Konten dari Pengguna

UMR Naik, Hidup Membaik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi uang minimum regional (sumber: https://pixabay.com/id/images/download/x-5082991_1920.jpg)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi uang minimum regional (sumber: https://pixabay.com/id/images/download/x-5082991_1920.jpg)

Ketika mendengar kabar UMR naik, mungkin yang pertama terpikir oleh pekerja adalah rasa lega. Ada harapan bahwa penghasilan akan lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, setelah melihat harga makanan, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah kenaikan UMR benar-benar membuat hidup pekerja menjadi lebih baik?

Pada 2026, pemerintah kembali menetapkan kenaikan upah minimum di berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah DKI Jakarta. UMP DKI Jakarta 2026 ditetapkan sebesar Rp5.729.876 per bulan, naik Rp333.115 atau sekitar 6,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut tentu menjadi kabar baik bagi pekerja. Namun, menurut saya, kenaikan upah seharusnya tidak hanya dilihat dari besar nominalnya, tetapi juga dari kemampuan upah tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Persoalannya, kebutuhan hidup setiap orang tidak berhenti ketika gaji naik. Pengeluaran untuk makan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan keluarga tetap harus dibayar setiap bulan. BPS sendiri menyediakan data pengeluaran rata-rata per kapita menurut provinsi yang menunjukkan bahwa pola dan besarnya pengeluaran masyarakat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Artinya, angka upah yang dianggap cukup di satu daerah belum tentu memiliki arti yang sama bagi pekerja di daerah lain.

Pemerintah juga menyadari persoalan tersebut. Dalam kebijakan upah minimum 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menekankan bahwa penetapan upah perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi daerah serta posisi upah terhadap Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pemerintah bahkan mengakui masih terdapat daerah yang upah minimumnya sudah mendekati KHL, tetapi ada juga yang masih berada di bawahnya.

Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa kenaikan UMR saja belum cukup untuk menjawab persoalan kesejahteraan pekerja. Pekerja memang membutuhkan tambahan penghasilan, tetapi mereka juga membutuhkan daya beli yang lebih baik. Jika gaji naik sementara sebagian besar kenaikan tersebut kembali habis untuk memenuhi kebutuhan pokok, perubahan yang dirasakan pekerja tentu tidak akan terlalu besar.

Namun, persoalan UMR juga tidak bisa hanya dilihat dari sisi pekerja. Perusahaan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Perusahaan besar mungkin lebih siap menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja, sedangkan perusahaan kecil dapat merasakan tekanan yang lebih besar. Mereka tetap harus membayar bahan baku, listrik, sewa, biaya operasional, dan kebutuhan lainnya. Karena itu, kebijakan upah perlu mempertimbangkan keberlangsungan usaha sekaligus hak pekerja untuk memperoleh penghasilan yang layak.

Di sinilah hubungan industrial menjadi penting. Menurut saya, pekerja dan perusahaan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai dua pihak yang berseberangan. Perusahaan membutuhkan pekerja untuk menjalankan kegiatan usahanya, sementara pekerja membutuhkan perusahaan sebagai sumber penghasilan. Hubungan yang sehat seharusnya mencari titik tengah agar pekerja mendapatkan kesejahteraan tanpa membuat perusahaan kehilangan kemampuan untuk berkembang.

Selain jumlah gaji, kesejahteraan pekerja juga berkaitan dengan lingkungan kerja, jaminan sosial, jam kerja yang wajar, keamanan dalam bekerja, dan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan. Jadi, kesejahteraan tidak seharusnya hanya diukur dari angka UMR yang diterima setiap bulan.

Pada akhirnya, saya melihat kenaikan UMR sebagai langkah yang positif, tetapi kenaikan angka saja belum cukup. Keberhasilan kebijakan upah seharusnya dilihat dari perubahan yang benar-benar dirasakan pekerja. Apakah kebutuhan mereka lebih mudah terpenuhi? Apakah daya beli meningkat? Dan apakah perusahaan masih mampu mempertahankan lapangan pekerjaan?

Bagi saya, UMR bukan sekadar angka yang tertulis di slip gaji. Di balik angka tersebut ada kebutuhan sehari-hari, keluarga, dan harapan untuk hidup lebih layak. Karena itu, ketika UMR naik, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya “berapa kenaikannya?,” tetapi “apakah hidup pekerja benar-benar ikut membaik?”