Promo Belanja Online: Hemat atau Justru Bikin Boros?

Mahasiswa Perbankan Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Novi Aviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Diskon dan Gratis Ongkir yang Menggubah Kebiasaan Konsumen di Era Digital

Belanja Murah yang Semakin Menggoda
Belanja online kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui ponsel, konsumen dapat membeli pakaian, makanan, produk perawatan diri, hingga kebutuhan rumah tangga tanpa harus pergi ke toko. Kemudahan tersebut semakin menarik dengan adanya berbagai promo, seperti diskon, cashback, voucher, dan gratis ongkir.
Bagi banyak orang, promo menjadi kesempatan untuk mendapatkan barang dengan harga lebih murah. Namun, ada kebiasaan yang sering tidak disadari: seseorang yang awalnya tidak berniat membeli barang justru tertarik berbelanja karena melihat potongan harga. Akibatnya, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain malah terpakai untuk membeli barang tambahan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan sederhana, tetapi penting: apakah promo belanja online benar-benar membuat konsumen lebih hemat atau justru mendorong mereka menjadi lebih boros?
Promo Menjadi Daya Tarik Konsumen
Promo merupakan salah satu strategi yang digunakan pelaku usaha untuk menarik perhatian konsumen. Penawaran berupa potongan harga dan gratis ongkir membuat produk terlihat lebih menarik serta dapat mendorong konsumen segera melakukan pembelian.
Dikutip dari laporan Bisnis.com pada 16 September 2025, riset YouGov menunjukkan bahwa 68% konsumen Indonesia memilih belanja online karena harga yang lebih murah dibandingkan toko fisik. Selain itu, 48% responden menyebut promosi sebagai salah satu alasan mereka memilih belanja online. Temuan ini menunjukkan bahwa harga dan promo memiliki peran penting dalam keputusan belanja konsumen.
Di satu sisi, promo memang memberikan keuntungan apabila dimanfaatkan untuk membeli barang yang sudah direncanakan. Misalnya, seseorang ingin membeli kebutuhan kuliah dan menemukan potongan harga untuk produk yang memang dibutuhkan. Jika harga akhirnya lebih murah dan sesuai anggaran, promo tersebut dapat membantu menghemat pengeluaran.
Namun, situasinya berbeda ketika seseorang membeli barang hanya karena tergiur diskon. Potongan harga yang besar belum tentu berarti penghematan apabila barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Dalam kondisi ini, promo justru dapat menjadi alasan untuk mengeluarkan uang lebih banyak.
Ketika Diskon Membuat Pengeluaran Bertambah
Salah satu tantangan dalam belanja online adalah munculnya keinginan membeli barang secara spontan atau impulsive buying. Keputusan pembelian seperti ini sering terjadi tanpa perencanaan yang matang.
Contohnya, seseorang awalnya hanya ingin membeli satu barang seharga Rp50.000. Namun, karena melihat promo tambahan, ia akhirnya membeli beberapa barang lain dengan total pengeluaran Rp150.000. Walaupun setiap barang terlihat murah, jumlah uang yang dikeluarkan tetap lebih besar daripada rencana awal.
Selain itu, penawaran dengan batas waktu tertentu dapat membuat konsumen merasa harus segera membeli sebelum kesempatan berakhir. Kalimat seperti “promo terbatas” atau “diskon hari ini saja” dapat mendorong keputusan yang terburu-buru. Konsumen akhirnya lebih berfokus pada kesempatan memperoleh diskon daripada mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangan.
Kebiasaan tersebut perlu diperhatikan, terutama oleh mahasiswa dan generasi muda yang masih belajar mengatur uang saku. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat mengurangi anggaran untuk kebutuhan yang lebih penting, seperti makan, transportasi, perlengkapan kuliah, dan tabungan.
Artinya, masalahnya bukan terletak pada promo itu sendiri, melainkan pada cara konsumen menyikapi penawaran tersebut.
Hemat Bukan Sekadar Mendapatkan Diskon
Dalam kegiatan ekonomi, perilaku konsumen yang bijak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendapatkan harga murah, tetapi juga oleh kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.
Promo dapat memberikan manfaat apabila konsumen membandingkan harga, memeriksa kualitas barang, serta mempertimbangkan biaya tambahan sebelum melakukan transaksi. Sebaliknya, membeli barang hanya karena takut kehilangan kesempatan diskon dapat membuat pengeluaran tidak terkendali.
Karena itu, harga setelah diskon tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan. Konsumen juga perlu melihat apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah kualitasnya sesuai, dan apakah pembeliannya tidak mengganggu anggaran untuk kebutuhan lain.
Dalam perspektif ekonomi Islam, kegiatan konsumsi juga mengajarkan pentingnya sikap sederhana dan tidak berlebihan. Prinsip ini berkaitan dengan perilaku menghindari pemborosan serta menggunakan harta secara bertanggung jawab. Dengan demikian, berbelanja bukan hanya soal memperoleh barang, tetapi juga tentang mempertimbangkan manfaat dan kemampuan keuangan.
Cara Memanfaatkan Promo agar Tetap Hemat
Agar promo belanja online benar-benar memberikan manfaat, konsumen dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana.
Pertama, buat daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi belanja. Cara ini membantu konsumen tetap berfokus pada barang yang diperlukan dan mengurangi kemungkinan membeli produk secara spontan.
Kedua, tetapkan anggaran belanja. Konsumen perlu menentukan batas pengeluaran sesuai kemampuan keuangan. Jangan sampai keinginan memanfaatkan diskon membuat uang untuk kebutuhan utama ikut terpakai.
Ketiga, bandingkan harga sebelum dan sesudah promo. Periksa harga dari beberapa penjual, biaya pengiriman, serta ketentuan voucher. Dengan begitu, konsumen dapat mengetahui apakah penawaran tersebut benar-benar menguntungkan.
Keempat, beri waktu untuk mempertimbangkan pembelian yang tidak mendesak. Barang yang dimasukkan ke keranjang tidak harus langsung dibayar. Konsumen dapat meninjau kembali apakah barang tersebut memang diperlukan atau hanya menarik karena promosi.
Terakhir, periksa kembali total pembayaran sebelum menyelesaikan transaksi. Harga yang terlihat murah pada halaman produk belum tentu menjadi pengeluaran akhir yang paling hemat.
Menjadi Konsumen yang Lebih Bijak di Era Digital
Perkembangan teknologi telah membuat kegiatan belanja menjadi semakin mudah. Promo dan diskon pun dapat membantu masyarakat memperoleh barang dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan keinginan dan mengelola keuangan.
Promo belanja online tidak selalu membuat seseorang boros, sebagaimana diskon juga tidak selalu menjamin penghematan. Hasilnya bergantung pada tujuan pembelian, kebutuhan, dan kemampuan konsumen dalam mengatur pengeluaran.
Pada akhirnya, konsumen yang cerdas bukanlah orang yang selalu mendapatkan diskon terbesar, melainkan orang yang mampu menggunakan uang sesuai prioritas. Sebelum menekan tombol pembayaran, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau hanya dibeli karena sedang promo?Sebab, penghematan yang sesungguhnya bukan sekadar membayar lebih murah, tetapi juga menghindari pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.
