Konten dari Pengguna

Oversharing: Antara Ruang Berekspresi atau Validasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nina Rahma Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Oversharing di Media Sosial, Sumber: https://unsplash.com/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Oversharing di Media Sosial, Sumber: https://unsplash.com/

Pernahkan kalian melihat dan menemukan fenomena oversharing di media sosial atau bahkan teman sendiri? Di satu sisi, memang media sosial menyediakan ruang untuk berekspresi. Tetapi, tidak sedikit pengguna media sosial terlalu sering mengunggah aktivitas sehari-hari secara detail tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul. Menurut (Nurudin, 2007), perkembangan teknologi komunikasi telah menutupi batas antara ruang publik dan ruang privat, sehingga individu sering kali tidak tahu ketika mereka membuka informasi yang seharusnya bersifat personal.

Orang-orang merasa lebih nyaman dan lega ketika menceritakan aktivitas hidupnya. Namun sebaliknya, ketika informasi yang dibagikan terlalu detail, perlu kita perhatikan. Sebagian orang beranggapan oversharing itu bentuk mencari validasi. Seseorang yang terlalu sering membagikan permasalahan pribadinya dianggap sedang membutuhkan perhatian, pengakuan, atau bahkan dukungan dari orang lain.

Perspektif ini muncul karena media sosial menyediakan berbagai bentuk umpan balik instan, seperti likes, komentar, dan jumlah tayangan, yang dapat memberikan rasa diterima secara sosial. Namun, di sisi lain ada pula seseorang yang tidak terlalu mempermasalahkan fenomena tersebut. Ia menganggap bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan batas kenyamanannya sendiri dalam berbagi cerita. Bahkan, beberapa unggahan yang dapat dianggap sebagai oversharing justru dapat membantu orang lain merasa tidak sendirian. Yang artinya, bagi sebagian orang, keterbukaan ini dipandang sebagai bentuk keberaniannya untuk menunjukkan sisi lain dirinya yang selama ini sering disembunyikan.

Dikutip dari penelitian Camilla & Wardhana (2024) yang diterbitkan di NOVARA (Nusantara Innovation and Educational Technology) oversharing berpotensi menyebabkan hilangnya privasi, risiko kejahatan digital, hingga ancaman keamanan, serta gangguan psikologis.

Dari perbedaan cara pandang ini, dapat dikaitkan dengan teori komunikasi massa, yaitu Teori Perbedaan Individu (Individual Differences Theory) yang digagas oleh Melvin De Fleur. Teori ini menjelaskan bahwa setiap individu akan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap media massa berdasarkan kebutuhan psikologis mereka dan setiap individu menggunakan media massa untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka.

Sebagai pengguna media digital, kita perlu memahami bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensinya tersendiri, dengan cara harus meningkatkan literasi digital. Selain itu, kita dapat mengubah cara pandang kita juga dengan menerapkan “sebelum mengunggah, dipikir dulu” dan perlunya mengontrol diri dalam bermedia sosial agar kita bisa mempertimbangkan apakah informasi yang akan dibagikan benar-benar perlu diketahui publik atau lebih tepat disimpan untuk diri sendiri.