Ketika Suara Tak Lagi Didengar, Maka Tulisan yang Berbicara

Mahasiswi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Nur Rizqiyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak semua cerita horor benar-benar berbicara tentang hantu. Ada kalanya suara-suara yang terdengar menyeramkan justru menjadi bukti bagi sejarah yang sengaja disembunyikan. Gagasan inilah yang dihadirkan Depri Ajopan melalui cerpen Suara dari Pohon-pohon Pisang. Alih-alih menyuguhkan kisah horor yang mengandalkan kemunculan makhluk gaib, cerpen ini mengajak pembaca mempertanyakan asal-usul sebuah suara misterius yang selama ini dipercaya sebagai pertanda kehidupan yang mistis. Di balik nuansa mencekam yang dibangun sejak awal, pembaca perlahan diarahkan pada persoalan yang jauh lebih besar yakni tentang ingatan, kebebasan berekspresi, dan sejarah yang tidak selalu diceritakan secara terbuka.
Menariknya, kekuatan cerpen ini tidak hanya terletak pada tema yang diangkat, tetapi juga pada cara pengarang menyusun rangkaian peristiwa sehingga rasa penasaran pembaca terus terjaga hingga akhir cerita. Dalam kajian sastra, rangkaian peristiwa tersebut dikenal sebagai plot atau alur, yang menghubungkan setiap kejadian menjadi satu kesatuan makna. Berdasarkan teori pengkajian fiksi Burhan Nurgiyantoro, plot berkembang melalui hubungan sebab-akibat yang dibangun dari tindakan dan perilaku tokoh. Melalui kerangka tersebut, Suara dari Pohon-pohon Pisang menjadi menarik untuk dikaji karena setiap peristiwa yang disusun pengarang bukan sekadar menghadirkan ketegangan, tetapi juga mengungkap pesan sosial yang tersembunyi di balik kisah yang tampak sederhana. Dengan demikian, cerpen Suara dari Pohon-pohon Pisang tidak hanya menarik sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai refleksi atas pentingnya menjaga kebebasan berpikir dan kebebasan berekspresi di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi hingga sekarang.
Keberanian Kakek di Tengah Kesunyian
Cerita ini bermula dari seorang kakek tua yang tetap memilih tinggal seorang diri di sebuah rumah reyot meskipun warga berkali-kali mengajaknya pindah dan tinggal bersama mereka. Keputusan seseorang untuk tetap bertahan di suatu tempat sering kali tidak dapat dinilai hanya dari apa yang tampak di permukaan. Ada pengalaman, kenangan, atau alasan tertentu yang membuat seseorang tetap memilih tinggal di tempat yang bahkan dianggap tidak layak atau menakutkan oleh orang lain. Penolakan itu membuat seorang wartawan muda penasaran. Ia kemudian datang untuk mencari tahu alasan mengapa kakek tersebut tetap bertahan di rumah itu. Saat berbincang, wartawan itu mencoba mengubah keputusan sang kakek dengan bertanya apakah ia tidak takut jika terjadi sesuatu karena rumah itu berada di tempat yang sepi dan terpencil.
”Kakek yakin, tidak takut dengan cerita orang-orang di sini. Bagaimana kalau ada hantu masuk ke rumah kakek nanti tengah malam buta. Lalu ia mencekik leher kakek, sampai meronta-ronta. Pada siapa kakek minta tolong. Kakek kan sendirian. Rumah kakek kan jauh dari orang-orang,.”
Kutipan ini menunjukkan adanya konflik awal dari keberanian kakek yang diragukan oleh wartawan tersebut, sebab melihat kondisi kakek tua apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan warga sekitar tidak ada yang mengetahui kondisi kakek saat itu. Dari percakapan sederhana inilah pengarang mulai mengembangkan alur cerita sekaligus membuka jalan menuju misteri yang menjadi pusat perhatian pembaca.
Jejak Misteri dan Aset yang Tertinggal
Setiap peristiwa saling berhubungan dan mendorong munculnya peristiwa berikutnya. Berawal dari rasa penasaran yang sering kali menjadi penggerak utama seseorang untuk mencari kebenaran. Wartawan muda yang telah tiba di rumah sang kakek mulai menanyakan alasan mengapa lelaki tua tersebut tetap memilih tinggal di tempat yang dihindari banyak orang. Namun, jawaban yang diperolehnya belum sepenuhnya menghapus keraguannya. Untuk memastikan sendiri kebenaran tentang suara misterius yang kerap terdengar pada malam hari, ia pun meminta izin kepada sang kakek untuk menginap di rumah tersebut.
“Boleh aku menginap di sini semalam Kek, untuk mendengar suara itu?”
“Tidak ada yang melarang. Apalagi kau datang untuk bertugas. Laksanakan tugasmu sebaik mungkin.”
Menurut saya, bagian ini merupakan salah satu titik paling menarik dalam berkembangnya peristiwa pada cerpen, karena dalam sebuah cerita kejutan tidak selalu hadir melalui adegan yang mengejutkan, tetapi juga melalui perubahan arah peristiwa yang mengubah cara pembaca memaknai cerita sejak awal. Hal tersebut terlihat ketika pukul dua dini hari wartawan muda tidak mendengar suara ketikan keyboard seperti yang selama ini dibicarakan warga, melainkan suara seseorang yang melantunkan puisi dan dilanjutkan pada tindakan kakek yang memberikan kunci rumahnya kepada sang wartawan agar wartawan tersebut dapat membuka lemari di sudut kamarnya saat ia sudah tiada.
“Nak, jika aku mati nanti, aku titipkan kunci rumahku untukmu. Jaga rumah ini baik-baik. Terus kau buka lemari yang di sudut kamarku ini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku wariskan untukmu. Aku merasa kau adalah yang diutus Tuhan datang ke rumahku,”
Saya melihat bagian ini merupakan titik balik yang paling menentukan dalam perkembangan plot. Pengarang sengaja menunda pengungkapan jawaban atas misteri yang dibangun sejak awal sehingga rasa penasaran pembaca terus meningkat. Ketika rahasia itu mulai terungkap, fokus cerita tidak lagi tertuju pada unsur misterinya, melainkan bergeser pada makna yang ingin disampaikan. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa setiap peristiwa dalam cerpen disusun secara fungsional, bukan sekadar untuk menciptakan ketegangan, tetapi juga untuk mengantarkan pembaca pada kritik terhadap praktik pembungkaman kebebasan berekspresi. Melalui tokoh wartawan, pengarang memperlihatkan bahwa upaya mencari kebenaran tidak berhenti pada terungkapnya sebuah rahasia, melainkan berlanjut menjadi tanggung jawab untuk menjaga, meneruskan, dan menyuarakan kembali gagasan-gagasan yang pernah dibungkam oleh kekuasaan.
Rahasia yang Tersimpan dalam Naskah Lama
Menurut saya, salah satu hal yang membuat cerpen ini menarik adalah cara pengarang menempatkan peristiwa-peristiwa penting di tengah alur cerita. Pada bagian ini, rasa penasaran pembaca tidak langsung dijawab, tetapi justru semakin diperkuat melalui rangkaian kejadian yang saling berkaitan. Ketika wartawan menerima kabar meninggalnya sang kakek, lalu memenuhi pesan terakhirnya dengan membuka lemari di sudut kamar, cerita mulai bergerak ke arah pengungkapan yang lebih jelas. Penemuan naskah-naskah lama dan puisi yang berkaitan dengan suara misterius bukan sekadar menjadi kelanjutan cerita, melainkan petunjuk penting yang mengubah cara pembaca memahami misteri yang telah dibangun sejak awal.
“Saat ini banyak manusia yang mau jadi kabut, debu, ulat-ulat yang bergelantungan pada pohon-pohon terkutuk yang redup. Tapi tak ada yang mau jadi matahari, bulan, bintang. Mereka yang tinggal di kegelapan membusuk sampai siang menjemput malam.” (Alby, Pekalongan 1972)
Melalui kutipan tersebut, sosok pengarang pada cerpen suara dari pohon-pohon pisang menyampaikan kritik terhadap sikap masyarakat yang memilih diam daripada memperjuangkan kebenaran. Penemuan puisi menjadi titik perubahan dalam diri wartawan, sebelum mengetahui selembar kertas itu, ia hanya berusaha mengungkap misteri suara di bawah pohon-pohon pisang. Namun, setelah membaca puisi tersebut, ia mulai memahami bahwa sebenarnya hal tersebut merupakan warisan pemikiran seseorang yang pernah dibungkam. Kutipan di atas juga menunjukkan kemampuan Depri Ajopan dalam mengembangkan plot karena setiap peristiwa tidak berdiri sendiri, tetapi berfungsi sebagai jembatan menuju konflik dan makna yang akan terungkap pada bagian-bagian berikutnya.
Ketika Tembakan Tak Mampu Membungkam Tulisan
Konflik yang paling menarik dari sebuah cerpen sering kali bukan terletak pada terjawabnya sebuah misteri, melainkan pada makna yang muncul setelah misteri itu terungkap. Ketika pembaca mengira konflik telah selesai, pengarang justru menghadirkan peristiwa yang mengajak pembaca melihat cerita dari sudut pandang yang lebih mendalam. Bagi saya, pertemuan wartawan dengan sang kakek dalam mimpi bukan sekadar unsur yang bersifat simbolis, melainkan cara pengarang menegaskan bahwa gagasan, karya, dan semangat perjuangan seseorang tidak akan hilang begitu saja meskipun raganya telah tiada. Melalui bagian ini, pengarang seolah ingin mengingatkan bahwa tulisan memiliki daya hidup yang mampu melampaui batas waktu dan kematian.
“Kau jangan menyepelekan tulisan yang lebih tajam dari pedang.”
Kutipan ini merupakan salah satu gagasan terkuat yang ingin disampaikan pengarang. Kalimat tersebut tidak dimaksudkan untuk membandingkan kekuatan fisik antara tulisan dan pedang, melainkan menegaskan bahwa tulisan memiliki pengaruh yang mampu melampaui kekerasan. Karena itulah, tidak heran jika sepanjang sejarah banyak penulis yang justru dianggap berbahaya ketika karya-karyanya berani mengungkap ketidakadilan atau mengkritik kekuasaan. Cerpen ini mengingatkan kita bahwa sebuah peluru memang mampu mengakhiri hidup seseorang, tetapi tidak mampu menghapus gagasan yang telah ditulis. Selama masih ada orang yang membaca dan meneruskannya, tulisan akan terus berbicara, bahkan ketika penulisnya telah lama tiada
Tanggungjawab yang Mengubah Pola Pikir
Cerpen ini menjadi pengingat untuk kita bahwa kekuasaan yang mengandalkan kekerasan mungkin mampu membungkam seseorang, tetapi tidak selalu mampu menghapus gagasan yang telah dituliskan. Pengarang menggunakan pertentangan antara suara tembakan dan ketukan keyboard sebagai simbol dua kekuatan yang berbeda. Tembakan melambangkan upaya dalam membungkam dengan kekerasan, sedangkan ketukan keyboard melambangkan lahirnya ide, kritik, dan harapan melalui tulisan. Dalam cerpen suara dari pohon-pohon pisang tindakan tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Suara tembakan itu pasti mati, sementara ketukan ”keyboard” komputer yang dijadikan untuk menulis hidup selalu.”
Makna dari kutipan tersebut menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan pengarang. Kritikan yang lahir dari sebuah tulisan memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang daripada kekuasaan yang berusaha membungkamnya. Gagasan tersebut diperkuat melalui cara pengarang menyusun plot secara bertahap. Rasa penasaran pembaca mula-mula dibangun lewat misteri suara dari balik pohon-pohon pisang, kemudian berkembang ketika sang kakek mulai mengungkap kisah tentang seorang pengarang yang menjadi korban penindasan akibat tulisan-tulisannya. Alur itu terus bergerak hingga akhirnya pembaca diajak memahami makna di balik seluruh rangkaian peristiwa melalui penemuan sebuah puisi yang menjadi simbol bahwa gagasan tidak dapat dimusnahkan dengan kekerasan.
Menurut saya, penyusunan plot seperti ini membuat pesan cerpen terasa lebih kuat karena pembaca tidak hanya diberi tahu bahwa tulisan memiliki kekuatan, tetapi juga diajak merasakan sendiri proses menemukan makna tersebut sedikit demi sedikit bersama perkembangan cerita. Relevansi tersebut tampak pada berbagai kasus intimidasi terhadap jurnalis dan media di Indonesia. Pada tahun 2025, misalnya, jurnalis Tempo mengalami serangkaian teror hingga perundungan digital setelah media tersebut menerbitkan laporan-laporan investigatif.
DAFTAR PUSTAKA
Ajopan, D. (12 Juni 2026). Suara dari Pohon-pohon Pisang. Kompas.id.
Nurgiyantoro, B. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
