Konten dari Pengguna

Storytelling dan Edukasi dalam Pemasaran Usaha Hamster Rumahan

Nur Cantika laila

Nur Cantika laila

seorang mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 16 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Cantika laila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Penulis

Abstrak

Usaha mikro rumahan di bidang hewan peliharaan menghadapi tantangan dalam memasarkan produk hidup dengan anggaran promosi terbatas dan jangkauan pengiriman yang terbatas. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan strategi pemasaran kreatif yang diterapkan Hamsterkite, usaha jual beli hamster dan kelinci rumahan di Depok, serta menilai potensi nilai hijau (eco-friendly pet care) sebagai daya tarik pemasaran. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi langsung dan wawancara dengan pemilik usaha pada 20 Oktober 2026. Hasil menunjukkan bahwa usaha ini membangun identitas merek melalui cerita “dirawat seperti peliharaan sendiri”, memproduksi konten video pendek yang memadukan hiburan dan edukasi perawatan, memanfaatkan testimoni serta komunitas hobi sebagai word of mouth, dan melayani pembeli secara personal melalui WhatsApp dan Direct Message. Dengan biaya promosi Rp0, pemilik melaporkan kenaikan penjualan sekitar 25% dan penjualan rata-rata 5–25 ekor per bulan. Dari sisi lingkungan, penggunaan alas serbuk kayu alami, kemasan berventilasi yang dapat dipakai ulang, dan edukasi kepemilikan hewan yang bertanggung jawab berpotensi menjadi pembeda usaha. Peluang pengembangan meliputi live selling terjadwal, kolaborasi dengan dokter hewan dan toko perlengkapan, serta etalase adopsi daring.

Kata Kunci: Ecopreneurship, pemasaran kreatif, storytelling, media sosial, UMKM, hewan peliharaan

1. PENDAHULUAN

Perkembangan media sosial mengubah cara usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjangkau konsumen. Instagram, YouTube, TikTok, dan WhatsApp kini berfungsi bukan hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan produk, membangun citra merek, dan mempererat hubungan dengan pelanggan (Fatin et al., 2026). Namun, banyak pelaku UMKM masih memakai media sosial sebatas untuk mengunggah informasi produk tanpa strategi pemasaran yang terencana, sehingga dampaknya terhadap penjualan belum optimal (Fatin et al., 2026). Dalam situasi tersebut, kreativitas pemasaran, yaitu kemampuan menghasilkan ide promosi baru, konten yang menarik, dan pendekatan komunikasi yang berbeda dari pesaing, menjadi faktor pembeda yang penting.

Tantangan pemasaran lebih besar pada usaha yang menjual produk hidup seperti hewan peliharaan. Calon pembeli, terutama pemula, perlu yakin bahwa hewan yang dibeli sehat, jinak, dan mudah dirawat. Pengiriman hewan hidup juga berisiko membuat hewan stres dan membatasi jangkauan pasar. Bagi usaha rumahan dengan modal terbatas, kepercayaan pembeli tidak bisa dibangun melalui iklan berbayar berskala besar, tetapi melalui konten yang jujur, interaksi personal, dan bukti nyata kualitas perawatan.

Hamsterkite adalah usaha rumahan di Depok yang menjual hamster jenis Syrian dan kelinci, beserta kandang, pakan, dan alas kandang. Usaha ini berawal dari hobi pemiliknya memelihara hewan kecil di teras rumah, lalu berkembang menjadi usaha karena tetangga dan teman tertarik membeli. Keunikan usaha ini terletak pada pendekatan “dirawat seperti peliharaan sendiri”, yang diwujudkan melalui konten video pendek, edukasi perawatan, testimoni pelanggan, dan layanan konsultasi gratis. Selain itu, praktik usahanya memuat unsur nilai hijau, misalnya penggunaan serbuk kayu alami sebagai alas kandang, kemasan berventilasi yang dapat dipakai ulang, serta penekanan pada kesejahteraan hewan (animal welfare).

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan (1) mendeskripsikan strategi pemasaran kreatif yang diterapkan Hamsterkite, (2) mengidentifikasi hambatan dan peluang pemasarannya, serta (3) menilai potensi nilai hijau sebagai daya tarik pemasaran dari perspektif ecopreneurship.

2. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

2.1 Ecopreneurship dan Bisnis Hijau

Ecopreneurship merujuk pada kewirausahaan yang menjadikan kelestarian lingkungan sebagai bagian inti dari model bisnis, bukan sekadar tambahan (Isaak, 2002). Schaltegger dan Wagner (2011) menjelaskan bahwa kewirausahaan berkelanjutan berupaya menyelaraskan tujuan ekonomi dengan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Dalam usaha hewan peliharaan, nilai hijau dapat diwujudkan melalui kesejahteraan hewan, bahan perlengkapan yang alami, kemasan yang dapat dipakai ulang, pengelolaan limbah kandang, dan edukasi kepemilikan hewan yang bertanggung jawab.

2.2 Pemasaran Kreatif dan Kreativitas Pemasaran

Pemasaran kreatif adalah upaya menyampaikan nilai produk dengan cara yang berbeda, menarik, dan relevan bagi konsumen, sehingga produk lebih mudah diingat dan dipercaya. Kreativitas pemasaran mencakup kemampuan menghasilkan ide-ide baru, membuat konten promosi yang menarik, dan menyusun strategi komunikasi yang berbeda dari pesaing (Fatin et al., 2026). Penelitian Fatin et al. (2026) pada 205 pelaku UMKM di Lombok Timur menemukan bahwa kreativitas pemasaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pemasaran. Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2021) juga menekankan bahwa pemasaran modern berpusat pada nilai bagi manusia dan pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau serta melayani pelanggan.

2.3 Storytelling, Konten Media Sosial, dan Social Commerce

Media sosial memungkinkan pelaku usaha membangun interaksi dua arah dengan konsumen (Kaplan & Haenlein, 2010). Storytelling memperkuat interaksi itu dengan menghadirkan cerita di balik produk, sehingga terbentuk kedekatan emosional dan identitas merek. Dwivedi et al. (2021) menegaskan bahwa keberhasilan pemasaran digital banyak ditentukan oleh kemampuan menciptakan konten yang menarik dan melibatkan audiens. Social commerce, yaitu transaksi yang berlangsung melalui fitur media sosial dan aplikasi pesan, melengkapi proses ini dengan layanan yang lebih personal.

2.4 Sumber Daya Usaha dan Word of Mouth

Menurut pandangan berbasis sumber daya (Resource-Based View), keunggulan bersaing usaha berasal dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif (Barney, 1991). Bagi UMKM, media sosial merupakan sumber daya berbiaya rendah yang dapat memengaruhi hasil usaha (Ainin et al., 2020). Pada usaha rumahan, pengetahuan perawatan hewan, hubungan dengan komunitas hobi, dan testimoni pelanggan juga menjadi sumber daya yang sulit ditiru, karena dibangun dari pengalaman dan kepercayaan.

3. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus pada satu usaha, yaitu Hamsterkite. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penelitian adalah memahami praktik pemasaran secara mendalam dalam konteks nyata, bukan menguji hubungan antarvariabel secara statistik (Sugiyono, 2019).

Objek penelitian adalah strategi pemasaran kreatif Hamsterkite, dan narasumber adalah pemiliknya, Rian Hardiyansyah. Observasi dilaksanakan pada 20 Oktober 2026 pukul 17.00–17.30 di Depok. Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan wawancara menggunakan formulir observasi terstruktur yang memuat identitas usaha, identitas merek dan storytelling, konten media sosial, social commerce, promosi dan harga, kolaborasi, hubungan pelanggan, efektivitas strategi, aspek lingkungan, serta hambatan dan peluang. Wawancara berisi enam pertanyaan pokok tentang awal usaha, platform dan konten yang efektif, pengalaman live selling, kolaborasi, strategi menjaga pelanggan, dan tantangan pemasaran.

Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tiga tahap, yaitu reduksi data (memilah informasi yang relevan dengan strategi pemasaran kreatif), penyajian data (tabel dan uraian naratif), dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2019). Keterbatasan penelitian ini adalah waktu observasi yang singkat, jumlah narasumber tunggal, serta data penjualan yang bersumber dari keterangan pemilik sehingga belum diverifikasi dengan catatan transaksi.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Usaha

Hamsterkite adalah usaha rumahan di Depok yang dimiliki dan dikelola oleh Rian Hardiyansyah, yang juga menjadi narasumber dalam penelitian ini. Usaha ini sudah berjalan sekitar satu tahun dengan produk utama hamster jenis Syrian dan kelinci. Selain hewan peliharaan, Hamsterkite menjual produk pendukung berupa kandang, pakan, dan alas kandang. Harga hamster berkisar antara Rp15.000 sampai Rp100.000 per ekor, tergantung ukuran dan kondisi hewan. Bagi pembeli pemula, tersedia paket starter berisi hamster, kandang, dan pakan dengan harga Rp75.000 sampai Rp150.000, dan isinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Target pasarnya adalah anak-anak dan komunitas pencinta hewan kecil. Dengan pasar tersebut, usaha ini rata-rata menjual 5 sampai 25 ekor per bulan.

Sumber: Hasil observasi dan wawancara

4.2 Identitas Merek dan Storytelling

Hamsterkite memiliki logo, dengan konsistensi tampilan visual (warna, huruf, dan gaya foto) yang dinilai cukup. Kepribadian mereknya tampil lucu, ceria, dan peduli hewan. Tagline yang dipakai adalah “Hamster Sehat, Terawat, Dan Siap Jadi Teman Baru Anda Dirumah.”

Kekuatan utama usaha ini terletak pada ceritanya. Usaha bermula dari teras rumah yang ramai karena pemiliknya gemar memelihara kelinci dan hamster, merawatnya dengan telaten, memberi pakan sehat, dan mengajaknya bermain setiap hari. Tetangga dan teman yang melihat hewan-hewan itu sehat dan menggemaskan kemudian tertarik membeli. Cerita ini menghasilkan pesan inti yang konsisten: hewan di sini bukan sekadar dijual, melainkan dirawat seperti peliharaan sendiri. Pesan tersebut menjadi pembeda dibandingkan penjual yang beternak dalam skala besar, dengan empat penanda yang teramati, yaitu (1) hewan dibesarkan di lingkungan rumah dengan sentuhan personal, (2) hewan lebih jinak karena terbiasa dipegang dan tidak mudah stres, (3) pembeli mendapat edukasi perawatan langsung dari pemilik, dan (4) tersedia variasi hewan kecil yang dirawat dengan standar yang sama. Temuan ini sejalan dengan gagasan bahwa storytelling menciptakan kedekatan emosional dan identitas merek, serta memperkuat kepercayaan, yang sangat penting pada produk hidup.

4.3 Konten dan Media Sosial

Hamsterkite aktif di Instagram (@depokite, 292 pengikut), YouTube (@depokite, 1.266 pengikut), dan WhatsApp. Proporsi unggahan yang dicatat pada formulir observasi sekitar 10% dari total postingan untuk masing-masing akun, dan seluruh akun masih aktif hingga saat ini. Pemilik menyebut bahwa Instagram dan video pendek bergaya Reels/TikTok merupakan sarana yang paling efektif menarik pembeli.

Hamsterkite menghadirkan sembilan jenis konten di media sosialnya. Foto produk memperlihatkan hamster dan kelinci yang bersih, sehat, dan aktif di lingkungan rumah, bukan foto studio yang kaku, sehingga calon pembeli melihat kondisi hewan apa adanya. Video pendek merekam aktivitas harian hewan, cara memberi makan, dan interaksi langsung dengan pemilik. Untuk menarik perhatian, Hamsterkite juga membuat konten lucu, seperti tingkah menggemaskan hamster saat makan dan berlari di roda atau kelinci yang melompat, dan sering memakai audio yang sedang tren sebagai latar videonya.

Di sisi edukasi, usaha ini membagikan tips pakan sehat, kebersihan kandang, dan cara handling agar hewan jinak. Kepercayaan calon pembeli diperkuat melalui testimoni berupa screenshot ulasan pelanggan yang menerima hewan sehat, aktif, dan jinak, serta konten di balik layar yang menampilkan pemberian pakan harian, kebersihan kandang rumahan, dan standar pengemasan hewan. Agar mudah ditemukan, setiap unggahan memakai tagar yang relevan, yaitu #hamsterindonesia, #jualhamster, #kelincipeliharaan, dan #petshoprumahan. Interaksi dengan pengikut dibangun lewat call to action berupa pertanyaan di akhir caption, misalnya “Kalian tim hamster atau kelinci nih?”.

Sumber: Hasil observasi.

Tiga konten terbaik yang dicatat memperlihatkan pola yang jelas. Pertama, video “Cara Mudah Bikin Hamster Jinak dalam 3 Hari” (jangkauan lumayan) menjawab masalah nyata pembeli pemula, yaitu hamster yang takut, sekaligus menunjukkan keahlian penjual. Kedua, kolase before-after hamster saat baru datang dan sesudah seminggu dirawat (jangkauan sedang) menjadi bukti visual kualitas perawatan melalui bulu yang sehat dan mata yang cerah. Ketiga, video “Unboxing Paket Adopsi Kelinci: Apa Saja Isinya?” (jangkauan tinggi) memberi transparansi proses adopsi dan pengiriman, sehingga calon pembeli merasa tenang. Ketiganya menggabungkan hiburan, edukasi, dan bukti, yang menunjukkan bahwa kreativitas Hamsterkite tidak berhenti pada konten lucu, tetapi diarahkan untuk membangun kepercayaan. Temuan ini berbeda dari kecenderungan UMKM yang hanya mengunggah informasi produk (Fatin et al., 2026).

4.4 Social Commerce, Layanan, dan Hubungan Pelanggan

Hamsterkite belum melakukan live selling, belum memiliki jadwal siaran langsung, dan belum menggunakan keranjang belanja atau tautan marketplace. Seluruh pemesanan dan konsultasi dilayani lewat Direct Message Instagram/TikTok atau WhatsApp agar lebih personal. Pemilik menyatakan bahwa alasan utamanya adalah skala usaha rumahan dan fokus pada produksi konten serta transaksi lewat pesan.

Pada sisi layanan, penjual membalas pesan dan komentar dengan cepat (kurang dari satu jam) dengan gaya komunikasi yang ramah, informatif, dan santai. Layanan purna jual berupa pertanyaan kabar kesehatan hewan 2–3 hari setelah pembelian serta konsultasi lanjutan melalui WhatsApp. Pelanggan setia diberi bonus kecil seperti tambahan pakan saat membeli kembali. Usaha ini memperoleh sekitar 100 ulasan lebih dengan rating rata-rata 4,9 dari 5,0. Keluhan yang muncul terutama berasal dari pembeli pemula yang khawatir hamster stres pada hari pertama, dan keluhan ini langsung dijawab dengan edukasi adaptasi hewan. Dengan demikian, keluhan justru menjadi kesempatan memperkuat citra sebagai penjual yang peduli dan paham perawatan.

4.5 Promosi, Harga, dan Kemasan

Bentuk promosi yang digunakan adalah paket bundling (paket starter), hadiah atau bonus (pakan dan serbuk alas kandang untuk pembelian paket tertentu), serta promosi musiman berupa diskon atau camilan hewan pada hari raya dan akhir pekan. Penetapan harga berdasarkan biaya dan kualitas, bukan mengikuti pesaing, sehingga harga mencerminkan perawatan yang diberikan. Layanan konsultasi perawatan menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki semua penjual. Untuk pengiriman, hewan dikemas dalam kotak berventilasi dengan alas serbuk kayu yang empuk dan sedikit pakan agar tetap nyaman dan tidak stres selama perjalanan. Kemasan ini sekaligus menjadi bahan konten unboxing yang mendukung kepercayaan pembeli.

4.6 Kolaborasi dan Komunitas

Hamsterkite belum bekerja sama dengan influencer maupun toko pakan dan dokter hewan secara formal, tetapi sesekali merekomendasikan toko pakan lokal kepada pembeli dan berinteraksi dengan kreator lokal pencinta hewan kecil. Usaha ini aktif di grup komunitas pencinta hamster dan kelinci (Facebook dan WhatsApp), pernah mengikuti bazar atau pameran lokal seperti pet fair dan car free day, serta memanfaatkan ulasan dan cerita pelanggan sebagai duta merek. Menurut pemilik, bazar dan interaksi dengan komunitas cukup efektif memperluas jaringan pembeli lokal. Kolaborasi ini bersifat informal, tetapi sudah menjadi bentuk awal co-branding berbasis komunitas.

4.7 Efektivitas Strategi dan Aspek Finansial Singkat

Sumber pembeli terbanyak adalah Instagram dan mulut ke mulut. Strategi yang dinilai paling berhasil adalah video pendek yang memperlihatkan kelucuan hewan sekaligus edukasi perawatan dasar, karena menarik minat pemula dan memicu percakapan lewat pesan. Sebaliknya, iklan berbayar dengan jangkauan luas dinilai kurang efektif karena tidak menyaring target pasar lokal yang benar-benar mencari hewan hidup. Biaya promosi per bulan adalah Rp0, dengan alat bantu berupa kamera telepon pintar, CapCut, dan Canva. Setelah menerapkan strategi tersebut, pemilik melaporkan penjualan naik sekitar 25%.

Sebagai gambaran kasar, dengan penjualan 5–25 ekor per bulan dan kisaran harga Rp15.000–Rp100.000 per ekor, nilai penjualan hamster per bulan secara teoretis berada pada rentang sekitar Rp75.000 (5 ekor × Rp15.000) hingga Rp2.500.000 (25 ekor × Rp100.000). Angka ini belum mencakup penjualan kelinci dan produk pendukung, dan data harga pokok produksi (HPP) tidak diperoleh. Karena biaya promosi nol, struktur biaya usaha ini dominan berada pada pakan, alas kandang, dan perawatan hewan. Rentang tersebut hanya estimasi penulis dan perlu dikonfirmasi dengan catatan transaksi pemilik.

Strategi Wujud di Hamsterkite Penilaian

Secara keseluruhan, strategi pemasaran kreatif Hamsterkite terdiri dari enam unsur. Pertama, storytelling dan merek berangkat dari cerita usaha yang bermula di teras rumah, dengan pesan “dirawat seperti peliharaan sendiri”. Unsur ini dinilai kuat dan konsisten, meskipun tampilan visualnya masih perlu diperkuat. Kedua, konten kreatif dan edukasi berupa video pendek, before-after, unboxing, dan pemanfaatan audio yang sedang tren. Unsur ini dinilai efektif dan menjadi strategi yang paling berhasil.

Ketiga, dalam social commerce, pesanan dilayani lewat Direct Message dan WhatsApp dengan balasan di bawah satu jam. Layanan ini terasa personal, tetapi usaha belum memiliki live selling dan tautan belanja. Keempat, promosi dan harga dijalankan melalui paket starter, bonus, dan promo musiman. Pola ini sesuai dengan skala usaha, meskipun belum ada garansi hidup untuk menguatkan kepercayaan pembeli. Kelima, komunitas dan co-branding dibangun lewat grup hobi, bazar, dan testimoni pelanggan. Cara ini efektif secara lokal, tetapi kerja samanya belum bersifat formal. Keenam, nilai hijau diwujudkan dengan serbuk kayu alami, kemasan berventilasi yang dapat dipakai ulang, dan edukasi pembeli. Praktik ini sudah dijalankan, tetapi belum dikomunikasikan sebagai pembeda usaha.

Sumber: Analisis penulis berdasarkan hasil observasi.

4.8 Analisis Aspek Ekologis dan Nilai Hijau

Hasil observasi menunjukkan lima praktik yang berkaitan dengan nilai hijau: (1) pesan kesejahteraan hewan dan perawatan yang etis muncul dalam konten, (2) kemasan pengiriman berupa kotak berventilasi yang dapat digunakan ulang, (3) penggunaan serbuk kayu alami sebagai alas kandang, (4) edukasi pembeli agar tidak memperlakukan hewan secara sembarangan, dan (5) limbah serbuk kayu bekas kandang dibuang secara aman atau dikelola agar tidak mencemari lingkungan. Praktik ini menunjukkan bahwa usaha sudah berjalan sejalan dengan prinsip ecopreneurship, yaitu lingkungan dan kepedulian terhadap makhluk hidup menjadi bagian dari cara bekerja, bukan tambahan (Isaak, 2002).

Peluangnya adalah menjadikan praktik tersebut sebagai daya tarik pemasaran melalui konsep eco-friendly pet care: pembeli diedukasi untuk memakai perlengkapan kandang yang aman, alami, dan ramah lingkungan, serta mendukung adopsi hewan yang bertanggung jawab. Saat ini nilai hijau tersebut belum dijadikan identitas merek yang dikomunikasikan secara eksplisit. Jika dikemas menjadi konten tetap, misalnya “cara mengelola limbah kandang” atau “paket starter ramah lingkungan”, nilai ini dapat memperkuat pembeda yang sudah ada dan menarik pembeli yang peduli lingkungan.

4.9 Hambatan dan Peluang Pengembangan

Hambatan utama adalah keterbatasan jangkauan pengiriman hewan hidup secara daring, baik karena jarak maupun risiko stres hewan di perjalanan. Pemilik mengatasinya dengan pengiriman instan melalui kurir lokal atau ojek daring untuk area terdekat dan standar kemasan yang aman. Hambatan lain adalah ketergantungan pada satu pemilik, karena pembuatan konten, pelayanan pesan, dan perawatan hewan dikerjakan oleh orang yang sama, serta kegagalan iklan berbayar yang terlalu luas.

Peluang yang belum dimanfaatkan adalah live selling rutin dan etalase atau direktori adopsi daring. Pemilik berencana menjadwalkan live selling mingguan, memperbanyak kolaborasi konten dengan komunitas pencinta hewan, dan memperluas produk pendukung berupa aksesori kandang. Rencana ini selaras dengan temuan bahwa kreativitas pemasaran yang berkelanjutan berkontribusi pada kinerja pemasaran UMKM (Fatin et al., 2026).

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hamsterkite menerapkan strategi pemasaran kreatif yang efektif dengan biaya promosi nol. Kekuatannya terletak pada (1) storytelling dan identitas merek “dirawat seperti peliharaan sendiri”, (2) konten video pendek yang memadukan hiburan, edukasi, dan bukti kualitas, (3) layanan personal yang cepat melalui WhatsApp dan Direct Message, serta (4) kepercayaan yang dibangun lewat testimoni, komunitas, dan layanan purna jual. Menurut pemilik, strategi ini meningkatkan penjualan sekitar 25%. Dari perspektif ecopreneurship, usaha ini sudah menjalankan praktik ramah lingkungan dan peduli hewan, tetapi belum mengomunikasikannya sebagai pembeda pemasaran. Dengan demikian, model usaha ini layak dipertahankan dan dikembangkan pada skala rumahan, dengan catatan bahwa data penjualan dan biaya belum diverifikasi.

5.2 Saran

Bagi pelaku usaha, disarankan (1) menjadwalkan live selling mingguan dengan promo khusus, (2) menambahkan tautan belanja atau etalase adopsi daring, (3) menjalin kerja sama formal dengan dokter hewan dan toko perlengkapan, (4) mengemas nilai hijau menjadi konten tetap dan paket starter ramah lingkungan, (5) mempertimbangkan garansi hidup sebagai penguat kepercayaan, dan (6) mencatat penjualan, biaya, serta data jangkauan konten secara rutin sebagai dasar evaluasi. Iklan berbayar sebaiknya hanya dicoba kembali dengan penargetan lokasi yang sempit. Bagi akademisi dan peneliti selanjutnya, disarankan menambah jumlah narasumber dan pembeli sebagai responden, serta mengukur pengaruh strategi tersebut secara kuantitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Ainin, S., Parveen, F., Moghavvemi, S., Jaafar, N. I., & Shuib, N. L. M. (2020). Factors influencing the use of social media by SMEs and its performance outcomes. Industrial Management & Data Systems, 120(2), 284–303.

Barney, J. (1991). Firm resources and sustained competitive advantage. Journal of Management, 17(1), 99–120.

Dwivedi, Y. K., Ismagilova, E., Hughes, D. L., Carlson, J., Filieri, R., Jacobson, J., … Wang, Y. (2021). Setting the future of digital and social media marketing research: Perspectives and research propositions. International Journal of Information Management, 59, 102168.

Fatin, G. I., Fahrurrozi, M., & Zain, R. (2026). Pengaruh penggunaan media sosial bisnis dan orientasi pasar terhadap kinerja pemasaran melalui kreativitas pemasaran sebagai variabel intervening. Jurnal PROFIT: Kajian Pendidikan Ekonomi dan Ilmu Ekonomi, 13(1), 59–73. https://doi.org/10.36706/jp.v13i1.345

Isaak, R. (2002). The making of the ecopreneur. Greener Management International, 38, 81–91.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68.

Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2021). Marketing 5.0: Technology for humanity. Wiley.

Schaltegger, S., & Wagner, M. (2011). Sustainable entrepreneurship and sustainability innovation: Categories and interactions. Business Strategy and the Environment, 20(4), 222–237.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Nama Kelompok:

  1. Fania Havara-251010500471

  2. Nur Cantika Laila-251010500478

Universitas Pamulang