Jangan Terburu-Buru, Proses Itu Berharga

MAHASISWI UNIVERSITAS JEMBER PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari NOVIANA AMOR PUTRI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku baru 19 tahun, tapi rasanya hidup seperti lomba lari maraton yang dimulai terlalu cepat. Teman-temanku ada yang sudah bekerja, ada yang punya bisnis online, ada yang ikut lomba ini-itu dan sering menang. Sementara aku… kadang masih bingung ingin jadi apa.

Setiap kali buka Instagram atau TikTok, aku merasa tertinggal. Seolah semua orang sudah menemukan jalan mereka masing-masing, sedangkan aku masih belajar meraba langkah. Kadang aku berpikir, “Apa aku lambat? Apa aku kurang pintar? Apa aku tidak berbakat?”
Sampai suatu hari, aku iseng ngobrol dengan kakak tingkat di kampus. Aku bilang jujur, “Aku takut kalau aku gagal.”
Ia hanya tertawa kecil lalu menjawab, “Umurmu baru 19. Untuk gagal pun masih terlalu muda.”
Lalu ia menambahkan, “Yang kamu lihat hanya hasil orang. Kamu tidak tahu prosesnya.”
Entah kenapa kalimat itu menenangkan. Aku mulai sadar bahwa tidak semua keberhasilan harus datang cepat. Tidak semua orang langsung tahu mimpinya sejak awal. Dan tidak ada aturan bahwa kita harus sukses sebelum usia 20-an.
Sejak itu, aku mulai mengubah cara pandangku. Aku berhenti memaksa diri untuk cepat selesai. Aku mulai menikmati proses belajar hal baru, meski pelan. Aku mencoba hal kecil, gagal, mencoba lagi. Lama-lama aku menyadari sesuatu: yang membuatku berkembang bukan hasil akhirnya, tapi perjalanan menuju ke sana.
Dan hari ini, kalau ada orang yang terlihat “selangkah lebih jauh”, aku tidak iri lagi. Aku tahu semua orang punya waktu masing-masing. Kalau aku belum sampai hari ini, bukan berarti aku tidak akan sampai — hanya belum.
Aku mungkin belum punya semuanya. Tapi aku punya waktu. Dan itu adalah modal yang luar biasa.
Jadi kalau kamu yang membaca ini sedang merasa tertinggal, ingat:
kita bukan telat — kita sedang tumbuh.
“Hasil hanya menunjukkan apa yang kita dapatkan, tapi proses menunjukkan siapa kita sebenarnya.”
