Mahasiswa BBM UM Hidupkan Kembali Madin Vakum melalui Bimbel di Selorejo Blitar

Mahasiswa S1 Fisika Universitas Negeri Malang (UM). Sedang mempertimbangkan untuk belajar HEP, Dark Matter, Fisika Kuantum atau Astronomi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Norbertus Nathan Pratihata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Madrasah Diniyah (Madin), selama ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk memperdalam ilmu agama melalui kegiatan mengaji dan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Kondisi ini dapat dijumpai dengan mudahnya di berbagai tempat, berbagai Madin, jika tidak TPQ, baik yang terintegrasi dengan Masjid maupun tidak. Namun, kondisi tersebut tidak selalu dapat dipertahankan. Misalnya, di Lingkungan Selorejo, Desa Nglegok, Kabupaten Blitar, Madrasah Diniyah “Roudlotul Mubtadi’in” sempat mengalami vakum sejak berakhirnya bulan Ramadhan karena tidak ada lagi kegiatan yang berjalan secara rutin. Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa peserta program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Universitas Negeri Malang (UM) yang sedang melaksanakan pengabdian di wilayah tersebut.
#
Saat pertama kali tiba di Lingkungan Selorejo, mahasiswa BBM UM menemukan bangunan Madin yang berada tepat di seberang kediaman Ketua RW setempat. Awalnya, mereka tidak mengetahui apakah madrasah tersebut masih aktif atau tidak, apakah ia masih berfungsi sebagai tempat mengaji dan belajar agama bagi anak-anak. Berangkat dari pemikiran itu, mahasiswa sempat berencana ikut membantu kegiatan yang telah ada sembari menambahkan program bimbingan belajar (bimbel) untuk mendampingi anak-anak dalam mata pelajaran yang ditemuinya di sekolah. Namun, setelah berdiskusi dengan Ketua RW 06 Lingkungan Selorejo, Imam Mustofa dan Daimatul Khasanah, mereka menjadi mengetahui bahwa ternyata Madin tersebut sudah tidak lagi aktif sejak Ramadhan terakhir, Ramadhan 1447 H, berakhir.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa BBM UM mengusulkan dan meminta izin serta memohon restu untuk penyelenggaraan program bimbel yang dipusatkan di Madin “Roudlotul Mubtadi’in”. Gagasan tersebut disambut baik oleh Ketua RW yang tidak hanya memberikan izin penggunaan bangunan madrasah, tetapi juga mempercayakan mahasiswa untuk menghidupkan kembali suasana belajar dan mengajak anak-anak lingkugan setempat untuk kembali berkegiatan di sana.
“Silahkan. Kami tentu senang dan sangat terbuka dengan inisiatif adik-adik mahasiswa BBM untuk mengadakan les, bimbel, memanfaatkan Madrasah Diniyah yang ada. Silahkan, pergunakan, dan semoga selama program berlangsung anak-anak mulai kembali datang, belajar bersama, dan Madin kembali hidup,” ujar Imam Mustofa, selaku Ketua RW 06 Lingkungan Selorejo, Nglegok, sembari menyerahkan kunci ke tim mahasiswa.
Sementara itu, Daimatul Khasanah, istri dari Imam Mustofa, sebagai Ibu RW 06 Lingkungan Selorejo, menambahkan harapan bahwasanya kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kembali kebiasaan anak-anak untuk belajar di Madin. “Anak-anak di sini sebenarnya antusias kalau ada kegiatan, terutama yang diselenggarakan kakak-kakak seperti kalian. Mereka merasa punya kakak-kakak dan dapat bonus bimbingan belajar. Jadi, mudah-mudahan setelah teman-teman mahasiswa selesai nanti pun mereka tetap semangat datang ke Madin.”
Menindaklanjuti sambutan ini, mahasiswa BBM kemudian menjadwalkan berlangsungnya kegiatan ini secara rutin setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, mulai dari 22 Juni hingga 10 Juli.
#
Pada pertemuan perdana yang dilaksanakan pada Senin, 22 Juni 2026, ternyata ada sebuah kejutan yang menanti tim mahasiswa. Awalnya, hanya beberapa anak saja yang datang sambil mengajak satu atau dua temannya dan mereka adalah anak-anak yang sempat ditemui oleh tim mahasiswa di hari-hari pertama di lingkungan setempat.
Menjelang waktu dimulainya bimbel, jumlah peserta masih berada di bawah lima belas orang, kini dengan beberapa wajah yang belum dikenali. Namun, tidak lama kemudian, jumlah tersebut mendadak meningkat hingga mendekati dua puluh lima peserta, melampaui ekspektasi. Antusiasme itu bahkan terus bertambah pada pertemuan kedua di mana tercatat hampir tiga puluh anak dari berbagai jenjang, mulai taman kanak-kanak hingga siswa sekolah dasar kelas lima—bahkan beberapa anak yang belum bersekolah—turut mengikuti kegiatan. Bahkan, ada beberapa anak yang sempat bertanya, “Aku mau ngajak temanku lagi boleh kan, kak?”
Mulanya, tim mahasiswa merancang dilaksanakannya bimbel ini untuk membantu anak-anak peserta pada mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris, dengan tambahan Pendidikan Agama Islam (PAI). Namun, hanya dalam dua kali pertemuan, mereka telah menemukan bahwa kemampuan peserta begitu beragam. Misalnya, terdapat beberapa anak yang belum lancar membaca. Kondisi tersebut kemudian mendorong tim untuk menyesuaikan proses pembelajaran, di mana selain membentuk kelompok khusus belajar membaca dan menulis, peserta juga dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka dalam matematika dan bahasa Inggris sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Pendekatan ini juga membantu mahasiswa memberikan perhatian yang lebih intensif kepada peserta yang memerlukan pendampingan lebih lanjut, baik untuk membantu peserta yang masih memiliki kesulitan maupun memberikan pengayaan kepada yang telah menguasai materi.
Pendekatan yang diterapkan tidak berhenti pada pembagian kelompok belajar. Pada setiap pertemuan, baik untuk matematika, bahasa Inggris, maupun membaca dan menulis, tim mahasiswa mengombinasikan penyampaian materi, latihan soal, diskusi, dan permainan edukatif sederhana serta pendampingan secara langsung agar proses menjadi lebih interaktif, intensif, dan efektif, tanpa menghilangkan aspek menyenangkan supaya antusiasme peserta dapat dipertahankan.
#
Kegiatan PAI yang dilaksanakan pada hari Jumat juga dikemas sedikit berbeda. Apabila pembelajaran di Madin umumnya berfokus pada mengaji dan baca-tulis Al-Qur’an, tim mahasiswa BBM mencoba menghadirkan materi yang lebih dekat dengan kehidupan sehar-hari. Anak-anak peserta bimbel diajak mengenal doa-doa harian, memahami berbagai macam salat beserta sifat-sifatnya, hingga mempraktikkan materi yang telah dipelajari. Pemilihan materi tersebut dilatarbelakangi pengakuan beberapa anak-anak peserta bahwa mereka merasa kegiatan yang hanya berisi mengaji mulai terasa monoton. Tim mahasiswa memilih penyampaian materi PAI ini sebagai pelengkap agar anak-anak tetap memperoleh pembelajaran agama dengan cara yang lebih bervariasi dan menarik sebagai tanggapan akan hal tersebut.
Pertama, Zacky Afifudin menjelaskan bahwa materi PAI perlu diperluas agar anak-anak memperoleh bekal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Kami ingin mereka lebih dari sekedar bisa membaca Al-Qur’an. Kami ingin mereka memahami bagaimana menerapkan ajaran Islam dalam keseharian, mulai dari doa-doa harian, doa yang mungkin perlu diketahui seperti doa untuk orang tua, doa sebelum belajar, sampai praktik salat,” jelasnya.
Riyadhil Zaky, kemudian mengungkapkan bahwa ide tersebut muncul dalam diskusi mereka setelah mendengar langsung cerita dari anak-anak lingkungan setempat di luar sesi bimbel. “Beberapa bercerita kalau kegiatan Madin biasanya hanya mengaji, sedang mereka di sekolah mayoritas juga sudah memiliki jam mengaji sendiri. Oleh karena itu, kami mencoba menyelinginya dengan materi PAI yang lebih variatif supaya mereka tetap antusias dalam mengikuti pembelajaran,” katanya.
#
Selama sembilan kali pelaksanaan bimbel menurut jadwal yang telah ditetapkan, jumlah peserta memang fluktuatif. Beberapa anak sesekali berhalangan hadir karena berbagai keperluan. Bagusnya, mereka selalu kembali mengikuti kegiatan pada pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Bahkan, sesekali muncul wajah-wajah baru yang ikut bergabung setelah mendengar cerita dari teman-temannya. Bagi tim mahasiswa BBM, ini merupakan sesuatu yang menggembirakan sebab itu berarti mereka bergerak ke arah yang benar dalam membangun kembali suasana yang sempat hilang di Madin tersebut.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan bimbel sendiri, tim mahasiswa menyelenggarakan lomba edukatif tepat setelah les kesembilan, yakni pada Sabtu, 11 Juli 2026. Aneka permainan edukatif disiapkan dengan harapan anak-anak peserta merasa senang dan tetap betah dengan suasana Madin. Misalnya, ada cerdas cermat bergaya Family 100, lomba yang terdiri dari posko-posko nan menguji kemampuan berpikir dan daya ingat, dan akhirnya lomba makan kue. Lomba cerdas cermat dan posko-posko yang meliputi menyusun kata dari huruf, mengingat aneka benda yang ada dalam suatu kotak, semuanya menumbuhkan keberanian untuk berinisiatif dan mengungkapkan ide-idenya serta kerja sama antar peserta.
Setelah lomba berlangsung selama anak-anak peserta bimbel masih bersemangat, akhirnya kegiatan berakhir dan ditutup dengan pembagian hadiah sebagai bentuk apresiasi atas semangat anak-anak—tetapi tidak hanya selama perlombaan melainkan juga selama mereka mengikuti rangkaian program bimbel yang diadakan di Madin. Pun di tengah-tengah suasana pembagian hadiah itu, menjelang berakhirnya keseluruhan rangkaian kegiatan, masih ada seorang peserta yang sempat bertanya, “Besok les lagi ya kan, Kak?” Pertanyaan yang sederhana, tetapi berkesan, dan benar-benar menjadi tanda antusiasme yang patut diapresiasi serta tanda bahwa Madrasah Diniyah “Roudlotul Mubtadi’in” perlahan kembali hidup.
Program bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh tim mahasiswa BBM UM di ini tidak hanya menjadi sarana membantu anak-anak memahami pelajaran sekolah, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi Madin sebagai sebuah ruang belajar bagi anak-anak, yang aktif di tengah masyarakat. Antusiasme peserta yang tercermin dari kehadiran, jumlah peserta sejak pertemuan pertama hingga penutupan, boleh dijadikan bukti bahwa ruang belajar yang dikelola bersama dan disesuaikan dengan kondisi dan/atau kebutuhan anak-anak pesertanya, masih sangat perlu. Melalui program sederhana tersebut, tim mahasiswa berharap semangat belajar dan suasana yang telah tumbuh dapat terus terjaga dan dilanjutkan oleh guru-guru Madin sebagai permulaan kembali aktifnya kegiatan Madrasah Diniyah “Roudlotul Mubtadi’in” di Lingkungan Selorejo Nglegok.
