Konten dari Pengguna

Mahasiswa BBM UM Sempurnakan Tracing Board, Permudah Membatik di Nglegok

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Norbertus Nathan Pratihata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika berbicara tentang batik, perhatian orang umumnya tertuju pada keindahan motif yang menghiasi selembar kain atau keterampilan seorang pembatik ketika menggoreskan canting berisi malam panas. Padahal, jauh sebelum lilin mulai membentuk garis-garis motif, terdapat satu tahapan yang sama pentingnya tetapi jarang mendapat perhatian, yakni memindahkan pola ke atas kain. Tahapan tersebut menuntut ketelitian, kesabaran, dan posisi tubuh yang harus dipertahankan dalam waktu yang tidak sebentar. Semakin rumit motif yang dikerjakan, semakin besar pula konsentrasi dan tenaga yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

Bagi banyak perajin batik, proses tersebut mungkin telah menjadi bagian dari rutinitas. Akan tetapi, bagi penyandang disabilitas maupun siapa pun yang harus membatik dalam durasi panjang, pekerjaan itu dapat menjadi tantangan tersendiri. Posisi kerja yang kurang nyaman membuat tubuh lebih cepat lelah, sementara proses penyalinan pola secara manual menuntut ketelitian tinggi agar setiap garis dapat berpindah ke atas kain dengan tepat. Kedua hal tersebut sering kali tidak tampak ketika orang mengagumi selembar batik yang telah selesai dibuat, padahal justru menjadi bagian penting yang menentukan kelancaran proses pembuatannya.

Persoalan inilah yang ditemui mahasiswa peserta program Universitas Negeri Malang Belajar Bersama Masyarakat (UM BBM) ketika melaksanakan pengabdian di Desa Nglegok, Kabupaten Blitar. Di Griya Batik Penataran Ageng "Cahaya Palah", mereka mendapati bahwa kegiatan membatik secara rutin diikuti oleh Ibu Muslimat NU Ranting Nglegok bersama penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya melestarikan batik sekaligus memberdayakan masyarakat. Selama mengamati proses membatik, mahasiswa melihat bahwa tantangan yang dihadapi peserta bukan terletak pada semangat untuk berkarya, melainkan pada keterbatasan sarana pendukung yang digunakan sehari-hari.

Salah satu temuan yang kemudian menjadi perhatian ialah keberadaan meja tracing yang sebenarnya telah dimiliki oleh mitra. Alat tersebut masih dapat digunakan untuk membantu memindahkan motif batik, namun belum memungkinkan penggunanya mengatur tinggi maupun kemiringan bidang kerja sesuai kebutuhan. Permukaan kerjanya pun masih menggunakan kaca transparan biasa dengan pencahayaan sederhana sehingga belum memberikan kenyamanan maupun pencahayaan yang optimal ketika digunakan dalam waktu lama. Bagi sebagian orang kondisi tersebut mungkin hanya terasa kurang praktis, tetapi bagi peserta yang membutuhkan posisi kerja yang lebih fleksibel, keterbatasan tersebut cukup berpengaruh terhadap kenyamanan membatik.

Berangkat dari hasil pengamatan tersebut, mahasiswa tidak terburu-buru menawarkan solusi. Mereka terlebih dahulu berdiskusi bersama mitra dan dosen pelaksana pengabdian untuk memahami kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Diskusi tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa sarana yang telah ada tidak perlu diganti seluruhnya, melainkan dikembangkan agar lebih sesuai dengan kondisi pengguna. Dari sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan sebuah tracing board baru yang dipadukan dengan meja ergonomis sehingga proses penyalinan pola dan membatik dapat dilakukan dengan lebih nyaman sekaligus lebih presisi.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui proses perancangan dan pembuatan alat yang berlangsung selama beberapa pekan. Meja ergonomis dikembangkan dari meja yang telah memiliki mekanisme pengaturan tinggi, kemudian dimodifikasi sehingga bidang kerjanya menjadi lebih luas sekaligus dapat diatur kemiringannya. Perubahan tersebut dilakukan agar meja mampu menyesuaikan ukuran kain batik serta memberikan posisi kerja yang lebih nyaman bagi pengguna. Sementara itu, tracing board dirancang menggunakan rangka berbahan tripleks dengan tambahan pita aluminium sebagai reflektor cahaya. Di bagian dalamnya dipasang lampu LED strip, sedangkan permukaan kerjanya menggunakan dua lapis akrilik transparan dan akrilik susu agar cahaya dapat tersebar lebih merata ketika digunakan untuk menyalin motif batik. Menariknya, kedua alat tersebut juga dirancang agar dapat digunakan secara terpisah maupun bersamaan sesuai kebutuhan proses membatik.

Setelah seluruh proses pembuatan dan pengujian selesai, mahasiswa melaksanakan pelatihan penggunaan alat pada Sabtu, 25 Juli 2026 di Griya Batik Penataran Ageng "Cahaya Palah". Kegiatan tersebut diikuti oleh penyandang disabilitas dan Ibu Muslimat NU Ranting Nglegok yang selama ini aktif mengikuti kegiatan membatik.

Pelatihan diawali dengan demonstrasi mengenai cara mengoperasikan tracing board dan meja ergonomis, mulai dari mengatur posisi meja, memanfaatkan pencahayaan pada tracing board, hingga cara perawatan alat agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Setelah itu, peserta dipersilakan mencoba secara langsung dengan pendampingan mahasiswa sehingga setiap peserta dapat memahami penggunaan alat sesuai kebutuhan masing-masing. Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa tidak hanya memperlihatkan cara kerja alat, tetapi juga mendampingi peserta ketika mulai memindahkan motif batik menggunakan tracing board. Di sela-sela praktik tersebut, peserta bebas bertanya mengenai pengaturan alat maupun posisi kerja yang dirasa paling nyaman. Pendekatan tersebut membuat pelatihan berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman antara mahasiswa dan para perajin, di mana setiap masukan dari peserta menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana alat tersebut benar-benar digunakan dalam aktivitas membatik sehari-hari.

Menutup rangkaian kegiatan pengabdian, tim mahasiswa menyerahkan tracing board dan meja ergonomis kepada mitra agar dapat terus dimanfaatkan setelah program UM BBM berakhir. Penyerahan tersebut bukan sekadar menjadi simbol selesainya kegiatan pengabdian, melainkan bentuk komitmen agar inovasi yang telah dikembangkan tetap memberikan manfaat bagi kegiatan membatik di Griya Batik Penataran Ageng "Cahaya Palah". Dengan demikian, alat yang dikembangkan mahasiswa tidak berhenti sebagai luaran program, tetapi menjadi bagian dari sarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran maupun produksi batik secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, pelestarian batik tidak hanya berarti menjaga motif-motif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pelestarian juga berarti terus memperbaiki cara masyarakat dapat berkarya di balik setiap lembar kain yang dihasilkan. Melalui pengembangan tracing board dan meja ergonomis tersebut, mahasiswa UM BBM menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berupa teknologi yang rumit. Terkadang, perubahan yang paling berarti justru lahir dari kesediaan untuk mengamati, mendengarkan kebutuhan masyarakat, lalu menyempurnakan hal-hal sederhana yang selama ini telah mereka gunakan. Ketika motif batik berikutnya kembali dipindahkan ke atas kain di Griya Batik Penataran Ageng "Cahaya Palah", pekerjaan itu mungkin masih memerlukan ketelitian yang sama. Namun kini, prosesnya dapat dilakukan dengan cara yang lebih nyaman, lebih presisi, dan lebih inklusif bagi siapa pun yang ingin terus menjaga hidupnya warisan budaya Indonesia.