Konten dari Pengguna

Worker Vs Worrier: Struggle Anak Kuliahan Kerja Sambilan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Naeli Afwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Seseorang Sedang Kerja Part-time Sebagai Florist. Sumber: Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Seseorang Sedang Kerja Part-time Sebagai Florist. Sumber: Foto Pribadi

Kadang ada satu momen dimana kita sebagai anak kuliahan merasa bahwa kuliah bukan hanya datang, duduk, mendengarkan materi, lalu pulang. Ada kalanya yang bikin kita sadar “Dari pada cuma gini mending cari info loker aja deh” pikiran yang terbesit tiba-tiba muncul bukan suatu kebetulan. Kebutuhan untuk diri sendiri semakin banyak tapi tidak tega untuk meminta uang jajan lebih kepada orangtua, kerja Part-time jadi jalan Tengah yang paling masuk akal, tidak sepenuhnya mandiri tetapi setidaknya tidak selalu bergantung.

Dan dari sinilah narasi tentang anak kuliah pekerja mulai terbentuk. Sebuah realitas yang sering dianggap remeh, padahal menyimpan hal yang lebih dalam dari sekadar cari uang jajan. Keteguhan dan kecemasan anak kuliahan yang sedang diuji oleh ekonomi.

Bukan Sekadar Cari, Tapi Cari Harga Diri

Kesalahpahaman umum tentang mahasiswa yang kerja Part-time, mereka yang sering dibilang gaya-gayaan, cari perhatian, anak yang tidak bisa fokus kuliah. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam banyak alasannya. Banyak mahasiswa yang memilih keja Part-time bukan karena orangtua tidak mampu, tapi karena tidak mau terus- terusan meminta. Rasanya tidak nyaman ketika harus meminta uang tambahan ke orangtua padahal sudah jadi kewajiban mereka untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Jadilah kerja Part-time menjadi solusinya.

Era sekarang semua lulusan menuntut untuk punya pengalaman bekerja, karena masih menjadi mahasiswa yang bisa kita lakukan hanya mencari info loker meskipun itu hanya sekadar Part-time sebagai crew photobooth, kurir, atau penjaga toko saja tapi pengalaman bisa dicari meskipun dari pekerjaan yang kecil, lama-lama pengalaman itu akan terus bertambah. Disini juga kita mempelajari semuanya seperti bagaimana menghadapi pelanggan, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan belajar mengatur waktu. Semua itu dipelajari di lapangan, bukan hanya di ruang kuliah.

Tidak semua mahasiswa yang bekerja cuma karena ingin, sebagian mereka melakukannya karena harus, orangtua yang sedang kesulitan, biaya perantauan, dan kebutuhan yang semakin banyak. Bagi mereka Part-time bukanlah gaya hidup tetapi jadi strategi bertahan. Dibalik semua alasan itu semua, bekerja memberi mahasiswa rasa bahwa mereka bukan sekadar anak kuliahan yang meminta uang. Mereka punya kontrol atas hidupnya sendiri, bahkan sekecil apapun usahanya.

Gaji Kecil Menjadi Pelajaran Hidup

Kerja Part-time mungkin tidak akan membuat mahasiswa menjadi kaya. Gaji yang hanya cukup untuk jajan, transport, dan sedikit ditabung, namun dibalik angka kecil itu ada Pelajaran besar. Tentang tanggung jawab, menghargai uang, tentang bertahan di tengah ketidakpastian.

Fenomena ini para anak kuliahan sibuk mencari loker dan kerja Part-time bukanlah tanda kemunduran. Justru sebaliknya ini adalah tanda dimana generasi muda sedang belajar berdiri di atas kaki sendiri, sekecil apapun langkahnya. Saya sendiri pernah merasakannya menjadi crew photobooth part-time gaji pas-pasan tapi cukup untuk jajan dan kebutuhan sehari-hari.

Dari situ saya belajar bahwa kemandirian tidak diukur dari besar dan kecilnya penghasilan, tetapi dari keberanian untuk memulai. Dan bagi mereka yang masih meremehkan, mungkin sudah waktunya untuk berhenti menghakimi dan mulai memahami.