Pesan Berantai di Grup Keluarga: Cara Menegur Hoaks Tanpa Menyakiti Hati

Saya mahasiswa akuntansi diuniversitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ninanurmaliaa14 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesan berantai berisi hoaks hampir selalu datang dari orang yang paling sulit kita tegur. Bukan dari akun asing, tapi dari paman, tante, atau orang tua sendiri, lengkap dengan kalimat “tolong sebarkan supaya keluarga kita selamat”. Menurut Ketua Mafindo Maluku Sahril Saleman, seperti dimuat RRI.co.id (4 Agustus 2026), WhatsApp, Facebook, TikTok, dan Instagram adalah jalur paling cepat bagi informasi yang belum tentu benar, dan gelar pendidikan tidak otomatis membuat seseorang kebal hoaks. Buat saya, bagian terakhir itu menohok. Percaya pada hoaks ternyata bukan soal pintar atau tidak, tetapi soal betapa gampangnya kita panik atau peduli sebelum sempat mengecek.
Pesan Berantai Selalu Terasa Meyakinkan
Menurut Mafindo Maluku, informasi yang memancing emosi biasanya lebih mudah menyebar, dan isu yang sering muncul berkisar di SARA, politik, kesehatan, sampai lowongan pekerjaan. Pesan berantai pas sekali di titik itu karena isinya menyentuh rasa takut dan rasa sayang sekaligus. Menurut saya, kita keliru kalau menganggap pengirimnya sengaja menyesatkan. Mereka biasanya cuma ingin melindungi orang-orang tercinta, hanya saja caranya keliru. Sementara itu, menurut Warta Ekonomi yang mengutip Survei Literasi Digital di Indonesia 2021, skor literasi digital masyarakat kita ada di angka 3,49 dari skala 1 sampai 5, alias kategori sedang. Angkanya memang sudah lama, tapi gambarannya masih terasa sampai sekarang.
Menegur Tanpa Bikin Suasana Canggung
Menegur orang yang lebih tua itu serba salah. Kalau dibantah terang-terangan di grup, orang bisa merasa dipermalukan dan malah makin ngotot. Menurut saya, cara yang lebih masuk akal adalah mengirim pesan pribadi, membuka dengan ucapan terima kasih atas perhatiannya, lalu mengajak mengecek bareng. Kita bisa menyertakan tautan cek fakta, misalnya turnbackhoax.id milik Mafindo, dan memakai kalimat yang tidak menghakimi, seperti “Aku nemu info lain, cek bareng yuk”. Caranya memang lebih lama, tapi hubungannya tetap terjaga, dan buat saya itu jauh lebih penting daripada menang debat.
Diam Itu Aman, tetapi Sampai Kapan?
Sebagian orang memilih diam demi menjaga suasana, dan itu bisa dimengerti. Masalahnya, pesan yang dibiarkan akan terus berpindah ke grup lain, dan makin sering dilihat, makin banyak yang mempercayainya. Menurut saya, diam sesekali masih wajar, tapi kalau pesan itu menyangkut kesehatan atau keselamatan, kita sebaiknya tetap bersuara dengan cara yang baik.
Bagaimana melindungi keluarga dari hoaks tanpa merusak keharmonisannya? Pesan berantai adalah pesan yang diteruskan dari satu orang ke banyak orang, sering kali tanpa diperiksa kebenarannya. Menurut saya, melawannya tidak cukup dengan fakta saja. Kita juga perlu sabar dan memakai kata-kata yang membuat orang yang kita sayangi merasa dihargai, bukan dipermalukan.
