Konten dari Pengguna

Public Speaking: Kunci Percaya Diri dan Siap Hadapi Dunia Kerja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novita Mayasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa melakukan public speaking di depan kelas
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa melakukan public speaking di depan kelas

NOVITA MAYASARI 231010503508

Public Speaking Bukan Sekadar Berbicara di Depan Kelas

Bayangkan seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai akademik tinggi dan memahami materi kuliah dengan baik, tetapi tiba-tiba kehilangan kata-kata ketika harus mempresentasikan tugas di depan kelas. Suara menjadi pelan, tangan terasa kaku, dan materi yang sudah dipelajari seolah menghilang. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan akademik saja belum cukup. Public speaking menjadi salah satu keterampilan penting yang dapat membantu mahasiswa meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mempersiapkan kemampuan komunikasi sebelum memasuki dunia kerja.

Public speaking bukan hanya tentang keberanian berdiri di depan banyak orang. Kemampuan ini mencakup cara seseorang menyusun gagasan, memilih kata, mengatur intonasi, menggunakan bahasa tubuh, serta menyampaikan informasi agar mudah dipahami audiens. Dalam kehidupan mahasiswa, kemampuan tersebut dapat diterapkan ketika melakukan presentasi, mengikuti organisasi, menyampaikan pendapat dalam diskusi, menjadi moderator, hingga mengikuti kegiatan seminar.

Kemampuan komunikasi juga semakin dibutuhkan dalam dunia kerja. Survei Populix dan KitaLulus pada Juni 2024 terhadap 100 perusahaan di Indonesia menunjukkan bahwa 75% responden membutuhkan karyawan dengan kemampuan komunikasi. Sebanyak 61% responden juga menyatakan mengalami kesulitan mencari calon karyawan karena banyak pelamar masih minim pengalaman.

Public Speaking dan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Salah satu tantangan terbesar ketika berbicara di depan umum adalah rasa gugup. Mahasiswa dapat memahami materi, tetapi belum tentu mampu menyampaikannya dengan percaya diri. Karena itu, kemampuan public speaking tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan diri.

Penelitian Hedi Setiadi yang diterbitkan pada 2025 terhadap 225 mahasiswa perguruan tinggi vokasi menemukan bahwa kecemasan berbicara berpengaruh negatif terhadap kemampuan public speaking dan kepercayaan diri. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kepercayaan diri berpengaruh positif terhadap kemampuan public speaking. Temuan ini memperlihatkan bahwa kepercayaan diri bukan sekadar persoalan perasaan, tetapi memiliki kaitan dengan bagaimana mahasiswa tampil ketika berkomunikasi.

Kepercayaan diri tentu tidak muncul secara instan. Mahasiswa perlu membangunnya melalui latihan. Mulai dari berbicara dalam kelompok kecil, menyampaikan pendapat ketika diskusi, melakukan presentasi tanpa terlalu bergantung pada teks, hingga berlatih berbicara di depan kamera. Semakin sering seseorang berlatih, semakin banyak pengalaman yang dimiliki untuk menghadapi situasi komunikasi yang berbeda.

Public Speaking sebagai Bekal Memasuki Dunia Kerja

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika mahasiswa mulai memasuki dunia profesional. Dalam proses wawancara kerja, misalnya, seorang kandidat tidak hanya dituntut memiliki pengalaman dan pengetahuan. Ia juga perlu menjelaskan kemampuan dirinya dengan jelas dan meyakinkan.

World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 menempatkan leadership and social influence sebagai salah satu keterampilan inti yang dianggap penting oleh perusahaan. Sebanyak 61% pemberi kerja yang disurvei menganggap keterampilan tersebut sebagai core skill. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa kemampuan seperti ketahanan, fleksibilitas, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi semakin relevan dalam dunia kerja.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak membuat kemampuan manusia menjadi tidak penting. Justru, mahasiswa perlu menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan interpersonal. Seseorang mungkin dapat menggunakan berbagai teknologi dan menguasai bidang tertentu, tetapi tetap membutuhkan kemampuan komunikasi untuk menjelaskan ide, bekerja dalam tim, melakukan presentasi, dan membangun hubungan profesional.

Ada anggapan bahwa public speaking hanya cocok bagi orang yang ekstrover atau memiliki bakat berbicara sejak kecil. Pandangan tersebut terlalu sederhana. Kemampuan berbicara dapat dilatih secara bertahap. Seseorang yang awalnya gugup dapat belajar mengatur napas, menyusun materi, melakukan kontak mata, menggunakan intonasi yang tepat, dan memahami karakter audiens. Kesalahan ketika berbicara bukan berarti seseorang tidak mampu, melainkan bagian dari proses belajar.

Mahasiswa juga tidak harus menunggu sampai lulus untuk mulai berlatih. Presentasi di kelas, organisasi, kepanitiaan, seminar, diskusi, bahkan membuat konten di media sosial dapat menjadi ruang untuk mengembangkan public speaking. Setiap kesempatan berbicara merupakan latihan untuk menjadi komunikator yang lebih baik.

Pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang tahu, tetapi juga seseorang yang mampu menjelaskan apa yang ia tahu. Nilai akademik dan kemampuan teknis tetap penting, tetapi kemampuan menyampaikan gagasan membantu seseorang menunjukkan nilai yang dimilikinya. Karena itu, public speaking sebaiknya tidak dipandang sebagai tugas kuliah semata, melainkan sebagai investasi keterampilan yang dapat membantu mahasiswa memasuki dunia profesional dengan lebih percaya