Konten dari Pengguna

Ketika Gengsi Lebih Mahal dari pada Kebutuhan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Nurrohma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui media sosial, kita dapat melihat berbagai gaya hidup, mulai dari penggunaan barang bermerek, tren pakaian, tempat nongkrong, hingga barang-barang terbaru yang sedang populer. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang kebutuhan dan keinginannya. Banyak orang yang akhirnya membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena ingin mengikuti tren atau tidak ingin dianggap ketinggalan zaman.

Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga oleh lingkungan sosial. Seseorang terkadang merasa perlu memiliki barang tertentu agar dapat diterima dalam pergaulan atau terlihat memiliki status sosial yang lebih tinggi. Misalnya, seseorang membeli ponsel terbaru meskipun ponsel yang dimilikinya masih berfungsi dengan baik. Keputusan tersebut mungkin bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Perkembangan ekonomi digital juga membuat perilaku konsumtif semakin mudah terjadi. Kehadiran e-commerce, dompet digital, promosi, dan berbagai diskon membuat masyarakat dapat berbelanja kapan saja dan di mana saja. Kemudahan ini tentu memberikan manfaat, tetapi juga dapat mendorong seseorang melakukan pembelian secara berlebihan apabila tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Akibatnya, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting justru habis untuk memenuhi gaya hidup.

Dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini memperlihatkan bahwa lingkungan sosial dan keinginan memperoleh pengakuan dapat memengaruhi perilaku ekonomi seseorang. Media sosial juga dapat membentuk standar gaya hidup tertentu yang membuat seseorang merasa harus memiliki barang atau pengalaman serupa dengan orang lain. Padahal, kondisi ekonomi setiap orang berbeda. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain justru dapat menimbulkan masalah keuangan dan membuat seseorang mengabaikan kebutuhan yang lebih penting.

Menurut saya, gengsi tidak seharusnya menjadi alasan utama dalam mengambil keputusan ekonomi. Kita perlu memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek barang yang digunakan, tempat yang dikunjungi, atau gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Kemampuan mengelola keuangan, memenuhi kebutuhan, dan menggunakan uang secara bijak jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Oleh karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu meningkatkan kesadaran dalam membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, kita sebaiknya mempertimbangkan manfaat barang tersebut, kondisi keuangan, dan apakah pembelian itu memang diperlukan. Kita juga perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh tren yang belum tentu sesuai dengan kemampuan ekonomi kita.

Pada akhirnya, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus mengikuti semua gaya hidup yang sedang populer. Menurut saya, keberhasilan dalam mengelola keuangan bukan tentang seberapa mahal barang yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jangan sampai gengsi membuat kita terlihat mampu di mata orang lain, tetapi justru kesulitan memenuhi kebutuhan sendiri.