Orang Tua Lelah: Militer Jadi Tempat Cuci Tangan Pendidikan Anak

saya adalah mahasiswa Hukum Tata Negara Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nurjuliani Rahmiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena ini mencerminkan pola pikir instan: ketika sistem pendidikan di rumah dan sekolah tidak berhasil, militer kerap dianggap sebagai solusi cepat. Barak menjadi simbol kedisiplinan, keteraturan, dan ketegasan—semua hal yang mungkin tak ditemukan dalam keluarga yang penuh konflik. Tapi, apakah kedisiplinan itu akan tumbuh secara sadar secara alami, atau justru menjadi trauma yang tersimpan rapat?. Tidak semua anak yang dikirim ke barak akan pulang sebagai pribadi yang lebih baik. Ada yang justru kehilangan kehangatan rumah, merasa ditolak, bahkan membenci figur otoritas. Mendidik bukan sekadar menegakkan aturan, tapi membangun hubungan dan memahami jiwa. Ketika proses itu dilompati, yang tumbuh bukan manusia utuh, melainkan pribadi yang tunduk karena takut, bukan karena sadar.
Orang tua yang menitipkan anak ke lembaga semimiliter kadang tidak menyadari bahwa mereka sedang “mencuci tangan” dari tanggung jawab emosional. Mungkin mereka lelah. Mungkin mereka tidak tahu harus bagaimana. Tapi menyerahkan pendidikan anak kepada sistem yang menekankan kepatuhan di atas dialog justru bisa menimbulkan luka yang lebih dalam dari yang terlihat
Anak-anak yang dianggap “nakal” sering kali hanya butuh didengar. Tapi, hal sederhana seperti ini sering kali diabaikan. Ketika seorang anak mencoba menyampaikan argumen di sekolah, justru dibantah atau dicemooh: “Kamu itu salah terus, nggak pernah benar, masa itu saja kamu ga bisa sih, ngomong apa sih” begitu juga di rumah, Ketika anak bicara jujur, orang tua justru merespons dengan kemarahan. Ia malah dianggap membangkang dan durhaka. Bagaimana mungkin seorang anak mau mendengar nasihat, jika berbicara pun ia langsung dihakimi?
Bagaimana anak bisa belajar mendengar jika mereka sendiri tidak pernah didengarkan?
Tak didengar, tak dipahami, dan akhirnya tak dihargai. Ketika suara mereka terus dibungkam, yang tumbuh adalah pemberontakan. Bukan karena mereka ingin melawan, tapi karena tidak tahu bagaimana cara bertahan. Maka, wajar jika anak menjadi tidak patuh. Namun, apakah itu murni salah anak? Tentu tidak. Banyak faktor yang membentuk sikap seorang anak.
Maka tak heran jika mereka membentuk sikap membangkang. Dan karena frustasi, baik guru maupun orang tua kadang memilih jalan pintas: memasukkan anak ke barak, dengan dalih “agar menjadi lebih baik”. Frustrasi orang tua atau guru sering kali berujung pada keputusan kilat: mengirim anak ke barak dengan harapan mereka “menjadi baik”. Tapi, apakah benar barak adalah solusi?
Padahal, anak-anak tidak sepenuhnya bersalah. Faktor keluarga, lingkungan, tekanan sosial—semua itu membentuk karakter mereka. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa ucapan mereka sendiri menyakiti, atau konflik dalam rumah tangga menciptakan luka diam-diam. Di sinilah akar masalahnya: bukan pada anak semata, tapi pada sistem yang membentuknya.
Barak mungkin terlihat efektif dalam jangka pendek. Anak-anak jadi lebih teratur, lebih disiplin, dan tampak “terarah”. Tapi jika mereka mulai merasa lebih dihargai di sana dibandingkan di rumah atau sekolah, bisa jadi mereka tak ingin kembali. Ini berbahaya. Mereka bisa kehilangan rasa hormat terhadap guru dan orang tua, dan memilih hidup dalam sistem yang keras. karena hanya di situlah mereka merasa diterima.
Pertanyaannya: apakah semua ini benar-benar hasil dari kenakalan anak? Atau justru hasil dari kegagalan orang dewasa dalam memahami mereka?
Apa sebenarnya tujuan Pendidikan?
Tujuan pendidikan sejatinya adalah membentuk manusia yang cerdas dan berbudi luhur. Tapi apakah hari ini kita justru mengganti nilai-nilai itu dengan sistem yang mengutamakan tekanan dan ketakutan? Apakah kita ingin anak menjadi patuh karena sadar, atau tunduk karena takut?
Laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah menyebut bahwa pengiriman anak ke lembaga dengan pendekatan militer tidak selalu berdampak positif. Bahkan, ada kasus anak yang pulang dalam kondisi lebih pendiam, cemas, dan kehilangan kepercayaan diri. Ini adalah sinyal penting bahwa metode yang keras tidak cocok untuk semua anak—terutama yang justru butuh perhatian emosional, bukan hanya disiplin fisik.
Potensi trauma pada anak sangat besar. Mereka bisa merasa diasingkan, bahkan tidak dicintai. Bisa tumbuh ketakutan bahwa setiap kesalahan akan berujung pada hukuman, bukan pembelajaran. Anak menjadi murung, tertutup, dan kehilangan kemampuan mengekspresikan diri. Ini bukan solusi jangka panjang, justru memperbesar luka dalam.
Jika anak merasa bahwa orang tuanya lebih rela menitipkan mereka ke barak daripada memahami mereka di rumah, apa yang akan mereka pelajari tentang cinta? Tentang kasih sayang? Tentang dunia?
Orang tua dan guru adalah dua figur penting dalam hidup anak. Sikap dan cara mereka merespons, membentuk dunia batin anak setiap hari. Dan di situlah pendidikan yang sesungguhnya dimulai, bukan dari barak, tapi dari mendengar dan memahami.
Anak-anak tidak lahir sebagai masalah. Mereka adalah cermin dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Ketika mereka tak didengar, jangan heran jika akhirnya mereka berteriak dalam bentuk pemberontakan. Mungkin mereka tak butuh barak. Mungkin mereka hanya butuh didengar.
Anak dianggap nakal, langsung dimasukkan ke barak. Tapi benarkah barak adalah solusi? Bisa jadi mereka cuma butuh didengar. Yuk baca artikel ini dan lihat apakah lembaga semimiliter benar-benar mendididik
