Minum Air Putih: Kebiasaan Sederhana dengan Dampak Besar bagi Kesehatan

program studi ilmu keperawatan fakultas kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nur Faikah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah aktivitas sehari-hari yang padat, banyak orang sering kali mengabaikan kebiasaan sederhana seperti minum air putih yang cukup. Padahal, kebutuhan cairan tubuh memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan fungsi organ dan kesehatan secara menyeluruh.
Menurut Masriani, et al. (2021), keseimbangan cairan sangat berpengaruh terhadap status hidrasi seseorang, terutama pada masyarakat di wilayah beriklim panas. Kondisi lingkungan dan aktivitas fisik dapat meningkatkan kebutuhan cairan, sehingga tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi apabila asupan air tidak mencukupi.
Dalam kondisi tertentu, dehidrasi sering kali tidak disadari sejak awal. Hakim dan Sulistyorini (2021) menjelaskan bahwa rendahnya asupan cairan berhubungan langsung dengan status hidrasi seseorang. Ketika tubuh kekurangan cairan, berbagai gangguan dapat muncul, mulai dari kelelahan hingga penurunan konsentrasi.
Dampak Kekurangan Cairan bagi Tubuh
Beberapa dampak yang dapat terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan antara lain:
• Penurunan konsentrasi dan fokus
• Tubuh mudah lelah
• Gangguan keseimbangan cairan tubuh
• Risiko gangguan fungsi ginjal
Sejalan dengan itu, Arista dan Wahyudin (2021) menekankan bahwa status hidrasi berhubungan dengan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Artinya, kecukupan cairan berperan penting dalam menjaga performa fisik.
Selain itu, Ibrahim, et al. (2024) menunjukkan bahwa dehidrasi dapat memengaruhi fungsi ginjal, terutama jika terjadi secara terus-menerus. Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk membantu proses penyaringan dan pembuangan zat sisa dalam tubuh.
Dalam praktik kesehatan, Dahrizal, et al. (2022) menegaskan bahwa pengelolaan cairan yang baik dapat membantu menjaga status hidrasi serta mencegah komplikasi, khususnya pada pasien dengan gangguan ginjal.
Tips Minum Air Putih yang Benar
Agar kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi dengan optimal, beberapa hal berikut dapat diterapkan:
• Minum secara bertahap sepanjang hari, bukan sekaligus dalam jumlah banyak
• Tidak menunggu rasa haus untuk mulai minum
• Menyesuaikan asupan cairan dengan aktivitas dan kondisi tubuh
• Membawa botol minum untuk membantu mengingat kebutuhan cairan
Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri minum air putih secara teratur setiap hari. Langkah sederhana seperti membawa botol minum atau membuat pengingat dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa minum air putih bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan kebutuhan penting yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh secara optimal. Kebiasaan sederhana ini dapat memberikan dampak besar bagi kualitas hidup sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Arista, L., & Wahyudin, A. A. (2021). Faktor-faktor yang berhubungan dengan status hidrasi mahasiswa profesi ners. Jurnal Ilmu Keperawatan Medikal Bedah, 4(2), 36–47. https://doi.org/10.32584/jikmb.v4i2.669
Dahrizal, D., Mardiani, M., & Maksuk, M. (2022). Efektivitas manajemen cairan terhadap status hidrasi pasien CKD. Journal of Health and Cardiovascular Nursing, 2(1) 28-35. https://doi.org/10.36082/jhcn.v2i1.353
Hakim, A. L., & Sulistyorini, L. (2021). RELATIONSHIP OF ENVIRONMENTAL PHYSICAL FACTORS AND LIQUID INTAKE WITH HYDRATION STATUS OF LONTONG HOME INDUSTRY SURABAYA. The Indonesian Journal of Public Health, 16(1), 79–88. https://doi.org/10.20473/ijph.v16i1.2021.79-88
Ibrahim, P. F., Umboh, V., & Manoppo, J. I. C. (2024). Gambaran Fungsi Ginjal pada Anak Penderita Diare dengan Dehidrasi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Medical Scope Journal, 6(2), 289–295. https://doi.org/10.35790/msj.v6i2.53577
Masriani, M., Muttalib, Y. S., & Yunianto, A. E. (2021). Keseimbangan Cairan Dan Status Hidrasi Remaja Di Kawasan Garis Lintang Ekuator 0°, Kota Pontianak, Pada Masa Ekuinoks Vernal, Tahun 2021. Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(2), 91–96. https://doi.org/10.33860/jik.v15i2.490
