Semampunya, Selalu: Ketika Cinta Hadir Lewat Hal-Hal Sederhana

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Nindya Triananinggasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku baru saja melihat sebuah unggahan di media sosial yang membicarakan tentang bahasa cinta laki-laki. Kalimatnya sederhana, tetapi cukup membuatku berhenti menggulir layar.
Katanya, “Cowok kalau benar-benar cinta sama cewek, jiwa nge-providenya pasti ugal-ugalan.”
Aku tidak tahu harus mengangguk atau menggeleng. Mungkin ada benarnya. Namun, menurutku, cinta tidak pernah sesederhana seberapa banyak uang yang mampu dikeluarkan seseorang untuk perempuan yang dicintainya.
Aku justru teringat sebuah komentar di bawah unggahan itu. Seseorang menulis bahwa provider bukan hanya tentang uang, melainkan tentang effort, tanggung jawab, waktu, perhatian, dan keinginan untuk ikut memudahkan hidup orang yang dicintai.
Aku membaca komentar itu berkali-kali.
Lalu tersenyum.
Karena tiba-tiba, aku teringat seseorang.
***
Aku masih ingat pertemuan pertama kami.
Ada banyak hal yang terjadi hari itu, tetapi entah mengapa yang paling melekat justru hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Sesampainya di tempat kami bertemu, ia menghampiriku dan tanpa banyak bicara langsung membukakan helm yang sedang kupakai.
Aku sempat terdiam.
“Biar aku,” katanya ringan.
Tangannya kemudian berpindah ke tasku. Tas laptop yang sejak tadi kubawa, ia ambil begitu saja dari tanganku.
“Ini juga.”
“Eh, nggak usah. Aku bisa bawa sendiri.”
Ia hanya menggeleng.
“Udah, sini.”
Aku menurut.
Kemudian ketika pesanan kami datang, ia pula yang mengambil dan membawanya ke meja. Sementara aku? Tugasku hanya duduk manis, menerima semua perlakuan itu dengan sedikit kebingungan yang bercampur rasa senang.
Sungguh, aku tersentuh.
Mungkin terdengar sepele. Hanya helm. Hanya tas laptop. Hanya membawa pesanan. Tetapi aku belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu sebelumnya.
Aku tidak terbiasa diperlakukan seolah-olah ada seseorang yang dengan senang hati berkata, tanpa perlu diminta, “Biar aku yang bantu.”
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti dimudahkan. Seperti ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil bahkan sebelum aku sempat memintanya.
Dan ternyata, aku menyukainya. Bukan karena aku tidak mampu melakukannya sendiri. Aku hanya menyukai perasaan ketika seseorang memilih untuk melakukannya untukku.
***
Pertemuan berikutnya, ia masih menjadi dirinya yang sama.
Ia kembali membantuku mengenakan helm. Setelah itu, kami berjalan bersama di atas motor. Di tengah perjalanan, ia memberikan sesuatu kepadaku.
Susu stroberi.
Aku menerimanya sambil memandangnya dengan sedikit heran.
“Buat aku?"
Ia hanya mengangguk.
Aku menatap kotak susu itu, satu kata yang terlintas di kepalaku saat itu hanya:
Lucu.
Entah kenapa, pemberian sesederhana susu stroberi bisa terasa begitu manis. Mungkin bukan susunya yang membuatku tersentuh, tetapi kenyataan bahwa ia memikirkanku bahkan untuk sesuatu yang sekecil itu.
Dan lucunya, sejak hari itu, aku jadi menyukai susu stroberi.
Barangkali memang begitulah cara kenangan bekerja. Kadang ia menyelipkan seseorang ke dalam hal-hal sederhana yang kemudian kita temui berkali-kali.
***
Angin menyapu kerudungku sepanjang perjalanan. Aku duduk di belakangnya dengan kedua tangan yang penuh. Ponsel masih kugenggam, sementara aku sebenarnya ingin lebih dekat dengannya.
Tangannya tiba-tiba mencari tanganku. Ia menarik pelan dan langsung menaruh tanganku di pinggangnya. Aku menyodorkan tanganku yang satunya.
"Tanganku penuh.”
Ia melihat tanganku, lalu tanpa banyak berpikir berkata,
“Sini, HP kamu masukin ke jaket aku aja.”
“Nih.”
Setelahnya ia menarik kedua tanganku untuk memeluknya lebih erat. Aku terdiam beberapa detik.
Ah. Sungguh manisnya.
Aku pun memeluknya dengan puas, membiarkan angin terus menyapu kerudungku sementara ia membawaku dalam perjalanan.
Tidak banyak kata di antara kami saat itu.
Hanya suara kendaraan, angin yang berembus, dan sesekali tangannya yang mengusap tanganku dengan lembut.
Aneh, ya.
Kadang sebuah perjalanan yang dipenuhi keheningan justru menjadi salah satu kenangan paling ramai di kepala.
Sebab ada begitu banyak hal yang tidak perlu dikatakan.
Ia tidak mengatakan, “Aku ingin membuatmu nyaman.”
Ia hanya melakukannya.
Ia tidak mengatakan, “Aku ingin menjagamu.”
Ia hanya memastikan aku bisa memeluknya dengan nyaman sepanjang perjalanan.
Dan saat itu aku mulai memahami sesuatu. Ternyata perhatian tidak selalu datang dalam bentuk kalimat-kalimat romantis. Kadang, ia datang dalam bentuk perlakuan kecil.
***
Pertemuan demi pertemuan berlalu.
Dan ternyata, ia tetap seperti itu. Tidak hanya sekali. Tidak hanya pada awal hubungan ketika semuanya masih terasa baru. Ia terus melakukannya.
Helmku tetap ia pakaikan. Barang-barangku tetap ia bantu bawakan. Ketika aku menginginkan sesuatu, jawabannya sering kali begitu sederhana.
“Iya.”
Atau,
“Boleh.”
Kadang aku bahkan sengaja bertanya lagi karena takut ia hanya mengiyakan tanpa benar-benar mau.
“Serius boleh?”
“Iya, boleh.”
“Enggak keberatan?”
“Enggak.”
Aku tersenyum setiap kali mendengarnya.
Sebab dari sekian banyak kata yang mungkin bisa menggambarkan dirinya, ada satu kata yang paling sering muncul di kepalaku:
Konsisten.
Ia tidak hanya baik ketika ingin membuatku terkesan, tidak hanya perhatian ketika hubungan kami masih berada di awal. Tetapi, ia terus berusaha hadir dengan cara yang sama, bahkan ketika mungkin ia sudah tidak perlu lagi membuktikan apa-apa kepadaku.
Dan menurutku, justru di situlah letak istimewanya.
***
Tentu saja, aku tidak menutup mata terhadap uang yang sudah ia keluarkan setiap kali kami bertemu. Aku tahu ada harga yang harus dibayar untuk setiap makanan yang kami pesan, perjalanan yang kami tempuh, dan banyak hal lainnya. Semua itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ada uang yang ia sisihkan, tenaga yang ia keluarkan, dan waktu yang ia korbankan. Dan aku melihat usahanya. Aku benar-benar melihatnya.
Karena itu, aku tidak pernah ingin mengatakan bahwa uang bukan bagian dari bentuk kasih sayang. Tentu saja bisa menjadi salah satunya. Ketika seseorang menggunakan apa yang ia punya untuk membuat orang yang dicintainya bahagia, itu juga merupakan bentuk cinta. Hanya saja, bagiku, yang membuat semua itu terasa berarti bukan nominalnya, melainkan usaha yang ada di baliknya.
Ia tidak harus mengeluarkan banyak uang untuk membuatku merasa dicintai. Sebab bahkan sebelum mengeluarkan uang, ia sudah lebih dulu memberikan waktu, tenaga, perhatian, rasa aman, dan kehadirannya. Hal-hal yang mungkin tidak memiliki harga, tetapi justru menjadi sesuatu yang paling berharga bagiku.
Ia berusaha, dan aku bangga melihatnya. Bukan karena ia mampu membayar ini dan itu untukku, tetapi karena aku tahu ia sedang berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang ingin hadir, menjaga, dan memastikan bahwa aku baik-baik saja.
***
Mungkin, selama ini kita terlalu sering mengukur cinta dari sesuatu yang bisa dilihat. Dari hadiah, harga makan malam, barang-barang mahal, atau seberapa sering seseorang mentraktir pasangannya. Seolah-olah semakin besar sesuatu yang diberikan, semakin besar pula cinta yang dimiliki.
Padahal, ada begitu banyak bentuk cinta yang tidak pernah bisa kita masukkan ke dalam angka. Berapa harga seseorang yang rela menunggu? Berapa harga seseorang yang memastikan kita sampai dengan selamat? Atau berapa harga sebuah pelukan ketika hari terasa begitu berat?
Tidak ada.
Sebab beberapa hal memang tidak diciptakan untuk dihitung. Tidak semua bentuk kasih sayang harus memiliki harga, tanda terima, atau ukuran yang bisa dibandingkan dengan milik orang lain. Ada cinta yang hadir begitu sederhana, tetapi justru menetap paling lama di hati.
Dan aku merasa dicintai melalui semua itu.
***
Malam itu, setelah membaca komentar tentang provider tersebut, aku membuka percakapan kami.
Aku mengetik sesuatu, lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Pada akhirnya, aku hanya menulis:
“Terima kasih, ya, sayang.”
Beberapa saat kemudian, balasannya masuk.
“Terima kasih kenapa?”
Aku tersenyum melihat layar.
“Untuk semuanya.”
Mungkin ia tidak akan pernah benar-benar tahu apa yang kumaksud dengan "semuanya".
Sebab ketika mengatakan itu, pikiranku kembali pada begitu banyak hal kecil yang pernah ia lakukan.
Apakah ia sadar bahwa hal-hal kecil itu telah menjadi kenangan yang begitu besar untukku. Bahwa setiap perhatian yang mungkin ia lakukan tanpa berpikir panjang, diam-diam kusimpan sebagai bukti bahwa pernah ada seseorang yang begitu sungguh-sungguh ingin membuatku aman dan nyaman.
Namun, jika suatu hari ia bertanya apakah semua usahanya berarti, aku ingin menjawab dengan tegas:
Iya. Sangat berarti.
Terima kasih untuk setiap hal yang kamu usahakan untukku, sayang.
Terima kasih karena kamu mengajarkanku bahwa menjadi seorang provider tidak selalu berarti harus memberikan dunia kepada seseorang. Kadang, cukup dengan berusaha membuat dunia orang yang kita cintai terasa sedikit lebih ringan.
Aku tahu kamu tidak sempurna.
Aku juga tahu tidak selamanya kamu bisa mengatakan iya dan boleh pada segala keinginanku. Akan ada hari ketika kamu lelah, ada hari ketika kamu tidak mampu, ada hari ketika kita sama-sama punya banyak hal yang harus diselesaikan.
Dan tidak apa-apa.
Aku tidak ingin kamu memaksakan diri hanya untuk memenuhi bayanganku tentang laki-laki yang sempurna.
Aku hanya ingin kamu tetap menjadi kamu yang selalu berusaha, yang hadir semampunya, memberi sebisanya, menjaga dengan caranya.
Yang ketika aku berjalan terlalu berat, tidak selalu mengangkat seluruh tubuhku, tetapi setidaknya menggenggam tanganku dan berkata,
“Pelan-pelan. Aku di sini.”
Semoga kamu tetap seperti ini. Semoga kita tetap menemukan bentuk-bentuk cinta kecil di sepanjang perjalanan kita nanti.
Dan sedikit egois, aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin terlalu besar untuk sebuah pesan sederhana:
Aku ingin seperti ini selamanya.
Bukan selamanya dengan segala kemewahan, bukan selamanya dengan semua keinginan yang harus terpenuhi. Tetapi selamanya dengan perasaan bahwa kita saling mengusahakan.
Kamu menjagaku semampumu.
Aku menghargaimu sepenuh hatiku.
Dan kita berdua terus belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, melainkan tentang dua orang yang sama-sama ingin membuat hidup satu sama lain terasa lebih ringan.
Kalau nanti suatu hari kita sudah jauh melewati hari-hari ini, mungkin aku tidak akan mengingat berapa harga makanan yang pernah kamu bayarkan atau berapa banyak uang yang pernah kamu keluarkan untukku.
Tetapi aku yakin akan tetap mengingat bagaimana rasanya ketika pertama kali seseorang membukakan helmku, membawakan tasku, memberiku susu stroberi, mencari tanganku di tengah perjalanan, lalu menyuruhku memeluknya.
Dan mungkin, sampai kapan pun, setiap kali melihat susu stroberi, aku akan tersenyum kecil dan berpikir:
“Ah, pernah ada seseorang yang membuat hal sesederhana ini terasa begitu manis.”
