu membuat sastra terasa seperti formula. Padahal, sebuah cerpen bisa dibahas melalui debat: siapa tokoh yang paling menyakitkan? Akhir cerita itu adil atau tidak? Jika kamu menjadi tokoh utama, apa yang akan kamu lakukan? Pertanyaan semacam ini membuat siswa berani berpendapat, bukan hanya menunggu jawaban benar dari guru.
Kelas juga akan lebih hidup jika siswa diberi kesempatan berkarya. Mereka dapat mengubah cerpen menjadi naskah drama pendek, membuat video adaptasi puisi, menulis ulang akhir cerita dari sudut pandang tokoh yang terlupakan, atau membuat podcast resensi buku. Pembelajaran sastra yang menggabungkan membaca, menulis kreatif, diskusi reflektif, dan pertunjukan dapat membangkitkan kembali jiwa teks sastra. Media film, misalnya, juga dapat digunakan untuk mengadaptasi puisi, cerpen, atau novel sehingga siswa terdorong berpikir kreatif dan menghasilkan gagasan baru.
Kolaborasi membuat semuanya semakin bermakna. Dalam satu kelompok, tidak semua siswa harus menjadi pembicara. Ada yang pandai menulis, ada yang jago mengedit video, ada yang berbakat menggambar, dan ada yang nyaman menjadi penyusun ide. Ketika setiap anak merasa perannya penting, kelas tidak lagi dimenangkan oleh siswa yang paling aktif bicara saja. Proyek kolaboratif, debat, dan diskusi membuat pembelajaran lebih interaktif karena siswa belajar sambil bekerja sama memecahkan masalah nyata.
Yang paling penting, guru tidak perlu menjadi orang yang paling hebat di kelas. Guru cukup menjadi pembuka pintu. Ia boleh bertanya lebih banyak daripada menjawab, memberi ruang bagi jawaban yang berbeda, dan menghargai proses siswa mencoba. Ketika siswa salah menafsirkan puisi, jangan langsung diberi “jawaban resmi”. Tanyakan alasan mereka. Dari situ, kelas belajar bahwa makna sastra tidak selalu tunggal dan bahwa pendapat perlu didukung oleh alasan.
Pada akhirnya, menghidupkan kelas Bahasa dan Sastra Indonesia bukan berarti menghilangkan materi atau membuat pelajaran menjadi hiburan semata. Justru sebaliknya: materi menjadi lebih mudah dipahami karena siswa mengalaminya, bukan sekadar menghafalnya. Sastra akan terasa dekat ketika siswa boleh tertawa, berdebat, bercerita, bahkan saling menyentuh perasaan melalui kata. Karena sesungguhnya, sastra bukan bahan hafalan. Sastra adalah cara manusia belajar menjadi lebih manusiawi.
