Konten dari Pengguna

Hanya Ingin Dirayakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nindya Triananinggasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tina memasuki ruangan yang mewah itu, ia berjalan dengan perlahan. Walaupun ini bukan pertama kali, tapi Tina baru merasakan kehangatan didalam ruangan ini. Bukan, bukan karena penghangat diruangan ini, tapi karena keluarga Gina, sahabatnya yang sedang berulang tahun hari ini ditemani oleh seluruh anggota keluarganya. Ah, kehangatan itu, bahkan Tina tidak pernah merasakannya.

"Tina! Sini!" Panggil Gina.

Tina mencoba untuk tetap tersenyum dan menghampiri Gina. Walaupun setiap langkahnya sangat berat, tapi ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Gina. Karena, yang Gina tahu, hidup Tina sangat beruntung dan juga Cemara. Padahal tidak.

"Selamat ulang tahun, ya." Ucap Tina dengan senyum hangatnya.

"Terima kasih! Oh, iya, mah. Ini sahabatku, Tina." Ucap Gina memperkenalkan Tina.

"Hai, Tina. Terima kasih ya, sudah datang ke acara ulang tahun Gina." Ucap Mamah Gina.

Tina hanya mengangguk malu. Sejujurnya, ia tidak pernah disapa selembut ini. Setelah masa berkenalan selesai, acara ulang tahun itu dimulai. Semuanya sangat merayakan Gina. Tina secara perlahan mundur dari kerumunan, ia tidak sanggup untuk melihat pemandangan didepannya. Ia pergi secara perlahan dan menangis dibelakang gedung.

"Kenapa aku gak pernah merasakan rasanya dirayakan? Aku juga ingin dirayakan." Gumamnya.

Dadanya sangat sesak, ia tidak mengerti, kenapa di hidupnya yang hanya sekali ini tidak bisa merasakan kehangatan keluarga. Ia bahkan mempunyai keluarga yang ekonominya lebih dari Gina, tapi mereka tidak pernah sedikitpun berfikir untuk merayakan ulang tahunnya. Sekedar membelikan kue pun tidak. Bahkan Tina harus memasang peringatan ulang tahun dirinya di ponsel kedua orangtuanya. Kalau tidak seperti itu, tidak akan ada yang ingat.

Tina mulai menghapus air matanya, ia segera balik ke gedung itu. Tapi, diperjalanan mengarah gedung, Tina menginjak pisang yang mengakibatkan dirinya terpleset dan kepalanya terbentur batu pembatas jalan. Seseorang yang melihatnya langsung menghampiri Tina dan melakukan pertolongan pertama.

Setibanya di rumah sakit, Tina masih tidak sadarkan diri. Dirinya kehilangan banyak darah dan akibat benturan itu, darahnya menggumpal dikepalanya. Orang tuanya sangat mengkhawatirkan putrinya itu.

Selang beberapa hari, Tina sadarkan diri. Tapi, waktu sadarnya itu hanya sebentar. Ia memanggil orang tuanya yang sedang tertidur disofa.

"Mah.. Pah.." Panggil Tina dengan lemas.

Orang tuanya langsung terbangun karena panggilan itu. "Tina! Ya ampun, akhirnya kamu sadar juga." Ucap Mamah Tina.

Tina tersenyum hangat. "Mah, Pah, aku boleh minta satu permintaan?" Tanya Tina yang membuat orang tuanya bingung tapi akhirnya menginyakan keinginan putrinya.

"Iya, nak. Kamu mau apa?" Tanya Papah Tina.

"Aku mau dirayakan, tepat diulang tahunku." Jawab Tina.

"Iya, pasti. Tapi kamu harus sembuh dulu." Ucap Papah Tina.

"Janji?" Ucap Tina yang sambil mengarahkan kedua jari kelingkingnya itu kepada kedua orang tuanya.

"Janji!" Setelah orang tuanya mengucapkan itu, mata Tina tertutup rapat dengan senyum yang masih tertera. Orang tuanya yang panik segera memanggil dokter untuk memeriksanya. Tetapi, dokter berkata lain. Tina, putri sulungnya itu, telah tiada. Orang tuanya menangis dengan sangat menyesal karena baru menyadari bahwa dirinya tidak pernah merayakan ulang tahun putrinya itu.

Ilustrasi: dokumen Nindya Triananinggasari