Konten dari Pengguna

Wirausaha Kecil, Mimpi Besar: Kisah Bapak dan Usahanya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Naeli Afwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Dokumentasi Bapak Sedang Berjualan. (Sumber: Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Dokumentasi Bapak Sedang Berjualan. (Sumber: Foto Pribadi)

Wirausaha dan Olos. Dua kata yang sering dianggap tidak berdampingan. Wirausaha identik dengan sesuatu yang besar, modern, dan menjanjikan. Sementara olos, jajanan yang berbahan dasar dari aci berisi sayur kol dan cabai pedas khas Tegal, sering dianggap remeh untuk disebut sebagai sebuah usaha. Padahal anggapan itu salah besar. Di balik bulir olos yang digoreng, ada kerja keras, strategi, dan mimpi. Bapakku adalah buktinya. Dia adalah wirausaha sejati, meskipun dagangannya hanya berupa olos usaha ini sudah mempunyai 3 cabang. Tulisan ini bukan sekadar kisah seorang ayah yang berjualan jajanan. Ini adalah sudut pandang seorang anak yang menyaksikan langsung bagaimana usaha kecil bisa menyimpan mimpi begitu besar menjadi sesuatu yang bernilai, bukan hanya secara materi tetapi juga secara makna.

Sejak kecil dapur rumah kami bukan sekadar tempat memasak tapi juga pabrik kecil tempat bapak meracik adonan setiap pagi. Tanganku akrab dengan tepung, olos bagi banyak orang di Tegal, memang identik dengan aci berisi kol dan cabai tapi usaha bapak mengubah olos sederhana menjadi sesuatu yang berbeda. Kini olos buatan Bapak punya banyak varian rasa yang belum pernah ada yaitu isi ayam, sosis, bakso, telor puyuh, dan kol cabai. Setiap varian punya cerita sendiri.

Kursi Terbaik Menyaksikan Perjuangan

Sebagai anak aku punya kursi terbaik untuk menyaksikan bagaimana Bapak membangun usahanya, melihat bagaimana dia bangun pagi buta jauh sebelum matahari terbit. Aku melihat tangannya yang kasar karena tepung dan minyak panas, bagaimana dia menghitung untung yang tipis tapi tetap tersenyum. Satu hal yang mungkin berbeda ketika seseorang melihat orangtua berwirausaha dari luar dengan kita melihatnya sebagai seorang anak. Pembeli mungkin melihatnya sebagai seorang pedagang biasa namun, saya melihat sosok yang setiap hari berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dan membangun sesuatu dari kemampuannya sendiri.

Melihat saat-saat sulit Ketika dagangan sepi dan saat harga bahan naik atau Ketika orang-orang meremehkan usahanya karena cuma jualan gorengan. Di saat itu Bapak percaya bahwa rezeki sudah diatur tugas kita cuma berusaha dan bersyukur. Kalimat sederhana tapi luar biasa, wirausaha bukan soal seberapa besar usahanya tapi seberapa besar keberanian untuk terus melangkah meski dianggap remeh.

Yang Kusampaikan pada Dunia Tentang Bapak

Aku menulis ini bukan hanya untuk sekadar bercerita, tidak akan pernah cukup kita seorang anak untuk berkata-kata apa yang bisa kita gunakan demi mengutarakan betapa bangganya memiliki orangtua yang hebat. Aku menulisnya sebagai bentuk dukungan moral untuk bapak, untuk semua orangtua di luar sana yang sedang berjuang. Wirausaha kecil seperti bapak adalah tulang punggung ekonomi bangsa. Mereka tidak menunggu bantuan, menciptakan peluang, bekerja, berinovasi. Aku belajar tentang kreativitas, bahwa dimana keterbatasan kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Pekerjaan orangtua layak untuk dihargai apa pun bentuknya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama dilakukan dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Sebesar apa usaha ini nantinya, namun saya percaya setiap usaha besar selalu memilih langkah pertama.

Bagi Bapak mungkin langkah itu dimulai dari dagangannya, bagi saya sebagai anak langkah saya dimulai dengan belajar menghargai dan mendukung perjuangan orangtua.